Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
142


__ADS_3

Aku jadi bingung pada pria ini, terkadang sikapnya sulit di tebak. Dan itu membuat ku merasa takut. Takut kalau aku menyukainya, aku tahu itu tidak boleh. Tapi masalah hati, siapa yang tahu dan siapa yang bisa mengaturnya.


Aku menundukkan kepalaku melihat butiran pasir di di bawah. Dan seperti itulah diriku, hanya butiran pasir yang kebetulan dia ambil dan di letakkan di tangannya. Dia tidak akan menggenggam ku selamanya bukan. Tangan nya terlalu berharga untuk menggenggam pasir tak berarti seperti diriku.


Aku menghela nafasku panjang dan kembali menoleh ke arahnya yang ternyata masih memperhatikan aku.


"Apa yang kamu pikirkan barusan?" tanya Samuel padaku.


Membuat ku melebarkan sedikit mataku, karena aku belum mengerti maksudnya.


"Maksudnya?" tanya ku bingung.


"Kamu melihat ke arah bawah, dan kamu diam. Apa yang kamu pikirkan barusan?" tanya nya lagi.


Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat.


"Tidak ada, apa kita akan disini sampai siang?" tanyaku padanya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


Samuel hanya mengangguk pelan beberapa kali.


"Iya, suasana disini lumayan. Sedikit bisa membuat refresh isi kepala ku yang setiap hari selalu berhadapan dengan dokumen dan meeting dengan para klien!" jawabnya diplomatis.


Aku tidak menyangka kalau sebenarnya dia juga bisa jenuh dengan rutinitas nya itu. Ku kira dia itu sangat gila kerja.


"Mungkin seminggu sekali, kita harus selalu berlibur seperti ini ya Nai?" tanya nya padaku.


Deg


Aku terkejut, dia panggil aku Nai? aku langsung menoleh ke arahnya. Pandangannya lurus ke depan, dan wajahnya memang tidak seserius biasanya.


Saat dia menoleh, pandangan kami bertemu. Tapi aku langsung memalingkan wajah ku ke arah lain.


"Kenapa Nai, apa tidak suka aku memanggil mu seperti itu?" tanya Samuel yang sepertinya mengetahui apa yang membuatku terkejut dan melihat ke arahnya begitu lama tadi.


Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat.


"Tidak mas, bukankah sesuai dengan perjanjian itu kamu bebas memanggil ku apa saja!" jawab ku tanpa melihat ke arahnya.


Dia mendengus kesal.


"Huh, perjanjian itu ya?" tanya nya dan kemudian dia terdiam beberapa saat.


"Hanya satu tahun ya Nai, ck... sudah siang. Ayo kembali ke hotel. Kita masih harus mempersiapkan diri untuk pesta nanti malam!" ucapnya lalu dia berdiri dari posisi duduknya di atas pasir pantai.


Aku juga mengikuti nya berdiri.

__ADS_1


"Akan ada pesta dansa nanti di sana!" jelas Samuel.


Aku terkesiap, dan seperti nya dia menyadari reaksi yang aku tunjukkan itu.


"Kamu lupa, bagaimana cara berdansa?" tanya nya sambil mengangkat sebelah alisnya.


Aku menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal.


"Maaf mas, tapi aku memang lupa!" jawab ku terus terang.


Samuel kembali menghela nafasnya panjang, mungkin dia sudah sangat kesal padaku. Aku tidak bisa berenang dan membuat acara liburan nya gagal, lalu aku bahkan lupa cara berdansa, tentu saja akan membuatnya tidak nyaman nanti di pesta tuan Thomas.


"Baiklah, kita seperti nya memang harus kembali ke hotel. Aku akan mengajari mu, dansa biasa saja!" ucapnya lalu berjalan mendahului aku.


Aku mengikuti langkah Samuel yang tidak terlalu terburu-buru, dia berjalan sambil menikmati udara dan pemandangan yang tidak akan kami dapatkan di ibukota. Aku juga hanya berani berjalan di belakangnya sambil mengatur tempo jalanku. Sesekali aku memperhatikan apa yang dia perhatikan. Dia banyak melihat ke arah anak-anak kecil yang bermain bola dan membuat rumah rumah dan istana pasir di tepi pantai.


Dia menoleh sekilas ke arah ku. Dan saat dia menoleh aku langsung menundukkan kepalaku.


Setelah kembali ke hotel, Samuel mulai menyalakan musik dari ponselnya dan mengajak ku berdansa. Samuel bahkan menggeser kursi meja rias ke dekat lemari dan juga sofa di dalam kamar agar kami memiliki cukup ruang untuk berlatih dansa.


Beberapa kali aku masih melakukan kesalahan dan membuatnya melotot padaku. Tapi setelah kurang lebih setengah jam berlatih. Akhirnya Samuel tersenyum sambil duduk di tepi tempat tidur.


"Lumayan, tapi aku lelah!" ucapnya.


Aku berjalan ke arah lemari pendingin yang ada di ruang tamu di kamar lalu mengambil satu botol minuman ringan dingin untuk Samuel.


"Buka tutup botol nya!" perintahnya.


Lalu aku kembali menarik tangan ku mendekat ke arah ku dan membuka tutup botol minuman itu, saat aku akan mengulurkan padanya lagi dia lalu berkata.


"Minumlah!" ucapnya lagi.


Aku diam sejenak.


"Mas, tapi ini aku ambilkan untuk mu!" jelas ku pada Samuel.


"Iya, kamu minum dulu!" ucapnya kemudian.


Aku juga langsung meminumnya, tanpa menempelkan bibirku di bibir botol.


"Ck... sudahlah!" ucapnya lalu berdiri dan langsung menarik pinggang ku dan menempelkan tubuhnya ke arah ku, dia langsung minum jus yang ada di mulutku.


Aku terkejut, nyaris aku menjatuhkan botol yang aku pegang. Mataku terbelalak lebar, dan tangan ku yang bebas mencengkeram erat lengan Samuel.


"Hah, sudah. Sekarang kamu mandi saja dulu. Aku akan memesan makan siang untuk kita. Aku sudah sangat lapar!" ucapnya lalu melewati ku menuju ke meja yang diatasnya terdapat fasilitas telepon hotel.

__ADS_1


Aku masih diam di tempat ku berdiri.


'Kalau begini terus, aku pasti akan salah paham nanti!' batin ku.


Setelah menghela nafas, aku masuk ke dalam kamar mandi dan segera mandi. Mungkin dengan segera mengguyur kepala ku dengan air dingin. Aku akan melupakan kejadian barusan.


Beberapa menit kemudian, aku juga sudah keluar dari dalam kamar mandi dan berganti pakaian. Aku juga sudah mengeringkan rambut di dalam kamar mandi tadi.


Aku ke ruang tamu yang ada di kamar dan melihat Samuel sedang duduk dengan makanan yang sudah terhidang di atas meja, dan dia sedang sibuk dengan ponselnya. Aku mendekatinya dan duduk di kursi yang ada di sebelahnya.


"Tadi pagi kamu sarapan dengan siapa?" tanya Samuel tiba-tiba tanpa melihat ke arah ku.


"Sebenarnya awalnya aku duduk sendiri, tapi kemudian Caren dan Kenzo...!"


"Caren atau Kenzo?" tanya Samuel sambil menatap tajam ke arah ku.


'Ini kenapa lagi sih, dia tadi masih baik-baik saja. Kenapa sekarang marah-marah lagi?' tanya ku dalam hati.


Aku merasa bingung kenapa Samuel tiba-tiba bertanya seperti itu.


"Mas, tadi pagi itu...!"


Aku baru mencoba untuk menjelaskan tapi Samuel lagi-lagi menyela apa yang ingin aku jelaskan.


"Tinggal bilang kamu sarapan dengan Caren atau dengan Kenzo?" tanyanya dengan nada kesal.


"Aku duduk satu meja dengan Kenzo, tapi...!"


"Satu piring juga?" tanya Samuel kesal.


"Mas tapi bukan seperti itu, aku pesan makanan tiba-tiba dia datang...!"


"Bahkan satu sendok yang sama?" tanya Samuel lagi-lagi menyela ucapan ku.


Aku menelan saliva ku dengan sangat susah. Mata Samuel sudah memerah. Aku sangat gemetaran, aku berusaha menjelaskan dia tak mau dengar. Jadi aku harus bagaimana.


Brakk


Aku terhenyak kebelakang, saat Samuel memukul meja yang terdapat banyak makanan di atasnya. Bahkan kuah sup di dalam mangkuk muncrat ke atas.


"Kalian perempuan sama saja!" teriak Samuel lalu berdiri dan meninggalkan kamar hotel.


Aku mengusap wajahku kasar. Aku tahu aku salah, karena jika aku lebih waspada, Kenzo tak kan bisa mencuri sendok yang aku pegang. Dan semua ini tidak akan terjadi.


'Apa yang harus ku lakukan?' tanya ku dalam hati.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2