
Sementara itu di tempat lain, Samuel sudah tiba di sebuah kantor yang meskipun sudah larut malam tapi lampu kantor masih menyala. Kantor kedua milik Rizaldi grup ini juga tidak sebesar perusahaan Rizaldi. Dan hanya terdiri dari lima lantai saja.
Samuel tidak memarkirkan kendaraannya di area parkir yang berada di lantai paling bawah kantor. Tapi dia menepikan mobilnya di depan pintu utama kantor milik Teddy.
Dengan tergesa-gesa Samuel turun dari mobilnya dan berjalan masuk dengan langkah kaki lebar dan dengan tubuh tegap pandangan lurus ke depan matanya menampakan kalau dia sedang emosi.
Dua orang satpam yang berjaga di pintu utama menghadang Samuel agar tidak bisa masuk ke dalam.
"Maaf tuan, kantor sudah tutup. Hanya karyawan lembur saja yang masih di dalam!" ucap satpam itu dengan tegas.
Samuel hanya memandang satpam itu dengan tatapan tajam.
"Minggir!" seru Samuel.
Kedua satpam yang merasa diabaikan peringatannya oleh Samuel itu saling pandang beberapa detik kemudian satpam yang tadi berkata maju ke hadapan Samuel.
"Silahkan tuan keluar! sepertinya tuan datang dengan etiket tidak baik!" ucap satpam tadi.
Samuel marah mengepalkan tangannya dan rahangnya kelihatan mengeras.
"Jangan bicara etiket padaku. Panggil bos kalian. Panggil Teddy kemari!" saat ini Samuel sudah mulai meninggi kan ada suaranya ketika meminta para satpam itu memanggil Teddy kehadapannya kalau dia tidak boleh masuk ke dalam.
"Maaf tuan, tapi tuan Teddy sedang tidak ada di kantor!" jawab satpam yang satunya lagi. Yang berada di samping kiri Samuel.
"Berapa kalian dibayar untuk berbohong? aku lihat mobilnya di depan!" ucap Samuel yang sebelum memarkirkan mobilnya Di depan tadi dia sempat melihat mobil milik tadi karena itu dia tidak memarkirkan mobil miliknya di area parkir tapi tepat di belakang mobil Teddy.
Kedua satpam itu kembali saling pandang mereka mulai merasa sedikit cemas kalau Samuel akan membuat keributan.
"Sekali lagi kami mohon maaf, tapi tuan Teddy sedang sibuk. Sebaiknya tuan ini keluar!" ucap satpam itu masih berusaha bicara baik-baik pada Samuel untuk mengusirnya sebenarnya.
Samuel terkekeh pelan.
__ADS_1
"Apa kalian tidak tahu siapa aku? hah?" tanya Samuel dan kali ini dia bicara dengan membentak kedua satpam tersebut hingga kedua satpam itu terkesiap karena kaget.
"Siapapun anda tuan, tapi jika anda merupakan orang yang terhormat maka anda tidak akan melakukan hal seperti ini membuat kacau di kantor orang lain!" seru satpam itu.
Satpam satpam yang bekerja di kantor milik Teddy ini memang luar biasa mereka sangat pandai bicara dan juga tegas. Kalau saja sedang tidak sangat emosi kepada pemilik kantor ini mungkin Samuel akan memuji kinerja kedua satpam yang berada di hadapannya ini.
"Kalian cepat panggilkan Teddy, atau biarkan aku masuk!" teriak Samuel lagi.
Dan teriakan serta ucapan bernada tinggi dari Samuel pun menarik perhatian beberapa orang yang memang masih berada di kantor tersebut, beberapa orang itu berjalan ke arah lobi dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Lalu tak lama kemudian terdengar suara panggilan dari HT yang digunakan oleh kedua satpam yang menahan Samuel tadi.
"Siap komandan!" seru salah seorang satpam.
Kedua satpam itu lalu terlihat bicara tetapi sedikit menjauh dan berbisik dari Samuel, lalu salah seorang satpam yang tadi terus mengutarakan alasan agar Samuel tidak boleh masuk pun mendekati Samuel dan berkata kepadanya.
"Silahkan tuan Samuel, tuan Teddy bersedia menemui anda. Mari ikut saya!" ucap satpam itu sambil mengarahkan tangannya ke tempat di mana sama yang harus berjalan mengikutinya.
Tanpa bicara Samuel langsung mengikuti langkah kaki satpam yang bernama Paijo itu. Mereka menaiki lift ke lantai 5. Setelah pintu lift terbuka dan mereka telah tiba di lantai 5 satpam itu mengarahkan agar Samuel berjalan ke arah kanan masih terus mengikutinya. Sampai di ruangan paling pojok di lantai tersebut, satpam itu mengetuk pintu yang sedang tertutup yang di depannya terpampang tulisan direktur.
"Masuk!" terdengar suara dari dalam suara yang menyangkut itu adalah suara Teddy Rizaldi.
Satpam yang bernama Paijo itu langsung membukakan pintu untuk Samuel dia hanya mempersilahkan Samuel masuk tapi dia tidak ikut masuk ke dalam.
"Silahkan tuan!" ucapnya masih dengan ada sopan dan raut wajah yang tenang.
Samuel langsung masuk ke dalam dan saat dia masuk dia mendapati Teddy sedang duduk di tepi meja kerjanya sendiri sambil memegang sebuah dokumen yang berada dalam sebuah map berwarna kuning.
"Tuan Samuel, ada hal penting apa sampai malam-malam begini repot-repot datang ke kantorku dan menemuiku?" tanya Teddy berbasa-basi.
Samuel yang sejak tadi sudah mengeraskan rahangnya saat ini justru menggerakan kan giginya sangking emosi kepada pria didepannya itu.
__ADS_1
"Kenapa membawa masalah pribadi pada pekerjaan?" tanya Samuel geram.
Tapi bukannya langsung menjawab pertanyaan dari Samuel dan langsung pada intinya saja, Teddy malah memperlihatkan ekspresi bingung tapi Samuel tahu kalau ekspresi itu adalah ekspresi yang dibuat-buat.
"Apa maksud mu tuan Samuel? aku tidak mengerti?" tanya Teddy dengan wajah yang seperti tidak punya salah atau dosa sama sekali.
Samuel makin geram, dia kembali mengepalkan tangannya tapi dia berusaha untuk menahan amarahnya karena dia sadar Dia sedang berada di daerah kekuasaan orang lain.
"Sebaiknya kamu benar tidak tahu tentang hal ini? tapi aku ragu tentang itu. Kenapa membuat Lusiana mengundurkan diri dan menghilang?" tanya Samuel langsung pada inti permasalahan dan tujuannya datang ke tempat ini.
"Lusiana? siapa itu Lusiana?" tanya Teddy ya masih saja berpura-pura polos dan tidak tahu apa-apa.
Samuel makin geram dia mulai berjalan mendekat kearah Teddy dan meraih dokumen yang sedari tadi dipegang oleh pria tersebut.
Brakk
Samuel melemparkan dokumen itu ke lantai sehingga berkas berkas yang ada dalam tersebut berantakan tercecer di lantai. Teddy yang ikut kesal pun segera memelototkan matanya kepada Samuel dan berteriak kepadanya.
"Jangan kurang ajar tuan Samuel, kamu masih ku anggap tamu di sini jadi persekapas layaknya seorang tamu!" tegas Teddy.
"Aku sudah muak dengan sikapmu ini, aku kemari hanya ingin mengatakan sesuatu yang harus kamu dengar baik-baik, dan camkan ini dengan baik!" seru Samuel.
Kali ini gantian Teddy yang mengepalkan tangannya karena geram pada Samuel.
Samuel melihat dengan tatapan yang sangat tajam pada Teddy.
"Naira adalah istriku, Naira putri itu sangat mencintai ku dan aku juga sangat mencintai nya. Jangan berharap kamu bisa mengganggu kedamaian rumah tanggaku. Karena aku Samuel Virendra, tidak akan membiarkan siapapun mengganggu istriku dan juga keluargaku. Paham!" bentak Samuel yang membuat Teddy mendengus kesal.
Setalah mengatakan kalimat itu, tanpa menunggu reaksi dan kata-kata dari Teddy, Samuel segera berbalik dan meninggalkan ruangan kantor direktur milik Teddy. Sedang kan Teddy dia merasa sangat kesal bahkan mengajak mengajak seluruh benda-benda yang berada di atas meja kerjanya saking kesalnya.
Author POV end
__ADS_1
***
Bersambung...