Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
81


__ADS_3

Naira sangat takut, dia nyaris tak bisa berdiri, tapi dia mencoba untuk bisa bangun sebelum sesuatu yang tidak dia inginkan terjadi. Samuel masih dalam pengaruh minuman keras, dan di tambah lagi dia sangat emosi. Naira takut kalau hidupnya akan berakhir malam ini.


Dengan sekuat tenaga Naira mencoba bangun, tapi sebelum bisa melakukan itu, tangan Samuel sudah berhasil menarik pergelangan kaki Naira, membuat gadis itu kembali terjatuh ke lantai.


"Agkh!" pekik Naira ketika kedua siku tangannya membentur lantai.


Naira dengan cepat menoleh ke arah Samuel.


"Tuan, aku mohon lepaskan aku. Aku minta maaf kalau aku salah bicara!" pekik Naira.


"Kenapa berusaha lari, bukan kah tadi kami menunjukkan perhatian mu padaku? kenapa malah lari?" tanya Samuel dengan nada suara yang semakin meninggi.


Naira tercengang, ternyata dia lah yang membuat Samuel semakin emosi. Saat ini Naira tidaj bisa berfikir dengan benar. Dia malah bengong dan melihat tatapan Samuel yang semakin garang.


Srett


"Agkh!" pekik Naira ketika tiba-tiba Samuel menarik kaki Naira dengan kuat. Membuat kepala Naira nyaris terbentur ke lantai kalau saja Naira tidak dengan cepat menahannya dengan tangannya.


"Maaf tuan, aku... aku tidak akan pergi... tidak akan!" ucap Naira sangat gugup sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali. Mata Naira sudah berkaca-kaca dia merasa apapun yang dia katakan hanya akan membuat Samuel semakin marah.


"Tidak akan pergi?" tanya Samuel dengan nada yang begitu dingin.


Naira dengan cepat menggelengkan kepalanya, dan karena itu air matanya pun jatuh, tumpah dan membasahi pipinya. Dengan cepat Naira menyekanya dengan tangannya.


"Tidak akan tuan, aku tidak akan pergi darimu!" ucap Naira semakin gugup.


"Selamanya?" tanya Samuel lagi kali ini dengan tatapan mata yang begitu tajam dan dengan rahang yang mengeras.

__ADS_1


Naira terkesiap, dia tidak langsung menjawab. Karena bagaimanapun mereka hanya akan menjadi suami istri selama satu tahun seperti yang tertulis dalam perjanjian mereka, dalam kontrak yang telah dibuat oleh Samuel dan di tanda tangani oleh Naira.


"Jawab Naira!!" bentak Samuel.


Naira terkesiap lagi, sampai dia terhentak dan memejamkan matanya sekilas karena begitu terkejut. Tapi Naira lagi-lagi dibuat tercengang karena baru kali ini Samuel menyebut namanya, biasanya dia akan memanggil Naira dengan hei, si bodoh atau perempuan ceroboh.


"Tap... tapi.. tuan, selamanya itu? selama kita di kota ini?" tanya Naira bingung.


Samuel terdiam, tapi sedetik kemudian dia malah terkekeh.


"Ha ha ha Naira, entah kamu ini benar-benar lugu, atau hanya pura-pura lugu! Selamanya itu artinya seumur hidup mu!" seru Samuel yang meskipun dia tertawa tapi tertawaan itu terdengar sangat mengerikan.


Naira menggelengkan kepalanya, dia rasa Samuel sudah sangat depresi karena pengkhianatan Caren.


Saat Naira masih terbungkam karena ketakutannya, Samuel mendekatinya dan berbisik di telinganya.


Naira membelalakkan matanya, nafasnya tak beraturan dan detak jantungnya terasa semakin kencang. Dia takut, cemas dan khawatir juga merasa sangat bingung di saat yang bersamaan.


Tapi lagi-lagi ketika Naira belum tersadar dari lamunan nya, Samuel menekan kedua bahu Naira ke lantai.


"Tu... tuan.. tolong lepaskan aku tuan, aku mohon!" Naira masih terus berusaha meminta agar Samuel melepaskannya.


Tapi mata Samuel yang sudah begitu berkabut karena amarah tidak lagi memperdulikan apapun yang dikatakan oleh Naira. Yang ada di dalam pikiran nya hanyalah membuat Naira tidak bisa mengkhianati nya seperti yang dilakukan Caren padanya.


Samuel bahkan membungkam mulut Naira yang terus meronta dengan bibirnya, membuat air mata Naira mengalir ke pelipisnya. Itu adalah ciuman pertama Naira, sungguh Naira tidak berharap akan di lakukan disaat seperti ini meskipun Samuel adalah suami sah nya.


Tangan Naira yang terus berusaha mendorong tubuh Samuel pun sudah dikunci oleh tangan Samuel dan di tekan kuat di atas kepala Naira. Saat bibir Samuel sudah melepaskan bibirnya, Naira terus berusaha menggelengkan kepalanya, agar Samuel tidak lagi dapat melakukan hal yang sama, mencium Naira lagi. Tapi sebuah perkataan yang di ucapkan oleh Samuel. Membuat Naira berhenti memberontak.

__ADS_1


"Aku adalah suami mu Naira!" ucap Samuel sambil menatap dalam pada Naira.


Kalimat yang dikatakan oleh Samuel itu seolah membuat Naira tidak bisa menolak apapun yang dilakukan Samuel padanya. Naira hanya diam, pasrah saat bibir Samuel dengan perlahan kembali menyatu dengan bibirnya, bahkan dia hanya bisa memejamkan mata dan menangis tanpa suara ketika perlahan ciuman itu semakin turun ke leher dan juga selangka nya. Bahkan Naira hanya bisa menggigit bibir bawahnya ketika tangan Samuel beralih ke perut Naira dan menyingkap kaos uang dia gunakan.


"Tu...tuan!" lirih Naira ketika Samuel membuka pengait dari benda yang menutupi bagian dada Naira.


"Panggil namaku Naira, sebut nama suami mu!" ucap Samuel dengan suara yang semakin serak.


Naira hanya diam dan tidak membalas apapun yang di lakukan Samuel padanya. Tangannya yang sudah terlepas dari kuncian Samuel bahkan hanya bisa dia kepalkan dengan kuat. Dirinya belum pernah merasakan apa yang dia rasakan saat ini, ingin menolak tapi tubuhnya bahkan tidak mau di ajak bekerja sama, dia menggeliat ketika tangan dan bibir Samuel menyentuh kulitnya secara langsung.


Samuel semakin bersemangat melihat reaksi tubuh Naira, tanpa menunggu lebih lama, karena sesuatu yang berada di bawah sana sejak tadi juga sudah memberontak. Samuel melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh Naira. Gadis itu masih terus menangis, dia menutup mulutnya rapat ketika Samuel memintanya menyebut namanya.


Samuel bahkan sudah tidak sabar hingga akhirnya dia pun menyatukan dirinya dengan Naira. Naira merintih menahan sakit, tapi dia tetap tidak mau menyebutkan nama Samuel. Dia memilih mengepal kan tangannya kuat dan menggigit bibirnya ketika rasa sakit itu semakin menjadi-jadi.


Air mata Naira bahkan sudah membasahi karpet yang menjadi alas mereka melakukan hubungan untuk pertama kalinya itu. Ada rasa kecewa di hati Naira, meskipun ini adalah kewajiban nya tapi dia merasa seperti terpaksa menerima semua ini.


"Panggil nama ku Naira, panggil namaku!" perintah Samuel.


Tapi Naira terus menggelengkan kepalanya, dia bahkan memilih untuk memukul-mukul kan tangannya yang terkepal di lantai saat rasa sakit itu makin perih dan menjadi.


Cukup lama Samuel berusaha, dan akhirnya dia bisa menembus pertahanan Naira. Samuel tersenyum puas, karena dirinya adalah pria pertama bagi istrinya. Samuel bahkan semakin bersemangat saat Naira mulai mengangkat tangannya dan refleks mencakar kuat punggung Samuel.


Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu. Dan akhirnya Naira pun terkulai lemah tak berdaya di tempat nya. Samuel yang seperti nya juga sudah lelah, menggendong tubuh polos Naira dan membaringkannya di tempat tidur. Naira hanya diam, dia hanya memiringkan tubuhnya membelakangi Samuel saat Samuel ikut tidur di sampingnya setelah menyelimuti nya, Naira memejamkan matanya dengan air mata yang masih mengalir dari matanya yang terpejam.


Author POV end


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2