Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
22


__ADS_3

Author POV


Setelah Naira memilih cincin pernikahan untuk nya dan Samuel, Riksa dan pelayan toko itu sedikit heran. Dan menatap Naira dengan tatapan penasaran.


"Kamu bahkan memilih yang paling sederhana dan paling murah Nai? kenapa?" tanya Riksa terus terang.


Naira meletakkan kembali kotak yang tadinya dia pegang kembali ke tempatnya semula, berada di paling pojok di antara susunan banyak cincin yang lain.


"Riksa, jujur ya. Aku tuh gak pernah pakai cincin. Terakhir kali aku pakai cincin itu kelas 6 SD. Dan apa kamu tahu, aku menghilangkan nya saat mencuci piring. Ibu sangat marah dan menghukum ku karena aku terlalu ceroboh!" cerita Naira pada Riksa.


Pemuda tampan itu tampak serius mendengarkan, tapi pelayan toko berkacamata itu malah menggaruk kepalanya yang tidak ada sehelai rambut pun tumbuh disana karena merasa bingung, dia merasa apa yang dikatakan Naira itu bukanlah jawaban dari pertanyaan Riksa.


"Aku tahu cincin yang paling murah disini juga pasti harganya belasan juta, itu ada tulisannya. Yang ku pegang tadi 19 juta, dan itu yang paling murah. Kamu tahu kan aku ceroboh, aku takut akan menghilangkan nya dan bos mu itu minta ganti rugi padaku!" jelas Naira.


Riksa terkekeh, tapi si pelayan botak itu malah terlihat sangat terkejut bahkan dia melebarkan matanya.


'Apa benar tuan muda pertama keluarga Virendra itu begitu perhitungan? bahkan pada istrinya sendiri?' tanya pelayan itu dalam hati.


Tapi apa yang dia sangka seperti nya tidak benar, karena dia melihat sekertaris pribadi Samuel yang terkekeh sejak Naira mengatakan alasan nya tadi.


"Nai, kamu istrinya. Kamu nyonya Samuel Virendra. Tidak mungkin kan kalau dia meminta ganti rugi hanya untuk masalah sepele semacam itu?" tanya Riksa pada Naira.


Dan mendengar pertanyaan Riksa itu, si pelayan tak berambut di kepala nya itu kembali menggaruk kepalanya karena masih bingung.


Sementara Naira hanya terdiam sesaat.


"Benarkah? dia tidak akan meminta ganti rugi jika aku menghilangkan cincin pernikahan kami nantinya?" tanya Naira pada Riksa memastikan apa yang dikatakan Riksa itu akan benar seratus persen.

__ADS_1


Riksa langsung mengangguk kan kepala nya yakin.


"Tentu saja benar!" tambahnya.


Dan jawaban Riksa membuat mata Naira berbinar, sebenarnya dia juga menyukai cincin yang lain, bentuknya mahkota dan berlian berwarna kebiruan disana. Tapi saat dia melihat harganya itu puluhan juta, makanya dia mengurungkan niatnya tadi. Namun setelah Riksa membuatnya yakin kalau si lidah tajam itu tidak akan meminta ganti rugi. Maka Naira meraih kotak yang berisi cincin yang dia sukai di dalamnya dan memberikan nya kepada Riksa.


"Yang ini bagaimana?" tanya Naira dengan senyuman yang lebar.


Riksa meraih kotak itu dan memperhatikan nya, masalah nya bos nya juga berpesan agar design cincin pernikahan nya tidak terlalu rumit dan mencolok. Dan kelihatan nya pilihan Naira juga sesuai dengan apa yang di katakan oleh bos nya.


Pelayan toko pun tersenyum senang, meski itu bukan cincin yang paling mahal, tapi puluhan juta itu akan membuatnya mendapatkan bonus, jika dia berhasil menjualnya pada nyonya Virendra yang tersenyum senang di depannya itu.


"Bagaimana tuan, apa anda juga menyukai pilihan nyonya Virendra?" tanya Pelayan toko itu sangat sopan dan berhati-hati.


"Itu adalah berlian dari pengrajin terbaik di Rusia, dan kami memang hanya memesan satu saja tiap design nya. Kami menjamin tidak akan ada yang akan memakai cincin yang sama di seluruh Indonesia!" jelas pelayan toko itu panjang lebar.


"Baiklah, kami ambil yang ini!" seru Riksa.


"Baiklah, sekarang saya akan ukur jari nyonya. Tapi tuan Riksa, bagaimana dengan ukuran jari tuan Samuel?" tanya pelayan toko yang sedikit bingung bagaimana mengukur ukuran jari Samuel jika dia tidak ada disini.


Naira hanya diam karena memang dia tak tahu harus bicara apa. Tapi lagi-lagi Riksa malah tersenyum.


"Pakai ukuran jari ku, diameter jari ku dan bos sama. Hanya panjangnya saja berbeda!" jelas Riksa.


Dan membuat si pelayan toko seperti tersenyum dan menghela nafas lega. Tentu saja akan jadi PR yang cukup merepotkan jika tidak menyelesaikan pekerjaan ini tepat waktu. Bos Samuel itu terkenal sangat arogan dan tidak segan menghukum siapa saja yang tidak bisa melakukan apa yang dia ingin dan perintah kan.


Proses pengukuran pun selesai, besok cincin itu harus sudah jadi. Karena pernikahan mereka itu tiga hari dari sekarang. Jadi semua harus cepat dan tepat.

__ADS_1


Riksa mengajak Naira keluar dari toko besar itu. Dan saat hendak pergi, dia menoleh lagi ke arah toko itu. Riksa menyadari perubahan sikap Naira, maka dia pun bertanya apa yang sebenarnya tengah mengganggu perasaan Naira.


"Ada apa? kamu berubah pikiran? mau pilih model yang lain?" tanya Riksa lembut meskipun sekali bertanya dia menanyakan tiga pertanyaan sekaligus.


"Aku melihat nya, foto wanita bernama Caren itu. Kamu bilang dia seorang designer kan? apa dia itu designer perhiasan?" tanya Naira pada Riksa, seperti nya dia sedang memastikan suatu hal.


"Iya, benar. Dimana kamu melihatnya? aku tidak!" ucap Riksa sedikit cemas.


"Di dalam, di belakang mu duduk tadi. Dia bahkan sangat cantik, dan di sana tertera nama Caren Mikaila. Namanya cantik, secantik orangnya. Dan kalau kamu perhatikan, cincin yang berliannya berwarna ungu sangat besar tadi itu, nama Caren juga tertera di label harganya tadi!" jelas Naira membuat Riksa terkesiap mendengar apa yang gadis di sampingnya itu katakan.


Riksa begitu terkejut, Naira bisa memahami berbagai hal dan begitu kritis. Padahal dirinya tidak menyadari semua itu meskipun tadi dia juga memperhatikan cincin berlian itu satu persatu. Riksa berfikir, kalau ternyata Naira itu adalah gadis yang sangat perasa dan sensitif.


"Dan apakah kamu sedih?" tanya Riksa lirih.


Naira langsung menggelengkan kepalanya.


"Bukan begitu, hanya saja aku berfikir. Dia sangat sempurna, cantik, tubuhnya sangat bagus, dia pasti pintar karena bisa mendesign perhiasan secantik dan seindah itu, dia juga punya cinta tulus si lidah tajam padanya, tapi kenapa dia terdengar begitu buruk dalam bersikap pada keluarga bos mu. Seandainya saja dia bisa merubah sikapnya itu, dia dan bos mu pasti akan hidup bahagia kan? dan tak perlu ada aku yang harus hadir di tengah mereka?" tanya Naira dengan tatapan mata sendu.


Riksa tak bisa berkata-kata, dia hanya tersenyum lirih.


"Tapi sudahlah, semua orang itu pasti punya kekurangan dan kelebihan nya kan?" tanya Naira lagi bahkan tanpa sadar dia sudah menjawab pertanyaan nya sendiri.


Author POV end


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2