
Gerai ayam goreng yang aku datangi ini sangat ramai, mungkin karena sedang ada demonstrasi, mungkin juga beberapa orang yang ada di sini adalah orang-orang yang ikut demonstrasi. Hari ini bukan tanggal merah, yang artinya hari ini bukan hari untuk memperingati apapun, aku juga tidak mengerti kenapa mereka berdemonstrasi hari ini.
Ku lihat dari apa yang mereka gunakan dan juga mereka pakai, mereka juga bukan mahasiswa, sepertinya. Aku berdiri di barisan entah nomor berapa ini, tapi tidak terlalu lama kurasa aku akan segera dapatkan ayam goreng yang ingin aku makan.
"Masih lama gak sih demo nya?" tanya salah seorang wanita yang menggunakan hijab berwarna oranye di depan ku.
"Gak tahu, mana nasi kotaknya gak dateng-dateng. Laper banget nih!" sahut wanita yang ada di depannya lagi.
Dari percakapan mereka aku menangkap bahwa demonstrasi ini bukan benar-benar mereka ingin lakukan, bukan benar-benar keinginan mereka. Jika ini adalah keinginan mereka tentu mereka tidak akan mengeluh bukan.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tiba giliran ku. Aku membeli empat potong ayam goreng bagian paha dan juga dua botol minuman ringan. Setelah selesai aku pun berbalik dan mencari keberadaan mobil yang dikemudikan oleh Pak Urip. Cukup lama aku mencari, ternyata mobil yang dikemudikan oleh Paulus sudah berada jauh di depan, mungkin aku yang sudah lama di berada di tempat ini.
Saat akan berjalan mendekati mobil pak Urip, tidak jauh dari gerai ayam goreng aku melihat sebuah apotek. Aku ingat kata Riksa, kalau sebaiknya aku harus mengkonsumsi vitamin A agar mataku tidak lagi rabun saat petang.
Karena kulihat jalanan juga masih macet, dan mobil yang dikemudikan oleh Pak Urip hanya bergerak centi demi centi, maka aku putuskan untuk masuk ke dalam apotek dan mencari vitamin A.
"Selamat siang! ada yang bisa kami bantu?" tanya petugas di apotek itu dengan sangat sopan, mereka juga tersenyum sangat ramah.
Aku masuk ke dalam, kemudian mengatakan apa yang ingin ku beli.
"Mbak, ada vitamin A?" tanya ku pada salah satu petugas apotek yang jaraknya paling dekat dengan tempat aku berdiri.
"Ada, untuk anak-anak atau untuk orang dewasa?" tanya nya lagi.
Inilah yang aku sukai jika berbelanja obat di apotek. Para apoteker sangat kritis, jadi aku lebih merasa aman jika berbelanja obat di apotek.
__ADS_1
"Untuk dewasa mbak!" jawab ku cepat.
"Sebentar ya!" ucapnya lalu berbalik dan mengambil beberapa contoh obat yang kurasa itu adalah vitamin A.
Ada empat macam jenis obat yang diletakkan di atas etalase. Ada dua yang sepertinya berada di dalam botol dan dua lagi berbentuk semacam kapsul dalam strip.
"Saya akan jelaskan satu-satu ya. Kalau anda juga ingin vitamin A sekaligus penambah darah yang ini sangat bagus!" jelas apoteker itu sambil menunjukkan sebuah kotak dan mengeluarkan isinya didalamnya terdapat steam obat dan ada 10 kapsul berwarna merah.
Aku mengangguk paham, tapi kamu masih memperhatikan beberapa yang lainnya, karena kulihat harga yang tertera pada strip itu cukup mahal.
"Kalau yang biasa saja yang ini juga sudah bagus, tapi tidak ada penambah darahnya!" jelasnya lagi memperlihatkan satu stop lagi tidak terlihat warna kapsulnya tapi warna kotaknya ungu.
Lalu apoteker itu kembali menjelaskan 2 vitamin yang lainnya. Setelah mendengar penjelasan yang aku rasa pilihan yang pertama itu cukup bagus meski harganya lebih mahal tapi hasiatnya pun lebih bagus.
"Terimakasih, selamat datang kembali!" ucap apoteker itu sopan setelah aku membayar dan berbalik pergi meninggalkan apotek itu.
"Terimakasih pak Urip!" ucap ku pada Pak Urip karena sudah repot-repot membukakan pintu mobil padahal aku bisa membuka pintu mobil sendiri.
"Sama-sama nyonya muda, nyonya muda tadi ke apotek untuk membeli apa?" banyak banget yang berkesan sangat ingin tahu.
Tapi aku rasa itu wajar karena mungkin dia sudah diwanti-wanti oleh Samuel, untuk melaporkan apapun yang aku lakukan dan kemanapun aku pergi.
Tapi baru saja aku akan membuka mulutku untuk menjawab pertanyaan Pak Urip suara klakson mobil dari belakang sudah mengganggu kami.
Pak Urip segera bergegas masuk ke dalam mobil dengan mengemudikan mobil yang kami tumpangi dengan cepat karena arus lalu lintas sudah mulai lancar.
__ADS_1
Aku membuka bungkusan ayam goreng yang aku beli tadi, aku memisahkan dua potong dahan aku letakkan di dekat pak Urip.
"Terimakasih nyonya muda!" ucap pak Urip sopan.
Dan aku langsung membalasnya dengan anggukan kepala, aku pakan ayam itu di dalam mobil. Karena saat makan siang tadi aku bukannya diajak makan siang di restoran tapi malah disuruh bersihkan kekacauan akibat perempuan yang menggoda Samuel itu. Aku sebenarnya tidak ingin mengingatnya lagi hanya saja karena hal itu aku jadi kelaparan sekarang.
Beberapa saat kemudian mobil yang aku tumpangi yang dikemudikan oleh Pak Urip sampai di kediaman Samuel. Aku melihat ibu Stella sudah berdiri di teras utama. Pak Urip keluar dari mobil dan seperti biasa membukakan pintu mobil untukku.
"Ibu!" sapa ku lalu menghampiri Ibu Stella dan memeluknya.
"Naira sayang, Ibu sangat merindukanmu. Ayo masuk, sudah makan siang belum? ibu memasak banyak makanan loh, ada ayah dan juga Adam!" serunya penuh semangat lalu mengajak ku masuk ke dalam rumah.
Saat masuk ke dalam, ternyata benar ayah Damar dan juga Adam sudah berada di ruang makan.
"Akhirnya, aku bisa makan juga!" celetuk Adam membuat ku langsung melihat ke arahnya.
"Adam!" tegur Ayah Damar.
Dari yang aku lihat ini aku bisa menyimpulkan bahwa Ibu dan Ayah meminta agar Adam menunggu ku datang baru mereka bisa makan siang. Aku kini merasa tidak enak hati sekali kepada Adam dan ayah Damar.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu!" ucapku pelan karena merasa sangat gugup dan juga segan.
"Sudah, sudah tidak apa-apa. Ayah tahu kalau di jalan tadi ada demonstrasikan makanya mobil kalian jadi susah jalan dan menerobos demontrasi itu tidak mungkin kan, ayo duduk Naira. Lihatlah ibu mu sudah membuatkan banyak makanan untuk kita!" seru ayah Damar, dia bahkan mengatakan semua itu sambil tersenyum.
Keluarga ini sangat hangat dan baik, kecuali kedua putra mereka. Aku juga tidak tahu ada apa dengan Samuel dan Adam, padahal orang tua mereka sangat baik dan ramah, tapi anak-anak seperti kulkas semua.
__ADS_1
***
Bersambung...