
Author POV
Sementara itu di resort tempat keluarga Virendra dan juga keluarga Rama menghabiskan liburan mereka. Semua masih asik melakukan kegiatan mereka masing-masing. Tapi hari ini berbeda, mereka kedatangan seorang tamu. Dan orang itu adalah Puspa.
"Sayang, selamat bergabung. Sayang sekali kamu baru datang. Kami sudah banyak berpiknik, berenang, menyelam, dan menyebrang ke pulau yang sangat indah. Kenapa saat liburan tinggal sehari kamu baru datang?" tanya Stella pada Puspa tanpa melepaskan rangkulannya dari Puspa.
"Maaf Tante, tapi pekerjaan ku baru saja selesai. Dimana yang lain, dimana adiknya Naira itu. Aku penasaran ingin ngobrol dengannya!" seru Puspa.
"Oh, Ibras. Dia sedang membuat makan siang dengan ibu dan ayah nya. Apa kamu tahu nak, keluarga Naira itu semuanya pintar memasak, masakan mereka semuanya enak-enak. Tante rasa berat badan Tante dan om akan naik setelah liburan ini!" ucap Stella sambil terkekeh.
Sementara mereka sedang asik mengobrol, Adam yang menyadari kehadiran Puspa segera menghampiri nya.
"Puspa hai, senang sekali kamu juga bisa bergabung dengan kami!" ucap Adam akrab.
Plak
Stella memukul lengan Adam,
"Heh, Adam! panggil kak Puspa. Jangan tidak sopan ya kamu!" seru Stella membuat raut wajah Adam menjadi masam.
Puspa memang lebih tua dari Adam, dia seusia dengan Samuel. Dan lebih tua satu tahun dari Riksa.
"Tidak apa-apa Tante, aku jadi merasa lebih muda kalau Adam memanggilku seperti itu!" sahut Puspa yang tidak ingin membuat suasana menjadi canggung.
"Baiklah, kalian lanjutkan saja mengobrol nya. Ibu akan membantu tante Anisa dulu!" ucap Stella lalu meninggalkan Puspa dan Adam.
"Sangat menyenangkan bukan berkumpul dengan keluarga seperti ini!" seru Puspa.
Adam hanya menoleh sekilas.
"Maksud mu?" tanya Adam berpura-pura tidak mengerti.
Puspa lalu menghadap ke arah Adam.
"Tuan muda Adam, sudahlah jangan berpura-pura di depan ku. Aku rasa kamu sangat paham dengan apa yang aku katakan barusan. Mereka semua sangat menyayangimu, tinggal lah di rumah, karena apa kamu tahu? tidak akan ada tempat senyaman rumah!" jelas Puspa panjang lebar.
__ADS_1
Selama ini Adam memilih menyendiri, dan itu cukup membuat keluarganya jadi cemas.
"Puspa terkadang aku berfikir, kenapa kakak ku tidak pernah jatuh hati padamu. Kamu sangat dekat dengan keluarga kami dan sejak kecil kamu bahkan keluar masuk rumah seperti rumah mu sendiri, apa tidak terpikirkan oleh mu menjadi bagian keluarga kami?" tanya Adam.
Puspa tidak langsung menjawab, dia hanya menatap serius ke wajah Adam.
"Aku rasa aku lebih senang menjadi putri atau anak perempuan Tante dan om Adrian, daripada menjadi menantu mereka. Apa jawaban ku membuat mu puas?" tanya Puspa.
Dia benar-benar terus terang, tidak ada secuil niat ataupun keinginan nya menjadi menantu keluarga Adrian.
Adam menggelengkan kepalanya.
"Tidak!" tegasnya.
Jawaban Adam itu membuat Puspa mengerutkan keningnya lalu terkekeh pelan.
"Sudahlah Adam, jangan selalu bersikap serius seperti ini. Kita sedang liburan bukan. Kenapa kita tidak menikmati liburan ini saja!" ucap Puspa lalu meninggal kan Adam yang masih terlihat kesal.
Adam masih melihat Puspa yang berjalan menjauh darinya dan mendekati keluarga Naira, dia menyapa keluarga Naira satu persatu dan terlihat sangat senang.
Orang itu adalah Riksa.
"Ada apa?" tanya Adam dengan nada dingin. Sepertinya dia memang tidak pernah suka pada Riksa dan seperti memusuhi nya.
"Bos sudah meninggalkan Singapura, kemungkinan dia akan sampai sore ini!" jawab Riksa.
"Lalu, apa hubungan nya dengan ku? kamu yang asisten pribadi nya kan. Jemput dia saat dia kembali!" sahut Adam yang terkesan tidak perduli.
Riksa hanya terdiam, sebenarnya dia ingin tahu apa yang sudah Adam lakukan dengan anak buahnya di Singapura.
"Aku ingin bertanya padamu, tuan. Anak buah ku mengatakan kalau anak buah mu menyekap mereka dan juga anak buah tuan Kenzo...!"
"Jika aku tidak melakukan semua itu maka kakak ku masih akan memuja wanita pengkhianat bernama Caren itu, apa kamu tahu? memangnya kamu pikir siapa yang sudah memberi akses begitu mulus pada kak Samuel agar bisa masuk ke dalam apartemen Caren, di saat wanita itu dan Kenzo masih dalam pengaruh obat? lalu jika tidak menahan mereka aku harus bagaimana, membiarkan mereka melapor pada bos mereka kalau kak Samuel datang?" tanya Adam setelah menjelaskan panjang lebar tentang apa saja yang sudah di lakukan nya agar kedok wanita bernama Caren itu terbongkar.
"Baiklah, aku pergi dulu. Terimakasih sudah membantu ku tuan Adam!" ucap Riksa dengan sopan lalu berbalik.
__ADS_1
Tapi kemudian langkah Riksa terhenti karena Adam membuka suaranya lagi.
"Kenapa berterima kasih, aku tidak melakukan semua ini untuk mu. Aku melakukan semua ini untuk kakak ku Samuel!" ujar Adam lalu meninggal kan Riksa dan berjalan ke arah ayah dan ibunya.
Riksa hanya bisa menghela nafasnya. Kemudian dia kembali melangkah, tapi lagi-lagi langkahnya harus terhenti ketika seseorang lagi-lagi memanggilnya.
"Riksa!" panggil Puspa sambil melambaikan tangannya.
Riksa berbalik dan menunggu Puspa yang seperti nya akan menghampiri nya. Puspa bahkan melewati Adam begitu saja yang sudah berada di dekatnya. Tatapan mata Adam semakin kesal, ketika melihat Puspa menghampiri Riksa. Adam yang awalnya ingin menghampiri ayah dan ibunya berbalik dan memilih meninggalkan area pantai dan masuk ke dalam penginapan resort.
"Hai, mau kemana?" tanya Puspa sambil tersenyum.
"Aku akan kembali ke kantor, banyak pekerjaan yang aku tinggalkan selama tiga hari ini!" jawabnya serius.
"Hei, kenapa saat aku baru datang kamu malah pergi. Temani aku bermain khayak ya. Sebentar saja sampai makan siang siap!" pinta Puspa sambil mengerlingkan matanya di depan Riksa.
Riksa sampai terkekeh saat melihat Puspa bertingkah seperti anak kecil seperti itu.
"Hentikan itu, orang akan mengira kalau kamu cacingan!" seru Riksa.
"Kalau begitu temani aku, aku tadi mengajak Ibras, tapi kata Tante Stella kemarin kakinya terluka dan belum boleh bermain air dulu, ayolah temani aku, ya.. ya..!" Puspa masih belum menyerah membujuk Riksa.
"Baiklah, tapi hanya sampai makan siang saja ya, aku sangat sibuk!" ucap Riksa sedikit berakting seperti orang yang benar-benar sangat sibuk.
"Jangan bergaya seperti itu, tidak pantas dengan pembawaan mu!" sela Puspa.
"Benarkah, lalu aku harus bersikap bagaimana?" tanya Riksa mencoba mencari tahu apa yang pantas untuk dirinya.
"Kenapa bertanya, jadilah dirimu sendiri. Jadilah Riksa yang seperti aku dan Samuel kenal selama lebih dari sepuluh tahun ini!" ucap Puspa lalu menarik Riksa menuju ke perahu khayak yang ada di pinggir pantai.
Author POV end
***
Bersambung...
__ADS_1