Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
266


__ADS_3

Keesokan harinya, segala persiapan pernikahan telah di persiapkan oleh kedua orang tua Vina. Mereka memang meminta agar mereka saja yang menyiapkan segalanya. Mereka juga meminta agar pihak rumah sakit dan juga semua yang mengetahui tentang kecelakaan Vina dan juga operasi besar yang dia lakukan di rahasiakan dari publik. Juga pernikahan ini, sampai Vina pulih benar dan siap mengadakan resepsi pernikahan baru berita pernikahan ini akan di umumkan.


Kevin juga sengaja memberi pekerjaan di luar kota pada Jodi dan Caren agar mereka tidak hadir dan mengganggu jalannya akad nikah pagi ini. Awalnya Kevin tidak setuju, menurut nya lebih baik jujur saja dan menjelaskan pada Jodi jika memang Vina sudah tidak lagi mencintai nya, dan mereka bisa mengakhiri hubungan mereka secara baik-baik. Kevin juga mengatakan agar Vina tetap bersikap baik pada Jodi karena bagaimanapun juga Jodi juga adalah salah satu pemegang saham di perusahaan Kevin. Hal itu semakin membuat Vina kesal dalam hatinya.


Namun Vina berusaha untuk bersikap sewajarnya agar Kevin dan Lisa tidak khawatir padanya. Dia hanya memberi alasan, kalau Adam harus bertanggung jawab atas perbuatannya pada Vina, itu saja.


Semua persiapan sudah rampung, sekarang meskipun masih duduk di kursi roda karena kaki kanan Adam belum bisa berjalan dengan normal. Adam tetap terlihat tampan dengan balutan jas lengkap berwarna putih gading, begitu pula dengan Vina yang sungguh cantik dengan gaun brukat sederhana berwarna senada dengan apa yang di kenakan oleh Adam.


Semua keluarga terlihat antusias, termasuk Samuel dan juga Naira dengan warna pakaian couple'an merah maroon. Juga ada Riksa dan juga Puspa yang sudah memakai pakaian couple juga berwarna biru muda. Sementara kedua orang tua pakaian mereka berwarna pastel, dengan para laki-laki memakai batik berwarna sama dengan pasangan mereka masing-masing.


Masalah pakaian memang tidak perlu di khawatir kan sebab butik Puspa memang yang paling lengkap di kota ini. Penghulu juga sudah tiba, dan dengan duduk di atas tempat tidurnya, Vina di temani oleh ibunya dan juga ibu Stella, Naira dan juga Puspa. Sementara di dekat nya sebuah meja dengan Adam di kursi roda, di dampingi oleh Damar, kakek Virendra, Samuel dan juga Riksa dan Adi. Lalu di depannya ada Kevin dan juga penghulu, serta Imran pengacara keluarga Rahardja juga dua orang pengawal pribadi Kevin yang bertindak sebagai saksi dari pihak Kevin.


Mereka sengaja tidak mengundang siapapun selain dokter Antonius dan Mariana yang tahu kalau Vina tidak bisa menjadi seorang ibu lagi. Kevin juga meminta agar mereka merahasiakan hal ini dari publik.


"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu pada semua saksi setelah Adam mengucapkan kalimat Qabul nya.


"Sah!" seru semua orang yang ada disana.


Setelah itu semua orang mengusap tangan ke wajah mereka sambil mengucap syukur. Vina yang juga ikut melakukan hal yang sama merasa kalau apa yang dia lakukan memang sudah benar. Dan apapun yang terjadi selanjutnya nanti dia harus semakin siap menjalani nya.


Semua orang lalu bersalaman, saling mengucapkan selamat. Lalu Adam dan juga Vina pun meminta restu pada kedua orang tua masing-masing. Sambutan Stella dan Damar sangat baik pada Vina. Stella bahkan memeluk Vina dan meminta maaf atas apa yang sudah menimpanya. Stella bahkan sambil menangis saat memeluk dan mengatakan kalimat itu pada Vina.


Namun sambutan keluarga Vina sungguh sangat dingin pada Adam. Lisa bahkan tidak mau membalas uluran tangan Adam saat pemuda itu mengulurkan tangannya meminta restu pada Lisa. Hal yang serupa juga dilakukan oleh Kevin, dia hanya menyalami Adam sekilas saja, tidak sampai beberapa detik, dan Kevin langsung memalingkan wajahnya dari Adam.

__ADS_1


Hal itu tidak lepas dari penglihatan Riksa dan juga Samuel.


"Sepertinya adikmu akan menjadi menantu yang tidak disukai mertua! kalau di sinetron, dia mungkin akan mengalami tekanan batin!" bisik Riksa pada Samuel.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Riksa, Samuel malah terkekeh.


"Apa kamu lupa siapa dia, dia itu Adam Virendra. Yang ada kedua mertuanya itu yang akan mengalami hipertensi gara-gara Adam!" balas Samuel juga dengan berbisik pada Riksa.


Riksa juga ikut terkekeh pelan, karena apa yang dikatakan oleh Samuel itu memang benar.


"Hei, kalian bisik-bisik apa?" tanya Puspa yang penasaran.


"Tidak ada, bagaimana dengan mu? apa kamu sudah bertemu dengan keluarga mu?" tanya Samuel.


Puspa menggelengkan kepalanya perlahan.


"Belum, aku rasa aku masih tidak ingin bertemu dengan mereka. Aku takut aku akan emosi, semalam saja saat aku pulang dari sini untuk menghadiri tiga harian Fika, rasanya aku masih...!" Puspa tidak dapat melanjutkan perkataannya karena matanya kembali berkaca-kaca.


Semalam dia ditemani Riksa pergi ke rumah pak Nasrul dan ibu Jamilah untuk menghadiri pengajian memperingati tiga hari meninggal nya Fika. Dan disana dia masih melihat ibu Jamilah yang terus menangis dan memeluk foto Fika. Dan hal itu masih membuat Puspa sangat kecewa dan bersedih atas apa yang telah dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri, Mega. Pada keluarga ibu Jamilah dan pak Nasrul.


Riksa langsung merangkul Puspa saat dia menyadari kalau kekasihnya itu kembali bersedih.


"Kenapa kalian tidak menikah saja sekalian, ingat kalau ada pria dan wanita yang tinggal di satu rumah, meski iman nya setebal...!"

__ADS_1


"Mas!" ucap Naira menyela Samuel setelah mendengar kalimat Samuel dan merasa kalimat uang di katakan suaminya itu membuat Puspa menjadi tidak nyaman.


"Aku benar kan sayang, mumpung ada pak penghulu disini kalian menikah saja sekarang!" lanjut Samuel lagi.


Riksa lalu melihat ke arah Puspa yang seperti nya terpengaruh pada apa yang dikatakan oleh Samuel. Riksa mengusap lengan Puspa perlahan dengan sangat lembut.


"Aku akan menikahi Puspa setelah aku mendapatkan restu dari kedua orang tuanya, minimal aku harus bisa menjabat tangan Om Putra ketika aku mengucapkan ijab qobul!" tegas Riksa.


Puspa yang mendengar keyakinan Riksa itu tersenyum sangat senang. Dia merasa kalau Riksa memang sangat menghargainya. Meski sudah dua malam tinggal bersama di apartemen Riksa, tidak sekali pun Riksa memasuki kamar nya bahkan untuk alasan apapun. Dan Puspa merasa sangat aman saat bersama Riksa.


Naira yang mendengar apa yang dikatakan Riksa juga ikut tersenyum.


"Sayang, boleh tidak kalau anak kita nanti laki-laki aku memberi nama anak kita dengan nama Riksa?" tanya Naira pada Samuel yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari Samuel.


"Tidak!" jawab Samuel dengan tegas.


"Sayang, boleh ya? ya?" tanya Naira membujuk Samuel.


"Sayang, yang benar saja, kenapa harus Riksa. Dari sekian juta pria tampan di dunia ini kenapa harus Riksa?" tanya Samuel tak percaya dengan keinginan istrinya itu.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2