Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
245


__ADS_3

Jonathan yang merasa Samuel dan Riksa terlalu lama mengulur waktu pun mulai kehabisan kesabaran nya.


Dia langsung bicara pada Riksa.


"Jika kalian mau menghabiskan waktu kalian lebih lama disini, terserah aku akan lapor pada polisi saja kalau Nasrul dan Jamilah lah yang menculik Puspa!" ucap Jonathan dan bersiap untuk segera berdiri dari duduknya.


Riksa dengan cepat langsung menarik tangan Jonathan dengan kuat hingga membuat pria blasteran Jerman itu terduduk kembali.


Dengan mata melotot Jonathan menatap Riksa dengan kesal.


"Lalu apa kamu pikir dengan lapor polisi masalah akan selesai? Aku sudah bilang padamu, kalau yang dilakukan Tante Mega juga adalah perbuatan kriminal, lalu kamu ingin masalah ini menjadi besar dan semua orang mengetahui nya, berapa orang yang mulutnya bisa kamu bungkam?" tanya Riksa yang juga sudah mulai tersulut emosi akibat ucapan dan tingkah dari Jonathan.


Riksa memang adalah tipikal orang yang sabar dan lebih suka berpikir sebelum bertindak, tapi kenyataan kalau Jonathan adalah tunangan Puspa dan telah mencium kekasihnya itu di hadapan nya membuat Riksa menjadi mengesampingkan sisi baik dan penyabar miliknya.


Samuel menepuk bahu Riksa pelan, dia tahu kalau sekertaris pribadi nya itu juga dalam keadaan yang tidak baik. Dia juga tahu kalau sebenarnya Riksa sudah berusaha menahan dirinya sejak tadi karena dia memang tidak suka pada Jonathan. Memangnya siapa yang bisa berjalan bersama saingan cintanya, meskipun seseorang itu kesabaran nya luar biasa tetap saja dia akan sangat kesal.


Riksa yang mengerti maksud Samuel meskipun atasannya itu tidak bicara satu patah kata pun langsung diam dan memalingkan wajahnya dari Jonathan.


Samuel lalu melihat ke arah Jonathan.


"Ada Adab kalau bertamu ke rumah orang dan bertanya tentang sesuatu yang sedikit pribadi. Kita tidak bisa langsung bertanya dan pergi begitu saja. Mereka tidak akan memberitahukan apapun. Apalagi tuan rumah tidak ada disini, kita perlu tahu dulu situasi nya disini. Aku tadi sudah bilang padamu kan, kalau memang kamu tidak mau ikuti cara kami. Kamu bisa pergi!" tegas Samuel.

__ADS_1


Samuel sungguh tidak ingin ada keributan antara kedua orang pria di sampingnya itu.


Riksa masih diam, tapi Jonathan langsung mendengus kesal.


"Kalau kita terlambat, bisa saja kan Puspa sudah mereka lukai atau bahkan lebih buruk dari itu!" kesal Jonathan pada Samuel dan Riksa.


"Heh, kamu pikir semua orang sejahat calon ibu mertua mu itu?" tanya Riksa yang sudah mulai kesal.


Samuel langsung memukul lengan Riksa agak kencang karena ingin Riksa diam. Samuel sudah mulai memperhatikan sekeliling dan seperti nya dia sudah tahu pada siapa dia harus bertanya tentang Nasrul dan Jamilah.


"Jonathan, kamu tunggu saja di dalam mobil. Sikapmu yang seperti ini akan membuat semua orang menaruh waspada dan curiga padamu. Aku dan Riksa yang akan mencari tahu!" seru Samuel.


Riksa mengangguk paham, tapi Jonathan masih enggan untuk menjawab dan masih enggan pula untuk beranjak dari tempatnya.


Jonathan yang melihat tatapan dingin Samuel itu pun langsung merinding sendiri seluruhnya. Dia langsung berdiri dan beranjak pergi dari tempat nya duduk. Jonathan langsung keluar dan masuk ke dalam mobil Riksa.


Setelah Jonathan pergi, Riksa dan Samuel juga ikut berdiri, mereka berpura-pura menanyakan toilet pada seorang yang berada tak jauh dari mereka. Setelah orang itu menunjukkan dimana letak toilet nya Riksa dan Samuel langsung ke arah dimana orang tersebut menunjuk. Tapi mereka berdua tidak ke toilet, Riksa langsung menuju ke arah belakang rumah dan mendengarkan percakapan dari beberapa orang yang dia yakini adalah sanak family dari pak Nasrul dan ibu Jamilah.


"Ya Allah, gak nyangka kenapa Fika malah pergi secepat ini, padahal kata wak Nasrul majikannya baik banget, bukan depan Fika mau di operasi, dan wak sudah berencana mengadakan selamatan buat kesembuhan Fika nanti, saya teh yang disuruh cari ustad buat ceramah nanti. Gak nyangka malah.. hiks hiks!" ucap seorang wanita dengan kerudung berwarna biru gelap sambil meracik teh yang jumlahnya cukup banyak.


"Iya saya juga kaget Imah, kemarin baru saja ce Jamilah nyuruh saya bikinin kerudung buat majikan nya yang baik itu, katanya hari ini ulang tahun. Lah kok malah dengar kabar, kalau gak jadi malah suruh bakar aja! kira-kira kenapa ya? apa meninggal nya Fika ini mah ada hubungannya sama majikan ce Jamilah?" tanya wanita satu lagi yang mengelap tatakan gelas yang duduk di samping wanita berkerudung biru.

__ADS_1


"Gak tahu juga, tapi suami kita kan di suruh Wak Nasrul bantuin dia buat urusan penting katanya, saya mah cuma bisa mendoakan semoga segala urusan Wak Nasrul berjalan lancar. Sedih saya, orang baik kayak wak Nasrul sama ce Jamilah teh harus mengalami nasib begini!" ucap wanita berkerudung biru tua itu lagi.


"Iya saya juga Imah, kalau gak ada wak sama ece saya sama suami saya teh gak mungkin lah masih hidup sampai sekarang, sudah bonyok kami, babak belur di hajar juragan Marta itu, rentenir galak itu!" ucap nya membuat Riksa semakin merasa sedih dalam hatinya.


Kedua orang yang menjadi dalang penculikan Puspa itu ternyata sebenarnya memang adalah orang-orang yang sangat baik. Riksa merasa hatinya sangat pilu, dia percaya kalau orang-orang baik seperti itu tidak mungkin akan menyakiti Puspa. Dia merasa kalau Puspa akan baik-baik saja. Tapi pemikiran nya itu mendadak berubah ketika Imah bicara lagi.


"Tapi Jajang sama Jacky itu kan preman ya, kenapa gitu Wak Nasrul minta suami suami kita pergi sama preman-preman itu?" tanya Imah pada wanita di sampingnya.


Wanita di sampingnya juga langsung mengangguk.


"Iya ya, mana kejam banget lagi Jajang sama Jacky itu. Keluar masuk penjara udah berapa kali coba, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, apa coba yang belum mereka lakuin kejahatan di dunia ini, ih serem banget. Ngapain ya wak Nasrul berurusan sama orang-orang itu?" tanya wanita yang satu lagi.


"Gak tahu, tapi Wak mah tadi tuh kelihatan marah sekali. Ce Jamilah yang biasa diam juga tadi tuh kelihatan histeris banget. Saya mah cemas, takut!" ucap Imah yang merasa sangat khawatir.


"Huh, semoga mereka gak aneh-aneh ya? kata Kang Udin mah cuma pergi ke gudang karet itu, dekat stasiun yang udah gak di pakai itu tuh... gak jauh lah!" kata wanita itu.


Riksa yang mendengar hal itu langsung menghampiri Samuel yang tengah mengawasi keadaan sekeliling saat Riksa menguping pembicaraan keluarga pak Nasrul dan ibu Jamilah.


"Bos, aku tahu dimana Puspa!" seru Riksa yang langsung mendapatkan anggukan kepala puas dari Samuel.


"Bagus, ayo kita segera kesana!" seru Samuel dan mereka berdua langsung bergegas berpamitan pada warga yang mengikuti pengajian dan keluar dari rumah pak Nasrul dan ibu Jamilah.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2