
Sejak tadi Samuel terus bersama ku, meski dia selalu sibuk dengan ponselnya dia selalu menemaniku meski hanya sekedar duduk di sampingku.
"Sayang, apa ada yang kamu butuhkan?" tanya Samuel padaku.
"Tidak mas!" ucap ku sambil tersenyum padanya.
Tak lama ponselnya berdering, dan suasana di ruang keluarga ini terlalu bising jika Samuel harus mengangkat telepon di sini dan bicara dengan rekan bisnisnya yang sedang menelpon ya.
"Sayang, ada telepon dari klien. Aku keluar sebentar ya!" ucap Samuel dan langsung berdiri dan pergi meninggalkanku setelah aku menganggukkan kepala tanda setuju dengan apa yang dia ucapkan.
Pandangan ku lalu beralih pada dua orang yang kini sedang bercanda bersama dengan Dina dan juga salah seorang putri dari teman akrab di bu Stella.
Pemandangan yang begitu membuatku sangat keheranan, sebabnya tak lain dan tak bukan adalah dua orang yang aku maksud itu adalah Puspa dan Riksa.
Mereka mengobrol selayaknya orang biasa yang tidak pernah terjadi masalah sama sekali tadi pagi atau baru saja. Mereka benar-benar terlihat tertawa dan seperti tidak ada beban seperti bukan orang yang sedang bermusuhan. Meski sebenarnya mereka memang tidak bermusuhan tapi aku rasa jika seseorang menyampaikan perasaannya kemudian ditolak, maka pasti akan butuh waktu yang cukup lama untuk orang itu bisa bercakap-cakap lagi dengan si penolak perasaannya tersebut.
Tapi apa yang kulihat ini sungguh diluar ekspektasi ku, karena Puspa bahkan bisa tertawa bebas dan lepas ketika sedang bercanda dengan Riksa, Dina dan juga putri dari kerabat Bu Stella.
Aku menghela nafasku berat ketika pandanganku beralih pada seseorang yang sedang berdiri di dekat rak buku yang berada tidak jauh dari media televisi yang sangat besar yang berada di ruang keluarga ini.
Seorang pria dengan gelas jus di tangannya dan memandang ke arah ke empat orang yang tadi juga aku perhatikan.
"Kenapa Adam melihat mereka seperti itu, bukanlah jika ingin mengobrol seharusnya dia tinggal ke sana saja. Mereka semua pasti mau berbincang dengannya kan!" gumam ku sendiri.
Tapi saat aku sedang memperhatikan orang-orang itu tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang menghampiriku dan sepertinya aku mengenal orang ini. Meski aku tahu kalau dia memang sudah berumur tapi penampilan dan riasannya sungguh bisa dibilang sangat menor. Pakaian nya juga terlihat kurang sopan menurutku karena dia hanya memakai mini dress tanpa lengan bahkan dengan kuku yang di cat berwarna merah tua.
__ADS_1
Dia datang besama dengan Bu Stella, aku yang merasa kalau aku harus menghormati tamu ini maka aku berdiri dari dudukku dan dan tersenyum ke arah wanita itu dan juga Ibu Stella.
"Sayang, ini Tante Melinda. Salah satu rekan kerja ayahmu yang sudah sangat lama!" ucap ibu Stella memperkenalkan siapa wanita yang pertamanya itu.
Wanita itu tersenyum dan aku bisa melihat kalau senyumnya itu hanya dibuat-buat karena matanya terus menyiratkan kalau dia tidak menyukaiku.
"Hais, bukan hanya rekan kerja kamu juga sahabat. Dan nyari saja kami berbesanan!" ujar wanita itu sambil tersenyum dengan senyuman yang aneh menurutku.
Aku jadi ingat, sepertinya wanita ini adalah wanita yang datang bersama dengan putrinya yang marah-marah sebelum aku menikah dengan Samuel.
"Oh, Tante yang waktu itu datang ke rumah dan marah-marah ya sama adik saya!" ucap ku terus terang.
Aku tidak mau saja kalau sampai wanita ini berlagak sok baik di depanku padahal dia tidak baik. Dan aku yakin kalau ibu Stella percaya padaku.
"Ha ha sayang, maafkan kesalahan tantenya waktu itu ya. Tante tidak tahu kalau ternyata kalian memang saling mencintai dan pernikahan itu bukan hanya kamu yang mengada-ngada!" ucap Tante Melinda.
Aku langsung mengernyitkan keningku.
'Mengada-ngada, wah Tante Melinda ini pandai sekali bersandiwara!' batin ku.
"Apa maksud perkataan menantuku barusan Melinda sebaiknya kamu menjelaskannya kepada ku!" seru Bu Stella dengan tatapan tegas kepada tante Melinda dan ibu Sheila juga menghampiriku lalu merangkulku.
"Dia ini menantu ku, dan sebentar lagi dia akan melahirkan cucuku. Aku tidak mau ya ada kesalahpahaman di sini, dan jangan sampai ada berita di luar sana yang macam-macam mengenai menantuku ini!" seru ibu Stella.
Sebenarnya aku tidak bermaksud menyulut permusuhan antara kedua wanita ini, tapi aku juga tidak mau dianggap sebagai wanita lemah yang tidak berani melaporkan apa tindakan kasar yang dilakukan oleh dan Melinda padaku dan keluargaku. Karena ayahku selalu berkata kalau kita benar maka kita harus terus berjuang demi kebenaran itu, dan kita tidak boleh mengalah pada kesalahan dan ketidakbenaran.
__ADS_1
Tante Melinda tersenyum kikuk.
"Maafkan aku Stella, kamu tahu kan saat itu Natasha sangat depresi begitu mendengar kabar kalau Samuel akan menikah dengan wanita lain dan bukan dirinya, padahal kan perjodohan antara mereka sudah ditetapkan. Jadi saat itu aku hanya ingin menemani Natasha saja tidak tahu kalau sampai dia mengamuk di rumah Naira, tapi kami sama sekali dia tidak menyakiti Naira dan keluarganya. Benar kan Naira?" tanya Tante Melinda padaku dengan ekspresi seperti orang yang tidak bersalah sama sekali wajahnya benar-benar polos.
Kenapa aku malah merasa sebagai seorang pengadu di sini, dan kenapa aku merasa sepertinya dia memojokkanku sekarang.
"Saat itu aku bahkan tidak mengenal tante dan Putri tante, untung sejak malam itu para tetangga membela aku kalau tidak aku tidak tahu apa yang terjadi padaku dan adikku!" aku tidak mau kalah dengan wanita yang memutar balikan fakta dan pandai bersandiwara ini.
Tapi semua yang aku katakan ini memang benar saat itu seandainya tidak ada para tetangga terutama ibu Saodah yang membantuku, aku benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi pada ku dan Ibras. Karena malam itu Natasha dan juga Tante Melinda benar-benar seperti dua orang wanita yang sedang kesurupan.
Mereka marah-marah bahkan mereka berani main tangan.
Tante Melinda terlihat semakin panik, tapi aku masih merasa kalau tatapannya padaku begitu tajam seperti orang yang sedang mengertak dalam hatinya pada ku.
"Tante sungguh-sungguh minta maaf sayang, sejak saat itu tante berusaha menjelaskan pada Natasha kalau memang Samuel bukanlah jodohnya. Buktinya sekarang kalian aman-aman saja kan Natasha sama sekali tidak mengganggu kalian. Itu karena tante dan om sangat berusaha menenangkan putri kami itu meskipun hati kami juga hancur melihat dia sangat sedih!" ucap Tante Melinda dengan ekspresi yang berubah-rubah dan dibuat-buat.
Kalau ada penghargaan piala Oscar akting terbaik, aku rasa tante Melinda adalah salah satu kandidatnya.
"Ya sudah, karena suasananya sekarang sedang sangat bahagia. Kita bisa lupakan sejenak masalah itu. Tapi Melinda, aku sangat berharap kalau apa yang kamu katakan barusan itu memang benar. Aku sedikit banyak juga tahu bagaimana sifat Natasha, jadi aku harap kamu bisa menjelaskan padanya dengan baik. Mungkin di luar sana akan ada pemuda yang lebih baik dari pada Samuel yang memang menjadi jodohnya, kalau Samuel sih jodohnya sudah jelaskan menantukan yang cantik ini!" ucap ibu Stella sambil terus merangkul lengan ku.
Aku ikut tersenyum karena Ibu Stella melihat ke arahku juga tersenyum, tapi saat aku melihat ke arah tante Melinda, wuss... aku berasa seperti ditatap seseorang dari dunia lain.
***
Bersambung...
__ADS_1