Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
195


__ADS_3

Aku mendengar kalimat yang disampaikan Riksa itu padaku, sebenarnya aku merasa kalau apa yang di katakan Riksa itu memang benar. Aku bisa melihat dengan jelas perubahan sikap mas Sam padaku dan juga pada keluargaku.


Aku bisa merasakan ketulusan di setiap ucapan dan sentuhannya. Tapi aku masih kesal, kenapa keputusan sebesar itu mas Sam tidak bertanya dulu padaku. Aku tidak melarangnya menolong orang lain, tapi aku kesal karena yang dia tolong adalah mantan kekasihnya.


Kalau wanita itu juga berbesar hati melupakan mas Sam dan merelakan dirinya aku juga tidak masalah. Tapi wanita bernama Caren itu jelas-jelas mengatakan padaku kalau dia akan merebut mas Sam kembali dariku. Wanita pernah mendatangi ku dan mengancam akan membuat mas Sam kembali mencintai nya.


Aku tidak khawatir kalau dia berada jauh dari mas Sam, tapi mas Sam sendiri yang membawanya dekat dengannya. Mas Sam bahkan mempekerjakan wanita itu di perusahaan nya. Aku juga tidak tahu dia bekerja sebagai apa? dan sedekat apa dirinya nanti dengan mas Sam.


Aku melihat ke arah Riksa.


"Riksa, wanita itu bekerja sebagai apa di kantor?" tanya ku pada Riksa.


Riksa tidak langsung menjawab, dan aku memperhatikan nya, reaksi yang di tunjukkan oleh Riksa seperti orang yang enggan untuk menjawab pertanyaan ku, dia terlihat bingung dan sesekali mengusap tengkuknya. Aku yang mengenal Riksa, aku tahu kalau itu adalah ekspresi nya ketika dia merasa bingung.


Melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Riksa itu, dan karena dia tak kunjung bicara, aku pun membuka suara lagi.


"Riksa, aku bertanya padamu?" tanya ku lagi karena aku semakin geram saja.


Aku sudah berpikir kalau Riksa tidak menjawab pertanyaan ku itu karena pasti posisi yang di berikan oleh Samuel pada Caren pasti posisi yang sangat penting, atau jangan-jangan Samuel bahkan memberikan posisi sebagai sekertaris pribadi pada Caren, karena itu Riksa tidak segera menjawab pertanyaan dariku. Atau bahkan lebih dari itu.


"Riksa, jawab pertanyaan ku! apa posisi yang diberikan mas Sam pada wanita itu?" tanya ku pada Riksa dan kali ini aku bicara dengan nada suara yang makin lama makin meninggi. Sungguh aku kesal sekali.


Pikiran ku tidak bisa berfikir positif jika itu berhubungan dengan mas Sam dan wanita yang bernama Caren itu.


"Naira tenang dulu, kamu sedang hamil. Jangan berpikir macam-macam, jangan emosi seperti ini!" ucap Riksa terdengar sangat mengkhawatirkan aku.


"Lalu aku harus bagaimana, suamiku memberikan pekerjaan pada mantan kekasihnya, bahkan tanpa bertanya dulu padaku istrinya. Katakan aku harus apa?" tanya ku dengan nada suara yang makin meninggi lagi.

__ADS_1


Riksa segera menghentikan mobilnya, kami menepi di ujung gang padahal tinggal sebentar lagi sampai di rumah ayah. Dia terlihat panik, dan aku juga sedang berusaha mengatur nafasku yang mulai kurasa semakin tidak karuan.


Riksa melepas sabuk pengaman nya dan kembali memberikan aku minuman, dia juga mengusap lenganku beberapa kali.


"Nai, tenang dulu. Ingat kalau kamu sedang hamil. Kasihan bayimu kalau kamu emosi begini!" ucap Riksa dengan nada suara yang begitu terdengar lembut di telingaku.


Aku menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan. Aku juga merasa perutku sedikit tidak nyaman, karena sedari tadi aku kesal dan menangis.


"Aku mengerti apa yang kamu rasakan, aku juga tidak mengerti maksud bos. Tapi aku hanya tahu kalau apapun yang terjadi, kamu tidak perlu meragukan kesetiaan dan ketulusan dari bos Samuel!" ucap Riksa lagi.


Aku tidak memperhatikan apa yang dia katakan, aku hanya berusaha membuat diriku tenang dan perut ku kembali nyaman.


Riksa yang melihat ku kembali tenang, segera mengemudikan mobilnya lagi menuju ke rumah ayah.


Aku terkejut karena ternyata mobil mas Sam sudah ada di depan rumah ayah.


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, sebagai apa wanita itu bekerja di perusahaan?" tanya ku ketus pada Riksa.


Aku juga jadi kesal padanya, karena sejak tadi dia hanya memberi alasan dengan menyampaikan kata-kata yang mencoba menenangkan ku, tapi dia malah tidak menjawab dengan jelas pertanyaan ku.


"Kalau masalah itu, biar bos saja yang menjelaskan nya padamu ya. Tapi aku katakan sekali lagi Nai, bos itu sangat...!"


Sebelum Riksa selesai dengan apa yang ingin dia katakan, aku sudah membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Riksa tanpa berbasa-basi atau mengucapkan satu kata pun padanya. Aku juga jadi sangat kesal padanya, karena sepertinya dia sejak tadi menyembunyikan sesuatu dariku. Dari pada aku juga emosi padanya lebih baik aku keluar saja dari dalam mobil.


"Sayang!" panggil Samuel yang baru saja keluar dari dalam rumah.


Samuel merentangkan tangannya dan ingin memelukku, tapi aku sengaja berjalan menjauh ke arah kiri untuk menghindari dia memelukku.

__ADS_1


"Naira, kamu sudah datang?" tanya ayah yang keluar dari rumah sambil menuntun ibu.


"Ibu sudah baikan?" tanya ku langsung menyalami ibu dan memeluknya.


"Sudah nak, hanya saja kaki ibu masih terasa lemas. Ayo masuk, ibu senang sekali mendengar kalau kamu dan juga nak Sam akan menginap disini karena nak Sam besok libur kerja!" ucap ibu.


Aku melirik sekilas ke arah mas Sam yang terlihat selalu mengembangkan senyuman di wajahnya.


"Masuk yuk, di luar mulai panas. Bagaimana kabar mu nak, bagaimana kehamilan mu nak?" tanya ayah yang terlihat juga sangat senang aku dan mas Sam datang.


Riksa yang membawa beberapa kelapa muda terlihat kesulitan membawa semuanya dengan kedua tangan nya. Samuel yang melihat itu langsung menghampiri Riksa dan membantu sekertaris pribadi sekaligus sahabatnya itu. Aku sedikit mengernyit heran melihat pemandangan itu, pasalnya mas Sam sebelumnya tidak pernah membantu anak buahnya meskipun itu Riksa.


Dan kali ini melihat hal yang menakjubkan itu membuatku menghela nafas pelan.


"Kamu beli kelapa muda, di kebun belakang kan ada banyak!" ucap ayah.


Aku tiba-tiba saja mendapatkan ide yang luar biasa bagus. Aku langsung berbalik dan melihat ke arah Riksa.


"Riksa, bawa pulang saja semua air kelapa itu! pekerjaan mu sudah selesai. Kamu bisa pulang!" ucap ku membuat langkah kedua pria tampan itu terhenti dan saling melihat satu sama lain.


"Sayang, tapi ini kan...!"


"Mas, tolong bantu Riksa bawa semua itu masuk kedalam mobilnya ya, aku tidak jadi mau minum air kelapa yang itu. Airnya tidak manis!" ucap ku membuat Riksa dan mas Sam segera memasukkan kembali kelapa itu ke dalam mobil.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2