Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
144


__ADS_3

Ternyata kami sudah menjadi pusat perhatian di tempat ini. Banyak sekali kamera yang memotret kami. Samuel menarik tangan ku dan mengapitnya di lengannya.


"Tersenyum yang benar, jangan seperti kuda. Kamu tidak perlu menunjukkan gigimu yang seperti kelinci itu!" bisik Samuel lagi padaku.


'Hadeuh, kan tinggal bilang tersenyum yang benar. Begitu saja cukup, kenapa gigi kelinci di bawa-bawa coba!' gerutu ku dalam hati.


Kami masuk ke dalam area pesta, karpet merah terbentang sangat panjang dari area parkir VIP sampai ke dalam gedung acara. Penjagaan nya juga sangat ketat, banyak sekali orang-orang berbadan kekar dengan seragam yang sama dan kaca mata hitam mereka yang bisa menyamarkan arah pandangan mata mereka kemana. Juga setiap penjaga membawa satu buah HT di tangan mereka masing-masing.


Saat kami berjalan masuk, alunan lagu lawas era tahun 90'an terdengar mengalun syahdu. Mataku melirik ke arah penyanyi berkerudung dengan warna kerudung gold dan riasan make up paripurna sedang menyuarakan isi hatinya lewat suaranya yang begitu mendayu-dayu.


Pandangan ku lalu beralih ke arah sebaliknya, beberapa stand makanan yang dihiasi ornamen gold dan lampu yang terang benderang, memperlihatkan kepulan asap. Menandakan kalau makanan makanan yang tersedia disana pasti baru saja dimasak.


"Tidak usah jelalatan bisa tidak?" tanya Samuel.


Suara Samuel itu langsung membuat ku kembali fokus melihat ke arah depan. Dimana Kenzo dan Caren sedang bersalaman dengan sepasang pria dan wanita paruh baya, yang pria terlihat gagah meskipun rambutnya sebagian sudah tampak berubah warna menjadi putih. Yang wanita terlihat anggun, dengan rambut yang masih hitam pekat, mungkin dia mewarnainya. Tapi itu memang membuatnya terlihat lebih muda dari usianya.


"Selamat tuan Thomas dan nyonya Irene Thomas!" ucap Samuel melepaskan tangan ku dan menyalami kedua orang itu.


"Samuel, terimakasih... senang kamu di tengah kesibukan mu masih menyempatkan hadir!" kata tuan Thomas ramah.


Wajahnya tersenyum begitu pula dengan istrinya. Dan aku melihat senyum dari keduanya itu tulus.


"Terimakasih sudah datang nak Sam, ini pasti nyonya Samuel Virendra kan?" tanya Nyonya yang tadi di sapa nyonya Irene oleh Samuel.


Aku mengangguk sambil tersenyum dengan benar seperti yang diperintahkan oleh Samuel tadi. Untuk jangan memperlihatkan gigi kelinci ku pada semua orang di sini.


"Selamat ulang tahun pernikahan nyonya dan tuan!" ucap ku sambil menyalami mereka.


"Terimakasih, kalian terlihat sangat serasi. Yang satu wajahnya galak dan yang satu manis sekali!" ucap Nyonya Irene sambil terkekeh pelan.


Aku sebenarnya ingin tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh nyonya Irene, tapi dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk menahannya. Agar Samuel tidak marah padaku, dia sudah marah jadi aku tidak mau dia bertambah marah lagi.

__ADS_1


"Siapa namamu sayang?" tanya nyonya Irene.


"Naira, nyonya!" jawab ku dengan sikap se sopan mungkin.


"Nama yang indah, tapi jangan panggil nyonya. Panggil saja Tante ya, kapan-kapan ceritakan pada Tante bagaimana kamu menaklukkan kulkas dua pintu itu!" bisik Tante Irene padaku.


Aku terkejut dan sedikit melebarkan mataku, sepertinya Tante Irene mengenal betul Samuel.


"Kamu terkejut, sayang aku ini selain istri dari Thomas Permana, juga masih sepupu dari Stella!" jelas Tante Irene.


'Oh, jadi Tante Irene ini sepupunya ibu Stella, pantas saja dia sangat akrab pada kami, tidak seperti pada Kenzo dan Caren tadi' batin ku.


"Iya, Samuel pasti tidak memberitahu mu ya, dia memang seperti itu. Dengan ku saja dia bersikap sangat profesional, dimana-mana dia selalu memanggilku tuan Thomas!" sambung tuan Thomas.


Aku pun bercakap-cakap cukup lama dengan tuan Thomas dan nyonya Irene yang ternyata adalah om dan Tante nya Samuel. Sampai ada tamu lain yang datang, dan kami pun beralih ke meja yang sudah disiapkan untuk kami.


Lagi-lagi pandangan mata Samuel masih terarah ke meja yang di tempati oleh Kenzo dan Caren. Disana Kenzo terlihat mengacuhkan Caren yang sepertinya tengah membujuknya.


Setelah itu, Kenzo terlihat pergi dan Caren mengejarnya. Tidak ada yang melihat hal itu selain aku dan Samuel. Aku juga sebenarnya tidak ingin melihat pertengkaran mereka, aku hanya mengikuti arah pandangan Samuel saja. Dan aku terkejut, ketika Samuel berdiri dari kursinya.


"Bukan urusan mu, kamu diam disini!" perintah nya dan dia pun pergi meninggalkan ruangan ini.


Aku langsung terdiam, tapi aku sangat penasaran dengan mereka bertiga. Tapi seperti katanya aku memilih diam di tempat duduk ku. Sambil mendengarkan alunan musik dan suara merdu penyanyi yang bergantian bernyanyi di atas panggung.


Seorang pemuda dan seorang gadis cantik menghampiri ku.


"Kakak, istrinya kak Samuel ya?" tanya gadis cantik dengan gaya rambut sangat elegan dan pakaian nya sangat pas untuknya.


Aku mengangguk.


"Boleh kami duduk disini?" tanya si

__ADS_1


pemuda.


Dan lagi-lagi, aku menganggukan kepalaku. Mereka berdua duduk dan tersenyum sebelum bicara.


"Kenalkan kak, aku Firza dan ini adikku Mina, kami putra putri tuan Thomas." ucap si pemuda bernama Firza itu memperkenalkan diri.


Aku mengangguk senang.


"Oh kalian sepupunya mas Sam, aku Naira!" balasku.


Mereka mengangguk.


"Iya, saat kak Naira dan kak Sam menikah kami masih ada di Australia, sedang kuliah. Kami juga hanya pulang untuk merayakan ulang tahun pernikahan ayah dan ibu. Selamat untuk pernikahan kalian ya kak!" ucap Mina dengan senyum manisnya.


"Terimakasih banyak, kalian berdua sama-sama kuliah?" tanya ku penasaran. Karena memang sepertinya usia mereka terpaut tidak jauh berbeda.


"Iya, usia kami hanya beda satu tahun lebih delapan bulan. Dan kami satu angkatan!" jelas Mina.


Tapi baru saja aku mengobrol dengan dua sepupu Samuel ini, seorang penjaga menghampiri Firza.


"Tuan muda, tuan Samuel dan tuan Kenzo berkelahi di gedung bagian belakang!" kata penjaga itu dengan suara yang tidak terlalu keras.


Tapi karena aku duduk di sebelah Firza aku bisa mendengarnya, dan aku sangat terkejut mendengar apa yang di katakan oleh penjaga itu. Saat Firza dan Mina bangun, aku juga bangkit berdiri dari kursi ku.


"Ayo kita ke sana!" ajak Mina yang terlihat panik.


Firza lalu berjalan dengan cepat mengikuti penjaga itu, dan aku juga Mina mengikuti dari belakang. Karena aku dan Mina memakai gaun, maka kami tidak bisa berjalan dengan cepat dan sedikit tertinggal dari Firza dan penjaga.


Tapi aku langsung berhenti ketika melihat Samuel memukuli Kenzo, dan Kenzo juga membalas apa yang di lakukan oleh Samuel. Sedangkan Caren sedang menangis di dekat dinding tanpa berusaha untuk memisahkan mereka. Hatiku terasa sakit melihat Samuel yang terlihat sangat emosi dan kesal seperti itu.


'Apa dia berkelahi demi wanita itu?' tanya ku dalam hati.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2