
Di luar ruangan Caren sedang menunggu dengan cemas apa yang sedang Vina dan Jodi bicarakan di dalam ruangan itu. Caren bahkan membuang kotak makan yang dia bawa ke tempat sampah karena sangat kesal merasa di acuhkan oleh Vina dan juga Jodi.
"Bagaimana kalau Jodi memang masih menyukai Vina, lalu dia meninggalkan aku, bagaimana ini?" gumam Caren yang merasa was-was.
Sementara itu di dalam ruangan Jodi. Pria yang kata Adam adalah buaya darat itu sedang menggencarkan serangan rayuan maut mematikannya pada Vina.
Jodi terus berusaha meyakinkan Vina kalau apapun keadaannya, Jodi akan menerimanya dengan lapang dada dan tangan terbuka.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu Vina. Apapun yang terjadi padamu, bagaimana pun kamu, aku akan menerima kamu apa adanya, aku sudah katakan sejak pertama kali bertemu dengan mu kan, aku mencintai mu bukan karena ragamu, tapi karena cinta itu datang begitu saja saat aku melihat mu untuk pertama kalinya!" ucap Jodi yang langsung menggencarkan gombalannya.
Jodi tidak melewatkan kesempatan baik ini, karena dia sudah merasa akhir-akhir ini Vina ketus dan dingin sekali sikapnya pada Jodi. Dan kali ini Vina sendiri yang datang menunjukkan perhatian, maka Jodi tidak akan melewatkan kesempatan langka ini.
'Astaga, mulut lelaki ini sekolah dimana ya? kalau urusan gombal tidak tahu darimana datang inspirasi nya!' batin Vina yang merasa kalau Jodi ini pandai sekali mengeluarkan kata-kata manis.
'Kalau aku tidak melihat dengan mata kepala ku sendiri kamu berselingkuh, mungkin sampai sekarang aku masih akan sangat percaya pada kata-kata manis mu ini' batin Vina lagi.
"Tapi Jodi, aku sepertinya merasa kalau Caren marah?" tanya Vina.
Mendengar pertanyaan Vina, raut wajah Jodi berubah dengan cepat. Dia terlihat gugup kali ini.
"Oh, mungkin dia merasa kesal karena bukan makanan darinya yang aku makan!" jawab Jodi dengan cepat.
Vina hanya menganggukkan kepalanya paham
"Oh begitu, ya sudah makan dulu. Nanti batu bicara lagi!" ucap Vina yang berusaha menghentikan Jodi menggombal.
Jodi lalu mulai makan sarapan yang Vina bawa. Sambil menunggu Jodi makan, Vina berdiri dan melihat-lihat ruangan Jodi.
"Ruangan ini masih sama, apa tidak berniat mengubah dekorasi atau furniture nya?" tanya Vina random, sebenarnya dia sedang mencari sebuah tempat yang aman untuk meletakkan kamera tersembunyi yang sudah dia rencanakan bersama dengan Adam.
"Tidak Vina, ini kan ruangan yang kamu tata. Aku tidak akan merubahnya!" jawab Jodi sambil makan.
__ADS_1
Vina tidak bisa menemukan tempat tersembunyi. Karena Jodi memang suka ruangan yang tidak banyak furniture nya. Bahkan vas bunga pun tidak ada. Vina beralih ke arah meja kerja Jodi dan dia melihat dokumen yang ada di atas meja. Ada tulisan PT Heterogen. Seingat Vina, ayahnya tidak pernah punya klien dengan nama PT itu.
Vina lalu berjalan menuju dekat jendela, dia tidak mau kalau Jodi curiga padanya karena terlalu lama berada dekat meja kerjanya.
Vina juga tidak menemukan tempat yang tepat di dekat jendela.
'Aku harus bicara lagi dengan Adam, tidak ada tempat yang bisa di pasang kamera tersembunyi!' keluh Vina dalam hati.
Namun ketika Vina sedang berpikir sambil melihat ke arah luar jendela. Tiba-tiba dia merasa terkejut karena ada yang menyentuh tangannya. Spontan Vina menarik tangannya itu.
"Eh, Jodi kamu sudah selesai sarapan?" tanya Vina cepat karena dia masih terkejut.
"Hanya tangan Vina, seperti katamu dulu hanya boleh pegang tangan saja!" ucap Jodi dengan tatapan yang tidak nyaman bagi Vina.
"Itu dulu, sekarang aku sudah menikah...!"
"Vina, aku tidak perduli kamu sudah menikah dengan Adam, atau kamu bahkan sudah tidak suci lagi. Aku akan tetap mencintaimu, aku akan menunggumu. Kamu bisa minta pisah saja pada Adam, lah kembali lah padaku. Aku janji aku akan menerimamu apa adanya, apain kekurangan mu akan menjadi kekurangan mu juga...!"
Ketika Jodi dan Vina melihat ke arah pintu, Caren berdiri disana dengan raut wajah yang terlihat kesal, wajah dan matanya merah. Dalam hati Vina tersenyum puas.
'Sepertinya rencana Adam berhasil!' batin Vina.
"Bisa tidak kalau masuk ke ruangan ku mengetuk pintu dulu!" bentak Jodi pada Caren yang merasa kalau Caren telah mengganggunya saat dia tengah berusaha membujuk Vina.
"Tapi ini sudah jam delapan tepat, Jodi kamu punya meeting penting dengan pak Arifin!" sahut Caren yang menjelaskan maksudnya masuk ke ruangan Jodi.
"Ini kantor Caren, kita memang teman. Tapi bisa kan kalau di kantor kamu panggil aku pak Jodi?" tanya Jodi lagi yang berusaha meyakinkan Vina.
Caren yang merasa Jodi makin keterlaluan hanya bisa menahan amarahnya dalam hati. Sambil mengepalkan tangan dan menahan air mata yang sudah hampir tak terbendung lagi, Caren menjawab.
"Baik pak Jodi, aku minta maaf. Tapi bapak harus meeting dengan pak Arifin sekarang!" ucap Caren yang langsung keluar begitu saja dari ruangan Jodi.
__ADS_1
Jangan tanya berapa senangnya Vina melihat dia orang yang berada dalam perahu yang sama itu tidak kompak lagi.
"Baiklah, kalau kamu mau ada meeting. Aku akan kembali ke ruangan ku!" ucap Vina yang sebenarnya senang sekali akan keluar dari ruangan Jodi.
Sejak tadi dia merasa sangat pengap berlama-lama di ruangan ini. Tapi mau bagaimana lagi.
Jodi terlihat kecewa dia berusaha menghalang-halangi Vina saat akan keluar.
"Aku akan cancel meetingnya Vina, kita masih harus bicara!" ujar Jodi.
'Astaga, siapa yang masih mau bicara dengan mu?' batin Vina kesal.
Meskipun hatinya kesal, tapi Vina berusaha untuk tetap tersenyum.
"Dengar, masalah pekerjaan tetap lebih penting. Kamu adalah waktu CEO, tidak baik kalau memberikan contoh yang tidak baik pada karyawan yang lain. Masih banyak waktu untuk kita bicara!" ucap Vina.
"Benarkah? kamu masih akan datang kemari besok dan membawakan aku sarapan lagi?" tanya Jodi penuh harap.
'Iyuh, malas sekali. Aku akan bawakan kamu racun!' batin Vina kesal.
Meski dalam hatinya kesal, Vina masih berusaha untuk tersenyum.
"Tentu saja, aku akan bawakan kamu sarapan lagi besok. Aku pergi dulu ya!" ucap Vina lalu terburu-buru keluar dari ruangan Jodi sebelum Jodi menahannya lagi.
Namun begitu keluar pintu, Vina berjalan dengan sangat pelan.
Dia melihat Caren yang terlihat sangat kesal bahkan tidak fokus pada pekerjaan nya, dia terlihat beberapa kali menyobek kertas dan membuang nya. Vina tahu kalau Caren seperti itu artinya dia sedang kesal.
Vina melewati Caren begitu saja, dia sama sekali tidak menoleh. Dan itu membuat Caren semakin kesal karena merasa di acuhkan dan tak di anggap.
***
__ADS_1
Bersambung...