
Keesokan harinya...
Di sebuah rumah besar yang di dalamnya hanya ada beberapa furniture saja yang melengkapi. Dari jam 5 pagi sudah ada seorang wanita yang sejak tadi bersiap berias dan menggonta-ganti pakaian nya beberapa kali. Seorang wanita lainnya yang sejak tadi di tanyai pendapat meskipun matanya masih sangat mengantuk dan kepalanya juga sangat berat saat di angkat.
"Ayolah Caren, berapa kali lagi kamu akan berganti pakaian. Cukup rapikan rambut mu ke belakang lalu pakai rok mini dan kemeja itu saja, aku masih mengantuk. Kenapa kamu bangun kan aku sepagi ini, kamu bukan akan menjadi brand ambassador Caren, hanya SPG!" keluh Vina yang sedari tadi berusaha dengan keras mengangkat kepalanya meski rasanya sangat berat seperti tertimpa karung beras seberat sepuluh kilogram.
Caren hanya berdecak kesal masih sambil memutar tubuhnya di depan cermin, melihat ke arah samping kanannya lalu ke samping kirinya.
"Ck... aku sudah bilang padamu, aku bekerja disana itu sebagai staf promosi bukan SPG. Samuel sendiri yang membawa ku ke sana dan mengatakan pada kepala bagian di sana untuk membimbing ku dengan baik. Kamu tahu dari caranya itu saja aku yakin kalau sebenarnya dia masih sangat perduli padaku!" ucap Caren dengan penuh percaya diri.
Vina yang mendengar apa yang dikatakan oleh temannya itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
'Astaga Caren, jika dia masih perduli padamu dia akan mempekerjakan mu disana lebih daripada hanya sebagai seorang SPG, jika dia masih perduli dia akan memberikan mu pekerjaan lebih baik, dengan jabatan lebih tinggi dari itu. Paling rendah dia akan mempekerjakan mu sebagai sekertaris, aku tidak tahu bagaimana mengatakan nya padamu, aku jadi kasihan melihat mu Caren!' batin Vina
Vina terus memperhatikan apa yang dilakukan Caren, sebagai seorang sahabat dia merasa sangat sedih melihat Caren terlalu berharap padahal jelas-jelas Samuel hanya mempekerjakan Caren sebagai SPG, yang artinya Samuel hanya berniat membantu Caren sebatas memberinya pekerjaan agar dia bisa bertahan hidup. Tapi di sisi lain Vina juga tidak ingin membuat sahabatnya itu kehilangan semangat hidupnya, karena sewaktu Vina bertemu dengan Caren, saat itu sahabatnya itu sudah sangat putus asa karena mendengar kabar kehamilan istri Samuel.
"Caren, sekarang aku tidur lagi ya. Baju dan riasan yang itu sangat bagus!" ucap Vina yang merasa lebih mengantuk dari yang tadi.
Caren yang mendengar ucapan dari Vina berbalik dan berjalan dengan cepat ke arah Vina. Caren langsung menangkup kedua pipi Vina dengan kedua tangan Caren.
"Hei, kalau kamu tidur lalu bagaimana aku pergi ke kantor?" tanya Caren sambil menggoyang-goyangkan wajah Vina.
Vina menepis tangan Caren.
__ADS_1
"Caren, aku ngantuk. Bagaimana caranya aku mengemudi dengan mata yang setengah tertutup dan setengah terbuka begini!" keluh Vina yang memang matanya yang satu tertutup dan yang satu lagi terbuka.
Caren yang melihat tingkah sahabatnya itu pun terkekeh sambil menepuk lengan Vina perlahan lalu duduk di sebelahnya.
"Vina, kamu tahu tidak. Jika kemarin itu aku tidak bertemu dengan mu, maka aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Aku sudah putus asa, dengan tabungan hanya akan bertahan beberapa bulan. Untung saja ayah mu masih ingat padaku, dan memberikan aku kesempatan, jika tidak...!" Caren menjeda kalimatnya.
Caren menundukkan kepalanya dan terlihat sangat sedih. Vina yang tahu kalau sahabatnya itu kembali sedih segera merangkul lengannya. Vina tahu apa yang Caren rasakan, sahabat nya itu di liputi perasaan bersalah dan menyesal yang teramat sangat karena telah meninggalkan pria sebaik Samuel demi Kenzo. Vina juga pernah memperingati Caren mengenai hal itu, namun Vina juga tidak menampik kalau perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh Kenzo dapat membuat siapapun itu, wanita manapun itu pasti jatuh hati dan bersedia menyerahkan hatinya pada Kenzo. Begitu pula dengan Caren, yang memang gaya berpacaran nya dengan Samuel adalah gaya berpacaran yang baik. Karena sebenarnya Samuel adalah pria yang baik.
"Jangan bicara begitu, kamu adalah wanita yang kuat dan mandiri. Kamu lah yang berhasil membantu ku berubah dari gadis manja menjadi wanita mandiri juga yang bisa di banggakan oleh kedua orang tuaku. Selama aku bisa membantumu, maka aku akan membantu mu!" ucap Vina pada Caren.
Caren melihat ke arah Vina dan tersenyum.
"Terimakasih Vina!" ucap Caren yang matanya sudah berkaca-kaca.
Vina lalu memeluk sahabat nya itu.
Caren pun segera berjalan ke arah dapur dan menyiapkan sarapan untuknya dan juga untuk Vina.
Di tempat lain...
Di rumah ayah Rama, ibu Anisa yang sudah menyiapkan sarapan di ruang makan sedari tadi terus saja melihat ke arah pintu kamar Naira. Sudah pukul 5.30 pagi tapi Naira belum juga keluar dari dalam kamarnya.
Semalam juga ibu Anisa menunggu Naira sampai jam sebelas malam sampai dia ketiduran dan saat dia bangun pagi, Naira juga tidak ada di kamar itu. Ibu Anisa jadi semakin penasaran, apakah Naira sudah berhasil di bujuk oleh suaminya itu. Dan kalau itu benar, ibu Anisa sangat penasaran apa yang dikatakan oleh Samuel pada Naira sampai Naira bisa luluh dan melunak pada Samuel.
__ADS_1
Ayah Rama yang sejak keluar dari kamar tadi melihat tingkah istrinya itu pun bertanya pada ibu Anisa. Ayah Rama duduk di kursi dan meminum teh hangat yang sudah ibu Anisa siapkan.
"Ibu kenapa sih? dari tadi lihatin pintu kamar Naira terus?" tanya ayah.
Anisa langsung duduk di samping suaminya.
"Ayah tahu tidak, ibu sama Naira itu semalam sudah berencana mengerjai nak Samuel, tapi sepertinya Naira yang berhasil di kerjai suaminya!" jelas ibu Anisa.
"Pufttt" ayah Rama sampai menyemburkan teh manis hangat yang baru saja dia minum karena terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sang istri.
Dengan cepat ayah menyeka mulut nya dengan punggung tangannya sendiri.
"Ibu bilang apa tadi? ya ampun ibu! ayah kan sudah bilang kemarin jangan ikut campur masalah rumah tangga anak kita!" ucap ayah Rama sambil menepuk jidat nya sendiri.
"Ih, ayah ini. Orang ibu cuma mau bantu anak kita saja. Tahu tidak, nak Samuel itu sudah mempekerjakan mantan pacarnya di kantornya. Ibu saja yang mendengarnya kesal, apalagi Naira. Lagipula anak kita itu sedang hamil ayah, wanita hamil itu sensitif ayah, lebih sensitif dari wanita yang sedang datang bulan, ayah mana tahu perasaan wanita. Huh... mengesalkan!" omel ibu Anisa yang segera beralih menyiapkan kembali sarapan di dapur.
Pak Rama hanya bisa menggelengkan kepalanya berkali-kali. Dia kemarin sudah melarang istrinya membantu Naira karena Samuel sudah menjelaskan padanya mengenai perihal kenapa Samuel mempekerjakan wanita bernama Caren itu pada ayah.
"Ibu, wanita itu hanya di pekerjakan sebagai SPG, tidak akan bisa wanita itu menemui nak Samuel!" seru ayah.
Ibu Anisa yang mendengar itu terkejut lalu kembali duduk di tempatnya di sebelah ayah Rama.
"Hah, apa kata ayah? emang SPG itu apa?" tanya ibu Anisa.
__ADS_1
***
Bersambung...