Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
92


__ADS_3

Aku makin tidak mengerti dengan pria di hadapan ku ini, meski statusnya memang suami ku. Tapi aku belum lupa kalau dia pernah bilang aku ini hanya istri kontrak nya, hanya istri yang tidak punya hak apa-apa dan tidak akan pernah membuatnya melihat ku atau tertarik padaku.


Tapi kenapa dia justru bersikap seperti ini, seperti orang yang begitu manja. Tapi aku rasa ini pasti hanya karena dia baru putus dari pacarnya. Jika dia punya pacar lagi mungkin...


"Hei, kenapa malah bengong? kamu pikir sendok itu bisa terbang sendiri ke dalam mulut ku?" tanya nya dengan nada tinggi.


Aku ingin sekali berteriak juga di telinga nya, dia ini bisa berfikir atau tidak sih. Aku jelas ada di pangkuan nya, dan telingaku tepat di depan mulutnya, kenapa dia berteriak begitu. Apa dia sengaja ingin membuat ku tuli. Kasihan sekali sih aku ini, sudah di buat spot jantung melulu, dan sekarang telinga ku juga jadi korban. Menyebalkan.


Dengan hati kesal tapi wajah tetap menunjukkan senyum, bisa di bayangkan bukan seperti apa wajah ku. Aku menyendok kan nasi goreng ke depan mulut Samuel. Tapi dia malah melihat ku saja dan tidak membuka mulut nya.


Satu detik, dua detik, tiga detik...


Apa sih maunya ini orang, tangan ku sampai pegal terus memegang sendok begini.


"Mas, kamu bisa tolong buka mulut mu?" tanya ku dengan sangat sopan.


Jika saja aku tidak menandatangani surat perjanjian itu dan harus bersikap sopan dan menuruti semua keinginan nya, aku pasti akan berkata seperti ini.


'Mau makan tidak sih, tangan ku pegal! kalau mau makan cepat buka mulut mu!' huh rasanya pasti menyenangkan kalau bisa mengatakan kalimat itu pada pria arogan di depan ku ini.


Dia membuka mulutnya dan aku menyuapkan satu sendok penuh nasi goreng ke dalam mulutnya. Aku sampai merinding karena sampai piring di depan kami ini kosong, dia benar-benar terus memandang ku. Bukannya senang aku malah merinding di buatnya.


Suapan terakhir, dan aku pikir akan berdiri dari pangkuan nya, tapi dia menahan pinggangku.


"Mau kemana?" tanya nya.


'Ya mau bangun lah, mau apa lagi, aku baru makan dua sendok dan kamu menghabiskan semuanya, mau apa lagi aku? mendingan juga tidur kan!' omel ku dalam hati.


Ya benar, anggap saja aku memang pengecut yang hanya bisa protes dan mengomel dalam hati. Aku mana berani protes di depannya.


"Mas, aku mau membawa piring ini ke dapur!" jawab ku.


Setelah aku mengatakan itu, akhirnya dia melepaskan tangannya dari pinggang ku. Dengan cepat aku bangun dan membawa piring itu ke dapur.


Aku meletakkan piring bekas aku makan ke tempat cuci piring. Dan segera mencuci nya, aku baru ingat kalau ada juga satu lagi piring di atas meja, piring bekas Riksa tadi. Dengan tangan yang masih basah dan masih ada busa sabun cuci piring, aku berjalan ke luar dapur ke ruang makan. Dan ternyata Samuel masih ada di sana.


'Ih, ngapain sih masih disitu!' keluh ku dalam hati.

__ADS_1


Aku tidak memperdulikan Samuel yang masih terus memperhatikanku, kurasa. Aku langsung meraih piring bekas makan Riksa lalu membawanya lagi ke dapur.


Tapi baru berjalan beberapa langkah, Samuel memanggilku.


"Naira!"


Aku langsung menoleh.


"Ya mas!" jawab ku singkat.


"Buatkan aku kopi, antar ke ruang kerja ku!" perintahnya padaku dan langsung pergi dari tempat nya.


Aku kembali ke dapur, setelah mencuci piring aku merapikan meja makan. Baru setelah itu aku buatkan kopi seperti keinginan tuan muda Virendra itu.


Kurasa ini sudah semakin malam, tidak ada suara orang lain dan bahkan tidak ada suara apapun sepanjang perjalanan ku dari dapur sampai ke ruang kerja Samuel.


Tok tok tok


"Mas, ini aku!" seru ku memberitahukan kalau aku ada di depan pintu ruang kerjanya sekarang.


Aku membuka pintu perlahan dengan satu tangan karena satu tangan ku yang lain memegang tatakan cangkir kopi untuk Samuel.


Ku letakkan cangkir berisi kopi itu di space yang kosong di atas meja kerja Samuel.


"Mas, ini kopinya. Ada yang kamu perlukan lagi tidak?" tanya ku karena aku ingin pergi tidur.


Saat aku bertanya seperti itu, Samuel malah melirik dengan lirikan tajam. Kurasa aku sudah salah bicara lagi.


"Kenapa?" tanya nya penuh dengan curiga.


Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat, jika aku katakan aku ingin tidur mungkin dia akan kembali darah tinggi lagi dan marah padaku.


"Duduk lah!" seru nya.


Tanpa bertanya untuk apa, aku langsung duduk di kursi di depan meja kerjanya. Setelah itu, dia berjalan ke arah laci dan mengeluarkan beberapa kertas dan meletakkannya di atas meja di hadapan ku.


"Apa ini?" tanya ku tidak mengerti, tapi aku lihat ada nama perusahaan nya disitu.

__ADS_1


"Biasakan untuk membaca, jangan banyak bertanya? kamu akan terlihat bodoh!" celetuknya.


'Astaga, bertanya saja salah, bukankah ada pepatah yang bilang kalau malu bertanya sesat di jalan!' keluh ku dalam hati.


Aku meraih kertas paling atas dan membacanya.


"Kontrak kerja sekertaris pribadi...!" aku tidak melanjutkan membaca aku terlalu terkejut karena melihat namaku ada di sana.


"Mas, ini maksudnya apa? aku tidak lagi jadi istri mu tapi sekertaris mu?" tanya ku bingung.


Kalau semua ini benar, entah aku harus senang atau sedih. Tidak jadi istrinya lagi bukankah itu bagus, tapi apa yang aku katakan pada ayah dan ibuku.


Bukan langsung menjawab pertanyaan yang membuat aku bingung, dia malah meraih sisa kertas yang masih ada di meja dan memukulkan kertas itu di kepala ku.


Plakk


"Aduh!" aku memekik bukan karena sakit tapi karena terkejut.


"Saat Tuhan membagikan manusia otak, saat itu kami ada dimana? ck... bodoh sekali!" omelnya kelihatan sangat kesal.


"Kita sudah menikah, pernikahan itu sah menurut hukum dan agama...!"


Aku sampai tertegun saat dia mengatakan semua itu. Tapi sayangnya dia sendiri yang menjadikan pernikahan sakral itu sebagai sebuah perjanjian.


"Kamu bilang bingung mau melakukan apa di rumah, aku sudah baik memberikan pekerjaan padamu. Begitu saja tidak paham!" keluh nya lagi dengan wajah yang terlihat kesal.


"O" aku membulatkan mulut ku dengan sempurna sambil mengangguk paham.


Tapi kemudian aku berfikir lagi, apa jabatan itu pantas untukku. Riksa dan Dina saja lulusan perguruan tinggi luar negeri, aku hanya lulusan SMA.


"Tapi tuan aku hanya lulusan SMA, aku rasa...!" aku menjeda kalimat ku karena benar-benar merasa tidak pantas untuk pekerjaan itu.


"Memang kamu pikir tugas mu apa? makanya baca!" perintah nya lagi, dan aku segera mengambil lembar yang kedua.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2