
Riksa masih berada di ruang meeting, dia memang sibuk sekali hari ini. Tapi di sela-sela meeting dia selalu melihat ke arah jam dinding yang terpajang di salah satu dinding ruang meeting. Karena hari ini Samuel cuti untuk menghabiskan hari bersama sang istri, Riksa yang harus menangani semua urusan pekerjaan.
Tadi siang bahkan dia juga sudah meeting, setelah itu menemui Puspa untuk makan siang bersama dan mengajaknya makan malam bersama. Dan setelah itu saat Samuel menghubunginya untuk datang ke kantor polisi, Riksa hanya menanyakan apa yang terjadi dan setelah itu mengirimkan Didi, pengacara kepercayaan nya untuk menangani kasus perkelahian di toko buku ko Acong karena dia harus kembali meeting dengan klien penting perusahaan.
Riksa benar-benar sudah tidak sabar menunggu hingga malam dan pergi bersama Puspa. Hal ini juga bukan tanpa alasan, jika sebelumnya dia selalu memendam perasaan nya pada Puspa karena Adam mengatakan padanya kalau Adam juga menyukai Puspa dan meminta Riksa sadar diri dan mengalah. Tapi peristiwa yang dia alami kemarin membuatnya berubah pikiran.
Flashback ON
Riksa sedang mengendarai mobil dari arah perusahaan menuju ke apartemen miliknya. Ini sudah larut malam dan dia juga sangat lelah setelah seharian membantu Samuel dan mengurus masalah perusahaan.
Riksa melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Tapi di tengah perjalanan dia menghentikan laju mobilnya ketika seorang pria menghadangnya dengan merentangkan kedua tangannya dan memintanya untuk berhenti.
Pria itu nampak sangat panik, seluruh pakaiannya basah. Riksa lalu melepaskan sabuk pengaman setelah mematikan mesin mobilnya, dia keluar dan pria itu langsung menghampiri nya.
"Tuan, tuan aku mohon tolong aku. Tolong aku tuan?" ucap pria itu sambil terus berusaha meminta Riksa mengikuti langkahnya.
Riksa bingung tapi dia lihat pria itu bahkan sudah menangis.
"Ada apa tuan?" tanya Riksa bingung.
Riksa mengikuti pria yang berlari di depannya itu, badannya basah kuyup. Dan dia berlari ke arah sebuah danau yang ada di dekat jalan raya itu. Pria itu menggendong seorang wanita yang sudah tak sadarkan diri dengan seluruh tubuh yang basah juga.
"Tolong antar kan kami ke rumah sakit tuan!" pinta lelaki itu.
Riksa langsung kembali berlari ke arah mobil dan membuka pintunya dengan cepat. Setelah pria itu masuk ke dalam mobil. Riksa dengan cepat menutup pintu mobilnya dan dengan cepat berlari ke arah pintu mobil bagian pengemudi. Setelah masuk ke dalam mobil Riksa lalu dengan cepat melajukan mobilnya ke arah rumah sakit terdekat.
Riksa tetap fokus mengemudi meskipun terkadang dia melihat melalui spion yang ada di dalam mobil ke arah pria yang terus menangis dan memeluk wanita yang sedang pingsan dan tak sadarkan diri itu. Pria itu terus menyebut kata 'Sarah' yang Riksa yakini sebagai nama si wanita. Dan dia terus meminta maaf pada Sarah.
__ADS_1
"Maafkan aku Sarah, maafkan aku. Bertahan lah Sarah aku mohon. Aku mohon...!" begitulah yang di ucapkan pria itu sambil terus menangis pilu memeluk si wanita.
Riksa yang hanya melihatnya saja merasa sangat sedih dalam hatinya. Beberapa menit kemudian Riksa sampai di rumah sakit. Dia langsung menepikan mobilnya di depan pintu utama, dan langsung berlari masuk memanggil para petugas rumah sakit.
Para petugas juga dengan sangat cepat membawa wanita itu ke dalam ruang ICU. Riksa yang hendak pergi, menjadi tidak tega melihat sang pria yang bahkan terduduk lemah di lantai di depan ruang ICU dan masih terus menangis.
Bahkan ketika ada salah seorang perawat memintanya mendaftar ke bagian administrasi, pria itu seolah tak mendengar si perawat dan hanya menangis dan menyesal. Akhirnya Riksa yang menyelesaikan masalah administrasi, sudah dua puluh menit berlalu dan belum ada tanda-tanda kalau akan ada kabar dari dalam ruang ICU. Riksa akhirnya membeli sebotol air mineral dan memberikannya pada pria itu.
"Ini, minum dulu!" ucap Riksa pada pria itu.
Pria itu mendongak ke atas, dan dia baru sadar kalau dia telah sangat merepotkan Riksa.
Riksa duduk di sebelah pria itu, di lantai juga. Dan membuka tutup botol air mineral yang dia pegang.
"Minumlah, setidaknya kamu harus tetap kuat kan. Saat wanita mu itu sudah sadar...!"
"Baiklah, maafkan aku tapi bisa aku tahu siapa nama mu?" tanya Riksa.
"Aku Galih, dan dia Sarah. Tuan, aku sangat bersalah padanya. Kami berdua saling mencintai, aku tahu dia sangat mencintai ku dan aku juga sangat mencintai nya. Tapi aku malah memaksanya mengakhiri hidupnya!" lirih pria bernama Galih itu dengan tangisan yang makin menyayat hati.
Riksa terkejut.
"Apa maksud mu?" tanya Riksa begitu penasaran.
"Dia sudah menyatakan perasaannya berulang kali padaku, tapi aku ini hanya anak dari supir ayahnya tuan. Aku merasa aku tidak pantas baginya, sampai akhirnya dia mengatakan kalau tidak dengan ku maka dia tidak akan menikah dengan pria lain!" ucap Galih menceritakan kisahnya dengan Sarah pada Riksa.
Deg
__ADS_1
Jantung Riksa tiba-tiba merasakan perasaan yang begitu tidak enak. Ucapan wanita bernama Sarah itu sama persis dengan apa yang pernah Puspa katakan padanya. Puspa juga pernah bilang kalau tidak dengannya, tidak dengan Riksa. Maka Puspa juga tidak akan pernah menikah.
Riksa menjadi gemetar ketika mengingat hal itu. Apalagi saat Galih meneruskan ceritanya.
"Dan keluarga Sarah ingin dia menikah dengan salah satu anak dari teman ayahnya, Sarah mengajak ku lari dengannya tapi aku menolak dan akhirnya dia nekat. Aku memang bodoh tuan, aku sungguh bodoh! aku bahkan tidak akan bisa hidup tanpanya!" lirih Galih lagi.
Riksa semakin merasa dadanya sesak. Usia Puspa sudah akan 27 tahun, dan pasti kedua orang tua nya akan memintanya untuk menikah. Riksa sangat panik bagaimana kalau Puspa juga melakukan hal yang sama dengan wanita bernama Sarah itu. Riksa mengusap wajahnya dengan kasar.
Dan tiba-tiba saja, dokter keluar dari ruang ICU. Dokter itu melepas masker dan sarung tangan medis yang dia pakai.
Galih langsung berdiri dan menghampiri sang dokter.
"Dokter, bagaimana Sarah dokter. Dia selamat kan dokter, aku mohon katakan padaku kalau dia selamat dokter?" tanya Galih dengan sangat panik.
Dokter itu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Mohon maaf, kami telah berusaha semaksimal mungkin. Tapi nona Sarah, dia sudah meninggal dunia!"
"Sarah!!!!" pekik Galih lalu berlari masuk ke dalam ruang ICU.
Riksa yang menyaksikan semua itu terhuyung ke belakang. Dia menggeleng beberapa kali.
"Tidak, aku tidak ingin kehilangan dia, aku tidak ingin kehilangan Puspa!" gumam Riksa yang sudah menyadari kalau dia bisa saja kehilangan Puspa seperti Galih kehilangan Sarah.
Flashback OFF
***
__ADS_1
Bersambung...