
Setelah Naira sadar, dia langsung menyebutkan nama Samuel, matanya langsung berair dan langsung menangis. Dia begitu takut sesuatu terjadi pada bayi yang ada di dalam kandungan nya. Naira bahkan terlihat sangat histeris ketika tidak melihat Samuel di ruang rawat itu, meskipun Stella yang memang selalu berada di sisi Naira langsung memeluk menantunya itu ketika dia sadar.
"Sayang, tenanglah. Naira tenang... bayi mu baik-baik saja. Mas! cepat panggil Samuel!" seru Stella pada Damar agar suaminya itu segera memanggil Samuel yang sedang bicara pada dokter Arini yang juga ikut datang ke rumah sakit ini atas permintaan Stella di ruangan dokter Amran yang tadi telah menangani Naira.
Damar segera keluar dan menyusul Samuel di ruang dokter karena di ruangan itu hanya ada Stella dan Damar saja. Puspa sedang menebus obat, dan bibi Merry sudah mengantarkan kakek Virendra pulang karena sudah waktunya makan malam dan minum obat. Riksa juga sedang keluar karena mendapatkan kabar dari anak buahnya kalau para preman itu sudah di temukan.
Ceklek
"Samuel, Naira sudah sadar. Dia mencari mu!" seru Damar yang langsung masuk dan bicara tanpa berbasa-basi.
Samuel yang mendengar itu langsung berdiri dan bergegas berlari meninggalkan ruangan dokter Amran dan langsung menuju kamar Naira. Sesampainya di kamar Naira, Samuel memeluk istrinya itu dengan sangat erat.
"Mas...!" lirih Naira.
"Tidak apa-apa sayang, sudah tidak apa-apa. Tidak akan ada lain kali aku membuatmu berada dalam ketakutan seperti ini, tidak akan ada lain kali!" seru Samuel mantap.
Sementara itu di tempat lain, di sebuah gudang kosong. Anak buah Riksa sudah berhasil meringkus ke enam orang preman yang membuat Naira mengalami trauma dan ketakutan.
Riksa melihat ke enam pria yang sudah babak belur karena sudah di pukuli habis-habisan oleh anak buah Riksa.
"Mereka sudah bicara?" tanya Riksa pada Arman.
"Mereka orang bayaran, tapi mereka bilang tidak pernah bertemu dengan orang yang membayar mereka. Hanya lewat telepon, orang itu mengirim lokasi dan waktunya, dan yang terkirim ke rekening mereka!" jawab Arman menjelaskan panjang lebar pada Riksa.
Riksa melihat ke arah para preman itu.
"Sudah periksa rekening mereka?" tanya Riksa lagi.
"Sudah, Eka sudah memeriksa nomer yang mengirimkan uang ke rekening mereka, tapi mereka pakai identitas palsu, seorang nelayan yang tinggal dekat perkampungan pesisir!" jawab Arman lagi.
'Identitas palsu, rekaman CCtv jalan juga di sabotase. Dengan itu saja aku sudah tahu siapa yang melakukan semua ini!' pikir Riksa.
__ADS_1
"Pak Riksa, aku sudah dengar kalau nyonya bos sampai trauma karena hal ini, bagaimana kalau mereka kita buang saja ke muara Belatung biar mereka mati mengenaskan dimakan buaya?" tanya Arman pada Riksa.
Arman kelihatan sangat kesal pada para preman itu, sampai dia memukuli para preman itu hingga siapapun yang akan melihat mereka akan kesulitan mengenali wajah mereka.
Riksa hanya mendengus, dia juga ingin melakukan itu, tapi negara ini adalah negara hukum. Dia tidak bisa main hakim sendiri.
"Buat laporan ke kantor polisi, lalu serahkan mereka dan semua bukti yang sudah kamu dapatkan! seandainya ini dia pilih tahun yang lalu, aku bahkan tidak akan melarang mu menjadikan mereka kambing guling!" ucap Riksa membuat para preman itu bergidik ketakutan.
Mereka telah salah berurusan dengan orang-orang menyeramkan dan sangat kejam ini. Mereka sangat menyesal, karena uang yang mereka terima bahkan tidak sebanding dengan apa yang mereka rasakan sekarang.
Riksa lalu meninggalkan gudang kosong itu, dia mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu. Dia sudah tahu siapa yang menjadi dalang dari semua kejadian ini. Riksa pun memutuskan untuk menghubungi Samuel.
"Bagaimana?" tanya Samuel.
"Aku rasa tuan muda Hasigawa lah berada di balik semua ini, tidak ada barang bukti, tidak ada rekaman CCtv yang bisa di lihat. Ini sudah pasti dia!" jawab Riksa yakin.
"Aku dengar dari Puspa, Naira masih syok. Bos, serahkan saja semua ini padaku, temani saja Naira!" ucap Riksa lalu memutuskan panggilan telepon nya.
Sementara itu Vina dan Adam baru saja pulang dari bekerja. Melihat suasana rumah yang sepi membuat mereka merasa aneh.
Stella memang tidak memberitahu pada Vina dan Adam apa yang terjadi pada Naira, karena tidak ingin mengganggu pekerjaan mereka. Beberapa hari ini Vina dan Adam terlihat sangat sibuk, pergi bekerja sangat pagi dan pulang kerja sangat malam. Jadi Stella tidak mengabari mereka karena tidak mau mengganggu, lagipula Stella yang mengetahui kalau Adam memang tidak suka pada Naira, tidak ingin suasana di rumah sakit nanti malah jadi tidak nyaman karena Stella tahu Adam itu ucapannya selalu asal ceplas-ceplos saja.
Kebetulan sekali saat Vina dan Adam akan malam, hanya ada kakek Virendra di meja makan.
"Selamat malam kakek!" sapa Vina ramah.
Dan hanya Vina yang menyapa, Adam bahkan hanya diam saja saat melihat kakeknya itu. Baru setelah Vina menyenggol lengan Adam, pria itu menyapa kakeknya sama seperti Vina.
"Maaf kek, dimana ibu dan yang lain?" tanya Vina.
"Mereka sedang berada di rumah sakit!" jawab kakek Virendra.
__ADS_1
"Di rumah sakit? siapa yang sakit kek? ibu, ayah atau...!"
"Naira, dia mengalami sesuatu yang buruk kemarin...!"
"Kedatangan nya di rumah ini saja sudah hal buruk..!"
Prang
Kakek Virendra meletakkan sendok yang dia pegang ke atas piring dengan kuat. Ternyata apa yang dikatakan Stella di rumah sakit tadi benar. Akan lebih baik kalau Adam tidak tahu tentang Naira yang masuk rumah sakit. Karena Adam memang tidak tahu kapan harus bicara sembarangan atau harus serius dan menjaga perasaan orang lain.
Vina terkesiap, dia langsung menarik tangannya dari atas meja dan memangkunya. Vina melirik tajam ke arah Adam.
"Vina kakek sudah selesai, sebaiknya kamu habiskan makanan mu dan ajak suamimu yang sepertinya kelelahan itu untuk istirahat!" ucap kakek Virendra yang langsung berdiri dari duduknya dan langsung minta bibi Merry mengantarkan obatnya ke dalam kamarnya saja.
Setelah kepergian kakek Virendra. Vina memukul lengan Adam dengan kencang.
Plakk
"Adam, bisa tidak kalau tidak membuat orang sakit hati sehari saja?" tanya Vina kesal.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya!" bantah Adam yang tidak mau di salahkan sambil mengusap lengannya yang terasa panas karena pukulan Vina.
Vina memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Ya Tuhan Adam, sebenarnya apa masalah mu dengan kak Naira, dia itu baik. Kenapa kamu tidak menyukainya?" tanya Vina.
"Dia itu matre! dia itu hanya menikah kontrak dengan Samuel!" jawab Adam.
"Buka matamu Adam, mana ada orang yang matre tapi tidak pernah meminta apapun pada kak Sam atau ibu Stella, dia bahkan masih memakai pakaian lamanya dari rumah orang tuanya, semua barang branded itu pemberian Puspa dan juga ibu Stella, buka matamu. Darimana kamu melihat kak Naira itu matre? dan masalah pernikahan kontrak itu, kakak mu yang memaksanya, dia juga sudah cerita kan kalau dia mengancam kak Naira saat itu, tapi sekarang mereka sudah saling mencintai, jadi apa masalah mu sebenarnya?" tanya Vina kesal membuat Adam hanya bisa diam.
***
__ADS_1
Bersambung...