Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
260


__ADS_3

Samuel begitu antusias ketika melihat jemari Adam bergerak perlahan. Samuel segera keluar dan memanggil dokter yang kebetulan berada tidak jauh dari ruang kamar rawat Adam.


Setelah di periksa, Adam pun benar-benar telah sadar. Matanya sudah terbuka, dokter memeriksa nya dengan intensif, Samuel bahkan sudah menghubungi seluruh keluarga dan mereka semua pun sudah hadir di tempat itu.


Namun ada hal yang membuat semua orang merasa cemas terutama Stella dan Damar. Karena sejak mereka masuk Adam sama sekali tidak merespon sapaan dari siapa pun. Dia hanya melihat kearah dokter. Dan yang lebih membuat semua orang terkejut adalah ketika pak Rama masuk terakhir dari yang lain dan bertanya.


"Nak Adam sudah sadar, alhamdullilah!" seru Rama yang mengusap wajahnya lega dengan kedua tangannya.


Tapi bukan itu yang membuat semua orang terkejut, melainkan jawaban yang diberikan oleh Adam.


"Nak Adam? siapa Adam?" tanya Adam dengan. wajah kebingungan.


Dokter dan perawat yang memeriksa pun memutuskan untuk mengobservasi lebih lanjut lagi Adam. Bahkan sang dokter meminta perawat yang bersamanya untuk menyiapkan ruang Rontgen secepatnya. Mendengar semua itu Samuel langsung mendekati dokter Antonius, dokter yang menangani Adam sejak masuk ke rumah sakit ini.


"Ada apa ini dokter? apa yang terjadi pada Adam?" tanya Samuel yang begitu cemas pada kondisi sang adik.


"Mohon maaf, kami sama sekali tidak menduga hal ini. Dari pemeriksaan menyeluruh yang kali lakukan tidak menemukan kemungkinan ini karena seluruh sistem saraf di kepala pasien baik dan normal. Kami akan melakukan Rontgen sekali lagi untuk memastikan kalau pasien benar mengalami Amnesia atau tidak!" jawab dokter Antonius yang sama terkejutnya dengan mereka.


Pengalaman nya bekerja selama lebih dari 15 tahun membuatnya merasa sedikit aneh dengan hal ini. Namun dia juga menyadari kalau tidak ada yang mustahil di dunia ini. Itulah yang membuat dokter Antonius pada akhirnya memilih memeriksa sekali lagi secara menyeluruh. Karena mang kepala Adam terbentur cukup keras di setir kemudinya.


"Amnesia? mas, Adam mas!" lirih Stella yang air matanya sudah membanjiri wajahnya lagi. Stella memeluk lengan Damar dengan sangat erat seakan menyandarkan seluruh hidupnya pada Damar.


Damar pun merangkul Stella dan mengusap lengan Stella beberapa kali. Naira dan juga keluarga nya juga sama terkejutnya dengan yang lain. Apalagi melihat Samuel yang begitu cemas membuat Naira juga menjadi sangat sedih. Namun tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu hasil pemeriksaan selanjutnya dan berdoa yang terbaik bagi Adam.


Sementara itu di kantor, Riksa dan Adi yang mendapat kabar dari Samuel kalau Adam hilang ingatan alias geger otak alias amnesia pun merasa begitu terkejut. Namun Adi justru tampak menghela nafas lega.


"Ini juga hal bagus Riksa!" seru Adi yang membuat Riksa melotot padanya.


"Jangan macam-macam kamu Adi? bagaimana bisa Adam amnesia itu adalah hal bagus?" tanya Riksa dengan nada sedikit kesal dengan apa yang dikatakan rekannya itu.


"Dengarkan aku dulu!" seru Adi mengangkat kedua tangannya di depan Riksa.


"Tenang dulu, aku tidak bermaksud mensyukuri hal ini. Namun kalau Adam amnesia maka tuntunan padanya dapat di tangguh kan!" jelas Adi.

__ADS_1


Riksa yang mendengar penjelasan Adi pun terdiam dan berpikir sejenak. Memang benar apa yang dikatakan Adi, kalau ini juga baik untuk Adam sementara waktu ini.


"Lalu bagaimana dengan Samuel?" tanya Riksa.


Adi mengangkat bahunya sekilas.


"Bos juga masih aman kan? selama orang tua atau Vina sendiri tidak menuntutnya atas tindakannya mengambil keputusan itu. Dia masih aman!" jelas Adi.


Namun Riksa masih merasa cemas, dia bahkan mencurigai hal itu.


'Adam amnesia, ini benar atau dia hanya bersandiwara?' tanya Riksa dalam hati.


Keesokan harinya...


Naira memilih untuk terus menemani Samuel di rumah sakit. Mereka bahkan menyewa satu kamar lagi yang berada di sebelah kamar rawat Adam untuk Samuel dan Naira. Sementara Stella dan Damar beristirahat di kamar rawat Adam.


Sejak pagi Stella sudah berada di sisi Adam yang masih tertidur. Stella memandangi terus wajah putranya itu sambil sesekali mengusap air matanya. Hingga dokter masuk dan memberikan hasil laporan medis Adam.


"Jadi bagaimana hasilnya dok?" tanya Stella sementara Damar memanggil Samuel dan juga Naira di ruangan sebelah.


Stella terduduk lemas di kursinya sambil memegang tangan Adam.


"Adam!" lirih Stella.


Samuel yang juga sudah tiba dan mendengar semua yang dikatakan oleh dokter juga langsung mendekati Adam.


Sementara itu di kamar lain, pagi yang sunyi mendadak jadi sangat riuh karena kedatangan Kevin Rahardja dan juga istrinya Lisa Rahardja beserta para bodyguard mereka.


"Kenapa ini bisa terjadi, siapa yang telah menabrak putriku?" tanya Kevin pada Jodi dan juga Caren yang berada di tempat itu. Mereka juga tidak pulang dan terus menjaga Vina, lebih tepatnya menunggu kedatangan ayah Vina.


"Om, Vina di tabrak!" jawab Caren dengan Isak tangis yang begitu ekspress. Bahkan kecepatan dia menangis mengalahkan kecepatan kilat khusus.


Lisa yang terus memeluk anaknya sambil menangis pun semakin terkejut ketika Caren mengatakan.

__ADS_1


"Pelakunya anak bungsu keluarga Virendra Tante, sampai saat ini bahkan tidak ada niat baik dari mereka menjenguk atau sekedar meminta maaf Tante!" ucap Caren dengan ekspresi wajah sedih dan air mata yang terus berlinangan di wajahnya.


Mendengar hal itu tentu saja Lisa mengepalkan tangannya kuat.


"Kasihan sekali kamu sayang, maafkan ibu yang tidak ada di saat kamu mengalami hal seperti ini!" lirih Lisa sambil memeluk putrinya yang belum membuka mata.


"Panggil dokter yang menangani Vina!" perintah Kevin pada Jodi.


Jodi pun segera melaksanakan perintah dari sang calon mertua. Beberapa saat kemudian Jodi kembali dengan seorang dokter wanita.


"Selamat pagi!" sapa dokter Mariana dengan ramah.


"Jelaskan bagaimana kondisi putriku!" perintah Kevin dengan sangat arogan.


"Kondisi pasien sebenarnya sudah melewati masa kritis, kita hanya perlu menunggu pasien sadar. Meski saat datang pasien mengalami pendarahan namun tidak ada patah tulang atau retak di bagian lain. Hanya saat itu pendarahan terus terjadi dari rahim pasien, sepertinya akibat benturan yang sangat keras saat kecelakaan. Dan kami pun harus mengambil tindakan medis yaitu dengan mengangkat rahim pasien...!"


"Apa?" pekik Lisa tak percaya dengan apa yang dia dengar.


Lisa langsing beralih dari Vina menuju ke arah dokter Mariana.


"Bagaimana bisa kamu melakukan operasi pengangkatan rahim putriku tanpa persetujuan kami?" tanya Lisa dengan suara lantang dan menggelegar.


Dokter Marian benar-benar terkejut mendengar pertanyaan dari Lisa.


"Maaf nyonya, tapi kondisinya sangat urgent saat itu. Jika kamu terlambat sedikit saja nyawa pasien tidak akan tertolong!" jelas dokter Mariana pada Lisa.


"Siapa yang bertanggung jawab atas ini?" tanya Kevin dengan wajah dingin membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu merasa kalau akan ada badai besar yang akan terjadi


"Samuel om, anak sulung keluarga Virendra!" jawab Jodi dengan cepat.


Setelah mengatakan itu, Jodi terlihat menyeringai penuh kemenangan.


'Habislah kalian keluarga Virendra!' batin Jodi begitu puas dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2