
Aku tidak pernah membayangkan jika Samuel akan berubah menjadi seperti malaikat untuk keluarga ku, mengingat lagi seperti apa pertemuan pertama kami dulu dan seperti apa sikapnya padaku sebelum kami menikah.
Aku masih mengingat jelas ketika dia dengan seenaknya meminta ku menandatangani surat perjanjian kontrak pernikahan jika aku tidak mau di tuntut dan dimasukkan ke dalam penjara karena telah secara tidak sengaja merusak mobilnya yang mahal itu.
Pria yang sedang berada di pelukan ayah ku sekarang ini benar-benar sangat berbeda dari pria yang ku temui saat itu, pria yang seenaknya mengambil dan membuang ponsel ku. Bahkan tidak berpikir untuk menggantinya. Malah Riksa yang saat itu mengganti ponsel ku. Bukan itu saja aku juga masih ingat dengan sangat jelas ketika dia bahkan mengatakan aku ini wanita kelas menengah ke bawah yang bukan tipenya hingga meskipun sudah tak ada lagi wanita yang ada di dunia ini. Dia juga tak akan pernah melirik ku apalagi jatuh cinta padaku.
Aku tersenyum melihat Samuel yang sesekali menepuk bahu ayah ku yang masih terus mengusap air matanya karena merasa begitu terharu.
'Terimakasih mas! terimakasih!' ucap ku dalam hati.
"Naira, suami mu sangat baik!" ucap ibu ku sedikit berbisik padaku.
Dan aku hanya bisa menganggukkan kepala ku setuju pada apa yang di katakan oleh ibuku.
Setelah keluar dari ruang UKS, aku mengirim pesan pada Ibras kalau aku membawa ayah dan ibu pulang. Agar Ibras tidak kebingungan mencari kami. Dalam perjalanan menuju ke apotek untuk membeli obat yang tadi di resep kan oleh dokter Wulan untuk ibu, Samuel terlihat sangat tenang duduk di depan di samping kursi pak Urip. Biasanya dia tidak akan mau duduk di kursi penumpang di bagian depan.
Samuel sudah banyak berubah, atau memang dia sebenarnya memang seperti itu tapi aku saja yang tidak menyadari itu semua.
"Nak sudah berapa minggu usia kehamilan mu?" tanya ibu ku yang membuat ku langsung mengalihkan pandangan ku dari punggung Samuel ke arah ibu yang duduk di sebelah kanan ku di tengah di antara aku dan ayah yang duduk di sebelah kanan ibu.
"Kata dokter sudah masuk minggu ke enam Bu!" jawab ku sambil tersenyum pada ibu.
Ibu langsung menepuk tangan ku yang dia genggam.
"Jaga kesehatan dengan baik ya nak, jaga kandungan mu dengan baik. Anak mu di dalam kandungan mu itu bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Jangan terlalu lelah dan stress ya!" ucap ibu memberikan beberapa nasehat padaku.
__ADS_1
Aku mengangguk paham, lagipula semua kebutuhan dan keperluan ku sudah ada para asisten rumah tangga yang melayani. Aku tidak akan lelah, dan masalah pikiran. Suami ku sudah mengatasi semuanya, apa lagi yang harus aku cemaskan.
Saat tiba di apotik, Samuel bahkan membelikan obat itu sendiri. Pak Urip sudah menawarkan bantuan agar dia saja yang masuk ke dalam apotik dan membeli obat. Tapi Samuel malah bersikeras untuk membeli obat untuk ibu sendiri.
Setelah Samuel kembali kami melanjutkan perjalanan menuju ke rumah ayah. Di dekat rumah ayah sebelum masuk ke dalam gang, lahan kosong yang dulu kami bicarakan saat di Bali benar-benar telah di bangun seperti sebuah minimarket. Pembangunan nya masih sedikit tapi sudah kelihatan bangunan apa yang akan berdiri di situ. Kami semua memandang ke arah yang sama, ke tempat dimana para tukang sedang bekerja dengan alat-alat berat dan juga kebisingan di sekitarnya.
"Ayah, pembangunan nya akan selesai dalam sebulan, ayah tidak perlu cemas. Bukan depan pasti sudah siap di buka minimarket ayah!" ucap Samuel yang lagi-lagi membuat ayah ku kembali berkaca-kaca.
Setelah tiba di rumah, lagi-lagi kami di buat terkejut karena sudah ada seorang wanita paruh baya yang sedikit lebih tua dari pada ibu sedang duduk di kursi teras depan rumah. Dan ketika kami keluar dari mobil, wanita paruh baya itu berdiri dan menundukkan kepalanya seperti sedang memberi salam pada kami.
"Selamat siang tuan, nyonya. Saya Lastri pembantu dari yayasan Sari Asih" ucap wanita paruh baya itu memperkenalkan diri pada kami.
Aku melihat ke arah Samuel. Dan suamiku itu hanya tersenyum padaku.
"Dia yang akan membantu pekerjaan rumah ibu sehari-hari!" jawab Samuel.
"Nak Samuel!" ucap ibuku lemah.
"Mari kita masuk kedalam!" ucap Samuel yang jelas tidak ingin apa yang dia lakukan di perdebati.
Kami masuk ke dalam rumah, bi Lastri mengikuti kami. Dan kami membawa ibu masuk ke dalam kamar. Setelah itu aku mengajak Bu Lastri ke dapur, dan menjelaskan semua tentang rumah ayah. Kami tidak punya kamar lain, hanya ada kamar ayah dan ibu, lalu kamar ku dan kamar Ibras. Jadi aku menunjukkan teras belakang yang bisa di pakai oleh BI Lastri untuk beristirahat dan meletakkan tas dan barang-barang nya selama dia bekerja.
Bi Lastri sangat cepat tanggap, pekerjaan nya juga sangat rapi. Dia bahkan langsung memasak karena mang sudah masuk waktu untuk makan siang.
Samuel dan ayah mengobrol di ruang keluarga, aku masih bersama dengan ibu di dalam kamar ibu.
__ADS_1
"Bi Lastri sedang memasak Bu, apa ibu ingin makan sesuatu?" tanya ku pada Ibu ku yang masih terlihat pucat.
Ibu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak nak!" jawab ibu lalu memperhatikan aku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Aku jadi merasa penasaran, apa ada yang aneh dengan ku.
"Ada apa Bu, kenapa melihat ku seperti itu? ada yang aneh ya?" tanya ku bingung.
"Nak, coba ubahlah penampilan mu!" ucap ibu ku yang langsung membuat ku mengernyitkan dahi ku bingung.
"Maksud ibu?" tanya ku pada ibu.
"Naira sayang, ibu tahu nak Samuel mencintai mu. Tapi lihat penampilan nya, dia sangat faham dan berwibawa. Meski pakaian mu juga sudah sangat bagus dan setara dengannya. Tapi akan lebih baik jika kamu merias sedikit wajah mu, maksud ibu belajar berdandan lagi dengan baik. Kamu bisa membentuk alis mu, atau membuat gaya rambut mu menjadi lebih baik. Bukan hanya di gerai lurus begitu saja!" ucap ibu panjang lebar.
Aku juga melirik ke arah rambut dan tangan juga kaki ku. Sepertinya apa yang di katakan oleh ibu benar.
"Nak, buatlah dirimu semenarik mungkin di depan mata suami mu. Karena pria sebaik nak Samuel kamu tidak akan mendapatkan nya lagi dimana pun. Dan pria seperti itu pasti banyak wanita yang bahkan tidak perduli walaupun dia sudah menikah untuk mendekatinya!" lanjut ibu lagi.
Dan kali ini hati ku rasanya merasakan perasaan yang tidak enak. Karena apa yang dikatakan oleh ibu memang benar. Di luar sana banyak sekali wanita yang bahkan rela melakukan apapun agar bisa dekat dengan Samuel.
Aku harus merubah diriku menjadi lebih baik. Dan aku sudah tahu siapa yang bisa membantu ku untuk mewujudkan semua itu.
***
__ADS_1
Bersambung...