Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
313


__ADS_3

Teddy yang pergi dari rumah sakit bahkan sama sekali belum mengobati beberapa luka yang dia derita. Teddy tidak kembali ke perusahaan nya, ataupun ke rumahnya. Dia malah menuju ke perusahaan tekhnologi terbesar di kota ini milik keluarga Hasigawa.


Teddy berjalan dengan sangat terburu-buru ketika sudah keluar dari dalam mobilnya. Dengan pakaian yang lumayan banyak terdapat noda darah, dan juga beberapa luka di wajahnya. Teddy terus melangkah menuju ke sebuah ruangan yang di depan pintunya terdapat tulisan CEO.


Ceklek


Dengan cepat Teddy membuka pintu dan langsung masuk begitu saja, sebelum pemilik ruangan itu mempersilahkan dirinya untuk masuk.


Semua orang yang berada di ruangan itu langsung melihat ke arah pintu, beberapa orang tamu dari Kenzo begitu terkejut melihat Teddy datang dengan keadaan seperti itu.


"Tuan Teddy Rizaldi, apa yang terjadi pada anda..?" salah seorang klien Kenzo yang mengenal Teddy juga menyapanya dan bertanya padanya.


"Mohon maaf, semuanya sepertinya tuan Teddy punya urusan penting dengan ku. Kita akan lanjutkan pembicaraan kita besok tuan tuan!" seru Kenzo mencoba untuk membuat suasana di ruangan nya lebih kondusif.


Semua orang lalu keluar dari dalam ruangan kerja Kenzo. Beberapa orang yang mengenal Teddy juga keluar sambil menyapanya.


Setelah semua orang keluar Teddy mulai menghampiri Kenzo yang masih duduk tenang di kursi di belakang meja kerjanya. Teddy mendekat ke arah meja kerja Kenzo dan memukul dengan keras meja itu dengan kedua telapak tangan nya yang bahkan masih terluka.


Brakk


Teddy menggebrak meja dan membuat Kenzo langsung berdiri dari duduknya.


"Aku berhenti dari kerja sama bodoh ini!" ucap Teddy dengan mata dan wajah yang sudah memerah karena marah.


"Apa maksud mu?" tanya Kenzo tanpa rasa bersalah sedikit pun tersirat di wajahnya.

__ADS_1


"Kamu lihat ini, luka ini tidak seberapa dengan luka yang trauma yang dirasakan Naira. Apa kamu tahu kondisinya seperti apa sekarang?" tanya Teddy sangat kesal pada Kenzo.


Kenzo malah menganggukkan kepalanya.


"Aku tahu, dia sudah berada di rumah sakit dan dia baik-baik saja!" jawab Kenzo dengan begitu tenang.


Teddy yang mendengar ucapan Kenzo yang begitu tenang semakin kesal pada pria di depannya itu, sambil mengeraskan rahangnya Teddy juga mengepalkan tangannya.


"Sekarang dia memang selamat, tapi bagaimana kalau sampai aku datang terlambat dan sesuatu yang buruk terjadi padanya, aku sudah tidak mau lagi bekerja sama dengan mu Kenzo Hasigawa!" geram Teddy sangat kesal.


Kenzo yang merasa kalau Teddy memang terlalu terbawa perasaan beralih dari kursinya menghampiri Teddy. Dia berdiri tepat di depan pria yang memang masih sangat muda itu.


"Jangan terlalu lemah Teddy, orang yang lemah tidak akan pernah mendapatkan apa yang dia inginkan!" tegas Kenzo yang tidak suka kalau Teddy sampai benar-benar menyerah dari rencana mereka.


"Aku lebih memilih tidak mendapatkan Naira daripada melihatnya kesakitan, kamu tidak tahu bagaimana dia merintih kesakitan dan terus menangis! aku sudah putuskan aku tidak mau lagi bekerja sama dengan mu...!"


"Akan lebih baik seperti itu, akan lebih jika aku menyesal seumur hidup karena tidak mendapatkan cinta pertama ku tapi dia bahagia, daripada aku akan menyesal seumur hidup karena aku sudah menyakiti orang yang ku cintai!" ucap Teddy membuat Kenzo terdiam.


Kenzo hanya terus melihat ke arah Teddy yang juga melihat ke arahnya. Perbedaan usia mereka delapan tahun, tapi pandangan Teddy tentang mencintai seseorang ternyata jauh lebih dalam di bandingkan Kenzo.


"Terserah kalau itu keputusan mu, kamu bisa pergi!" ucap Kenzo yang sudah mulai merasa tidak ada gunanya lagi bicara dengan Teddy.


"Aku akan pergi, tapi akan ku katakan padamu. Jika sesuatu terjadi pada Naira, atau jika dia terluka, maka orang yang pertama kali akan ku temui dan ku mintai pertanggungjawaban adalah dirimu tuan Kenzo Hasigawa!" seru Teddy lalu berbalik dan melangkah menuju ke arah pintu keluar ruang kerja Kenzo.


Kenzo hanya bisa melihat kepergian Teddy. Dia diam sejenak dan berpikir, tapi kemudian dia kembali tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Kenapa aku harus menyerah, hanya orang lemah yang menyerah!" ucapnya lalu berbalik dan kembali duduk di depan meja kerjanya.


Kenzo melihat ke arah depan dan meletakkan tangannya untuk menopang dagunya.


"Naira, jika aku tidak bisa mendapatkan mu. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan mu menjadi milik orang lain!" gumam nya lagi.


Sementara itu Puspa dan juga Riksa yang juga sudah mendapatkan kabar dari Stella juga sudah tiba di ruang rawat Naira. Ketika mereka tiba, Naira juga belum sadarkan diri.


"Tante, bagaimana Naira?" tanya Puspa yang langsung memeluk Stella yang terlihat sangat sedih.


"Kata dokter dia baik-baik saja, tapi Tante tahu dia pasti sangat ketakutan tadi!" jawab Stella yang begitu cemas pada keadaan Naira.


Sementara Riksa langsung menghampiri Samuel yang sedang bersama dengan kakek Virendra dan Damar. Riksa bersalaman dengan kakek Virendra dan juga Damar setelah itu dia menghampiri Samuel.


"Aku sudah dengar dari Eka, kalau kamu memintanya menyelidiki semua ini. Aku juga sudah mengerahkan orang mencari para preman itu, siapapun dalang di balik semua ini. Dia tidak akan ku biarkan hidup dengan tenang." ucap Riksa yang juga terlihat marah melihat kondisi Naira yang terlihat sangat lemah dan ketakutan.


"Lalu bagaimana kondisi Teddy Rizaldi, ku dengar dari bibi Merry dia yang menyelamatkan Naira?" tanya Riksa lagi.


"Aku tidak tahu, dia pergi sebelum aku mengucapkan terimakasih padanya!" ucap Samuel asal saja.


"Benarkah? ku dengar dari bibi Merry kamu tadi bahkan akan memukulnya, mungkin dia ketakutan dan pergi...!"


"Bisa diam tidak, memang apa yang akan kamu lakukan kalau melihat Jonathan berada di depan ruang UGD Puspa, mana aku tahu dia yang menyelamatkan Naira!" kesal Samuel.


Riksa hanya diam, mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Samuel jika situasi ini terjadi padanya. Tapi Riksa merasa kalau dia memang harus mengucapkan terima kasih pada Teddy karena sudah menyelamatkan Naira. Seperti kata bibi Merry kalau tidak ada Teddy, entah apa yang akan terjadi pada Naira karena para penjahat itu terlihat sangat kejam, itu bisa terlihat dari cara mereka memukul Budi hingga babak belur dan tidak sadarkan diri, Budi bahkan kehilangan dua gigi depannya karena pukulan para preman itu. Bibi Merry yang sudah tua pun tega mereka pukul. Riksa tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada Naira, jika Teddy tidak kebetulan lewat disana dan menolongnya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2