
Author POV
Riksa sangat tidak ingin meninggalkan Naira, Riksa tahu mungkin Samuel memang sedang kesal. Tapi memperlakukan Naira dengan kasar seperti ini bahkan membiarkan wanita lain menghinanya dan menyuruh-nyuruhnya seenaknya, Riksa merasa Samuel benar-benar sudah keterlaluan.
"Bos, Naira ini kan...!"
Riksa masih berusaha mengingatkan Samuel kalau Naira adalah istrinya dan tidak sepantasnya di perlakukan seperti itu. Tapi lagi-lagi Samuel kesal. Samuel berdiri dengan cepat dan menyela perkataan Riksa lagi.
"Pergi, atau hal yang lebih buruk bisa saja menimpanya, apa kamu mengerti!" perintah Samuel dengan mata yang melotot tajam.
Samuel sepertinya memang sedang sangat emosi. Sampai-sampai Nita yang tadinya bersikap manja, sedikit menjauh dari Samuel bahkan tangannya sedikit gemetar melihat kemarahan Samuel itu.
Berbeda dengan Nita yang ketakutan, Naira justru bersikap sangat tenang. Meski tak bisa di pungkiri kalau dalam hatinya dia juga merasa ketakutan yang sama dengan Nita.
Riksa mengusap kepala nya kasar, baru kali ini dia seperti ingin sekali membantah bos nya itu. Tapi dia tidak bisa melakukan nya. Dia sudah berjanji pada Stella untuk mengikuti apapun yang di perintahkan Samuel. Riksa melihat ke arah Naira, dan Naira terlihat mengangguk samar. Dengan langkah terburu-buru akhirnya Riksa memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
Setelah Riksa pergi, amarah Samuel bahkan tidak reda. Dia masih terlihat memandang tajam, kali ini ke arah Naira.
"Bereskan semua kekacauan ini!" perintah nya pada Naira.
Naira langsung mengangguk patuh,
"Baik!" jawab nya dengan pelan.
Naira langsung berjalan menuju ke arah meja bar di restoran dan meminta tolong untuk di berikan alat yang bisa di gunakan untuk membersihkan pecahan gelas dan minuman yang berantakan di lantai akibat ulah Nita.
"Maaf, bisakah kalian pinjamkan aku sapu dan kain pel?" tanya Naira sopan pada pelayan.
"Nyonya, biarkan kami saja yang membereskan nya!" jawab pelayan itu merasa kalau hal itu memang adalah tugasnya.
Naira segera menggelengkan kepalanya.
"Kali ini boleh aku yang melakukan nya ya, tolong lah!" pinta Naira pada pelayan itu.
Naira terus mencoba untuk meyakinkan pada pelayan itu agar memberikannya peralatan yang dia perlukan. Akhirnya para pelayan mengeluarkan peralatan yang di perlukan Naira, dia membawa semua peralatan itu ke dekat meja Samuel.
__ADS_1
Samuel terlihat semakin kesal bahkan menarik tangan Nita dan sengaja mengajaknya pindah ke tempat duduk lain. Samuel bahkan menarik tangan Nita saat dia akan duduk di sebelahnya, hingga Nita terjatuh di pangkuan nya.
Naira yang melihat hal itu memalingkan pandangannya dengan segera, bukan karena merasa cemburu. Tapi karena merasa risih melihat pemandangan seperti itu di depannya.
'Astaga, apa mereka tidak punya malu. Pangku-pangkuan seperti itu di tempat umum seperti ini!' gumam Naira dalam hati.
Naira kembali fokus dengan pekerjaan nya. Sementara kedua orang uang duduk sambil berpangkuan di dekatnya malah seperti nya semakin menunjukkan kemesraan mereka.
"Sam, aku dengar kaku sudah menikah? kenapa tidak mengundang ku?" rengek wanita itu di pangkuan Samuel dan melingkarkan tangannya di leher Samuel.
"Ck... semua undangan, ibuku yang mengaturnya!" jawab Samuel terlihat acuh tak acuh. Dia lebih fokus memperhatikan Naira yang sedang membereskan kekacauan yang tadi di buat oleh Nita. Tapi Samuel terlihat sedikit kesal, karena sedari tadi Naira benar-benar hanya memunggungi nya saja.
Niat awal Samuel adalah untuk membalas Naira, membuatnya cemburu dan merasa tidak nyaman. Tapi sepertinya rencana Samuel benar-benar tidak berhasil, karena Naira seperti nya memang mengacuhkannya dan tidak perduli dengan apa yang dia lakukan dengan Nita.
"Begitukah, lalu apa istrimu itu bisa melayani mu dengan baik, jika tidak maka aku...!" Nita menghentikan kalimat yang ingin dia katakan dan sudah berada sangat dekat dengan bibir Samuel.
Naira sedikit merinding mendengar percakapan Samuel dan Nita, tapi sungguh dia tidak memperdulikannya. Dia hanya ingin pekerjaan nya cepat selesai dan dia bisa segera pergi dari tempat ini.
Tapi ketika bibir Nita sudah semakin mendekat dan satu centimeter lagi menyentuh bibir Samuel, tiba-tiba Samuel malah bangun dari duduknya membuat Nita terjatuh ke lantai.
"Agkh!" pekik Nita yang terjatuh dengan tidak elegan di lantai.
Naira terkejut, Samuel sedang berkacak pinggang dan Nita sedang meringis kesakitan sambil memegang pinggangnya di lantai di depan Samuel.
"Mas.. itu nona Nita jatuh..!" ucap Naira bingung
Samuel baru menyadari nya, dia lalu melihat ke arah Nita dan membantunya untuk bangun.
"Nita, apa yang kamu lakukan disitu?" tanya Samuel sambil membantu Nita bangkit berdiri.
Nita terlihat kesal, tapi dia masih berusaha untuk tersenyum di depan Samuel.
"Sam, kamu yang menjatuhkan aku. Pinggangku sakit sekali, seperti aku tidak bisa berjalan!" ucap Nita manja. Dia berharap dengan seperti itu maka Samuel akan menggendongnya.
Jika itu terjadi maka dia akan di kenal sebagai wanita satu-satunya yang pernah di gendong oleh Samuel, dan itu akan membuatnya semakin dihormati di perusahaan ini bahkan di kota ini.
__ADS_1
Tapi bukannya menolong Nita, Samuel justru melepaskan tangannya dengan cepat dari Nita. Samuel memang seperti itu, tidak banyak wanita yang bisa menyentuhnya, dia bahkan tidak mau berlama-lama menyentuh Nita. Dia memangku Nita tadi itu hanya untuk membuat Naira kesal. Tapi rupanya dia yang justru bertambah kesal.
Samuel berdecak, lalu menghubungi seseorang.
Tak lama asisten lain dari Samuel, Dedi datang dan bergegas menghampiri Samuel.
"Siap bos, apa yang saya bisa bantu?" tanya Dedi dengan sopan.
"Antar Nita ke tukang urut, seperti nya pinggangnya bermasalah!" seru Samuel.
"Pffttt!" Naira yang masih bengong melihat Samuel dan Nita tak dapat menahan tawanya.
Sebaliknya, Nita merasa sangat terkejut karena Samuel malah menyuruhnya pergi bersama asistennya setelah semua yang terjadi padanya .
"Sam, tapi aku tidak bisa jalan. Sam... Aduh!" ucap manja Nita dan menjatuhkan dirinya lagi di sofa saat akan berdiri.
"Gendong saja Ded, cepat pergi dari sini!" seru Samuel tegas. Dia sudah semakin muak saja dengan semua kejadian ini.
Niat awalnya ingin membuat Naira kesal dan cemburu, tapi sayangnya justru dia yang dibuat kerepotan dengan tingkah manja Nita.
"Sam, aku tidak mau pergi dengan asisten mu, Sam...!" rengek Nita masih belum menyerah.
"Dedi! satu menit kamu belum bawa perempuan ini keluar, kamu di pecat!" tegas Samuel.
Apa yang di katakan Samuel itu membuat Dedi yang awalnya canggung saat akan menyentuh Nita, menjadi sangat panik. Dia langsung menggendong Nita meskipun Nita terus melawan.
"Hei, pelayan rendahan. Kamu tidak berhak menggendongku!" teriak Nita sambil memukul-mukul dada Dedi.
Tapi Dedi sama sekali tidak perduli, karena dia lebih takut kalau sampai dia di pecat. Dengan cepat Dedi menggendong Nita keluar dari restoran.
Naira yang melihat semua kejadian ini terkekeh, tapi dia memalingkan wajahnya ke arah lain saat akan tertawa.
"Kenapa tertawa, memang nya ada yang lucu! cepat selesaikan pekerjaan mu!" bentak Samuel lalu meninggalkan restoran dan juga Naira.
Author POV end
__ADS_1
***
Bersambung