Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
247


__ADS_3

Pria dengan dua buah jerigen di kedua tangannya itu lalu meletakkan jerigen tersebut di dekat pak Nasrul dan juga ibu Jamilah.


"Wak, untuk apa bensin di dalam jerigen ini. Bukankah tadi saya sudah bilang kalau mobil Jajang itu irit Wak, kita sudah isi full pasti cukup pulang pergi dari sini ke rumah. Bahkan lebih dari cukup!" ucap seorang pria yang memakai kupluk di kepalanya menatap heran pada Nasrul dan kedua jerigen berisi penuh bensin yang tadi dia bawa.


Jamilah masih terus menangis sambil tertunduk di lantai. Sedangkan Nasrul langsung berdiri dan berbalik menghadap ke arah pria yang tadi bertanya padanya itu.


Nasrul yang tingginya jauh di Bandung pria itu sedikit mendongak untuk dapat melihat wajah orang yang dia ajak bicara itu.


Sambil menepuk bahu pria yang jauh lebih muda darinya itu, Nasrul lalu berkata.


"Udin, Wak tutup rumah ya. Titip dua kambing yang tadinya mau Wak pakai di selamatannya Fika. Wak masih ada tabungan, buku tabungannya ada di rumah, di laci yang ada di lemari di kamar Wak. ATM juga ada disana, sandinya sudah Wak tulis di kalender yang ada di kamar...!"


Sebelum Nasrul selesai dengan apa yang ingin dia katakan, Udin yang merupakan keponakan Nasrul pun kebingungan dengan semua yang orang yang dia panggil Wak itu katakan. Dan dia pun menyela Nasrul.


"Wak, kenapa ngomongin itu? kenapa Wak kasih saya tabungan, saya gak butuh. Saya kan sudah bekerja, berkat Wak yang menyekolahkan saya di STM, saya bisa kerja di bengkel hingga bisa hidup cukup, bersama anak dan istri saya!" jelas Udin yang mulai merasakan sesuatu tidak enak di perasaan nya.


Udin yang merasa kalau sang paman sepertinya ingin pergi jauh hingga memasrahkan semua benda miliknya pada Udin, dari rumah, tabungan dan juga dua ekor kambing peliharaan Nasrul. Udin merasa sangat cemas, karena dia sangat menyayangi sang paman.


Sementara Puspa yang mendengar semua yang dikatakan oleh Udin makin merasa bersalah di dalam hatinya. Puspa memejamkan matanya hingga air matanya kembali mengalir.


'Ya Tuhan, bagaimana aku bisa menyakiti kedua orang yang begitu mulia seperti ini. Ampuni aku ya Tuhan, ampuni ibuku yang telah melakukan hal keji pada kedua orang baik ini!' batin Puspa.


Jamilah masih terus terdiam, dia sudah setuju pada apapun yang akan di lakukan oleh suaminya. Karena dia juga sudah tak punya harapan hidup lagi di dunia ini sama seperti suaminya. Anak mereka hanya satu, dan karena kecelakaan Fika mengalami kerusakan pada organ dalamnya, untuk operasi membutuhkan waktu lama karena menunggu kondisi tubuh Fika siap. Dokter mengatakan Fika bisa sembuh setelah operasi, tidak di sangka sebulan sebelum itu akibat perbuatan Mega terpaksa rumah sakit menghentikan alat penopang kehidupan bagi Fika, dan gadis malang itu pun harus meninggalkan dunia ini dan juga kedua orang tua yang menggantungkan harapan besar padanya, bahkan tak mampu lagi hidup tanpa dirinya.


Nasrul kembali menepuk bahu Udin beberapa kali.


"Setelah ini kamu keluar bersama yang lain. Kunci pintu gudang ini. Siram bensin ini di seluruh bangunan ini, dan bakar dari luar!" seru Nasrul dengan nada suara yang bergetar.


Mata Udin terbelalak kaget.

__ADS_1


"Wak, Wak mau membakar wanita itu?" tanya Udin kaget.


Dia juga tidak menyangka kalau Wak nya akan senekat itu, dia pikir hanya menculiknya dan mengurungnya selama beberapa hari agar para orang kaya itu mendapatkan pelajaran.


"Wak, jangan Wak. Ini kriminal! Wak bisa di penjara nanti!" ucap Udin begitu saja sesuai dengan apa yang dia pikirkan.


Nasrul tersenyum getir dan mengangguk.


"Benar, Udin. Wak memang mau membakar bangunan ini!" Nasrul berkata sambil matanya melihat ke sekeliling bangunan gudang.


"Tapi Wak tidak akan di penjara, karena Wak dan Cece mu juga akan berada di dalam sini bersama nona Puspa!" jelas Nasrul yang melihat ke arah istrinya dan juga Puspa bergantian.


Sebenarnya tatapan Nasrul itu begitu lirih. Tapi rasa kecewa dan sakit di hatinya membuatnya melakukan semua ini.


Dan ekspresi Nasrul bahkan lebih parah lagi dari yang tadi, matanya nyaris keluar sangking tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar, kata-kata yang keluar dari mulut pamannya itu.


Udin menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Udin langsung berjalan dengan cepat mendekati Jamilah, dia berjongkok di depan Jamilah sambil memegang lengan bibinya itu dengan lembut.


"Ce, Udin tahu Cece sedih, sakit hati dan kecewa. Tapi masih ada Udin ce, masih ada Lilis dan Cici. Tolong kasih tahu Wak...!"


"Sudahlah Udin, lakukan saja apa yang Wak mu katakan!" sela Jamilah sambil terisak.


Udin mengusap kepalanya gusar.


"Masyaallah Wak, bagaimana mungkin Udin melakukan semua itu, mana mungkin...!" ucap Udin yang sudah tampak frustasi.


Udin tidak akan sanggup melakukan apa yang di perintahkan oleh sang paman, membakar kedua orang yang telah memberinya makan dan tempat tinggal. Itu tidak mungkin sanggup untuk dia lakukan.

__ADS_1


Tapi ketika Udin masih sangat dilema dengan apa yang akan dia lakukan. Terdengar keributan di luar gudang. Udin dan Nasrul pun segera keluar. Saat mereka keluar mereka sangat terkejut ketika melihat tiga orang yang lain telah baju hantam dengan tiga orang pria yang sangat tampan dengan setelan jas yang terlihat mewah.


Salah satu di antara ketiga pria itu langsung berlari ke arah Nasrul ketiga sudah melumpuhkan salah seorang yang tadi menghalangi nya untuk masuk ke dalam gudang.


"Tuan Samuel!" ucap Nasrul gugup.


Nasrul yang mengenali Samuel langsung pucat di wajahnya.


Udin yang merasa kalau orang itu membuat pamannya takut langsung pasang badan di depan Nasrul.


"Minggir, dimana Puspa? dimana Puspa pak Nasrul?" tanya Samuel.


Samuel langsung mendorong Udin dan melewati pak Nasrul begitu saja.


"Puspa!" panggil Samuel ketika melihat Puspa yang sedang menunduk dan menangis dengan tangan terikat di belakang sandaran kursi.


Samuel langsung berlari mendekati Puspa dan melepaskan ikatan yang ada di tangan dan kakinya.


"Sam, jangan sakiti pak Nasrul dan ibu jamilah mereka tidak bersalah!" ucap Puspa yang takut kalau Samuel menyakiti Jamilah dan juga Nasrul.


"Puspa!" teriak Riksa dan Jonathan bersamaan ketika memasuki gudang.


Puspa yang sudah terlepas ikatan nya, langsung melihat ke arah pintu dan berlari dengan cepat.


Jonathan sudah melengkungkan senyum di wajahnya, tapi senyuman itu harus hilang ketika...


Brukk


Puspa melewatinya dan menubruk Riksa lalu memeluknya dengan erat.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2