
Setelah menemani ibu Stella ke salon, ibu Stella mengajak ku dan Samuel untuk makan siang bersama terlebih dahulu. Di dalam mobil, dia menanyakan kami dulu sering makan malam bersama dimana. Aku bingung harus jawab apa, mana ku tahu nama restoran bintang lima. Aku kan hanya sering makan di gerai ayam geprek tempat indah bekerja.
Atau makan di rumah makan siang malam, mentok juga makan bareng sama ibu, ayah dan Ibras di begadang. Kalau di tanya nama restoran favorit di kota ini, ya mana aku tahu.
"Ibu, kenapa bicara terus padanya? aku iri!" sambar Samuel menyela ucapan ibu Stella yang terus menanyakan macam-macam hal padaku.
Plak
Ibu Stella memukul lengan Samuel pelan.
"Heh, jangan ikut campur ya. Ini urusan mertua dan menantu. Lagipula kenapa kamu masih duduk disini? kursi di depan kan kosong, sana pindah dan temani pak Urip saja!" balas Ibu Stella.
Kurasa ibu Stella benar, kursi penumpang di bagian depan itu kosong. Tapi si lidah tajam ini malah masih ikut duduk bertiga bersama kami di kursi penumpang bagian belakang. Tapi sejak tadi dia terus melirik ke arah ku, kurasa dia takut aku mengatakan sesuatu yang salah dan membuat ibu Stella curiga.
"Ibu, aku ini anak mu. Dan ibu sudah hampir satu bulan tidak bertemu dengan ku. Tidak bolehkah kalau aku dekat-dekat dengan ibu!" seru Samuel dan dia mengangkat alisnya dan memelototi ku.
Ibu Stella tidak melihat itu, karena dia membelakangi Samuel dan menghadap ke arah ku. Dan ekspresi wajah Samuel itu, seperti nya dia memberikan aku isyarat, tapi aku tidak tahu dia mau mengisyaratkan apa.
'Orang ini mau menyuruh ku apa sih? mana ku tahu kalau dia cuma menggerakkan alisnya dan melotot seperti itu!' batin ku bingung.
"Sayang, kita ke tempat favorit kalian makan saja. Atau kita ke tempat dimana Samuel menyatakan perasaan nya padamu? dimana itu?" tanya ibu Stella.
Sumpah demi apapun, aku benar-benar panik, gugup, dan bingung pada saat yang bersamaan. Si lidah tajam itu terus memberikan kode, dia bahkan mengetuk-ngetuk ponselnya, tapi dari posisi duduk ku, layar ponselnya itu gelap dan tak terlihat apapun.
Ibu Stella menggenggam tangan ku, dan kurasa sekarang dia tahu kalau aku sedang gugup. Karena telapak tangan ku sangat dingin.
"Sayang, kenapa tangan mu dingin sekali?" tanya ibu Stella panik.
"AC mobil terlalu dingin mungkin Bu!" sahut Samuel.
__ADS_1
"Benarkah, seperti nya tidak. Ibu juga habis berendam tadi, dan terasa biasa saja. Naira apa kamu sedang tidak sehat, oh pasti kamu lapar kan, ayo katakan dimana tepat kalian pertama kali bertemu, di restoran mana?" tanya ibu Stella terus menerus.
Aku panik, dan aku rasa aku harus menyebutkan sebuah tempat, atau ibu Stella tidak akan berhenti bertanya.
"Gerai ayam geprek!" jawab ku ragu.
Aku lihat ekspresi Samuel yang berada di belakang ibu Stella, kurasa jika ibu Stella tidak ada di antara kami. Dia akan mencekik ku karena kesal, tangan nya terangkat dan ekspresi nya seperti itu. Seperti ingin mencekik seseorang.
Tapi berbeda dengan ekspresi kesal yang diperlihatkan oleh si lidah tajam, ekspresi ibu Stella terlihat sangat antusias saat mendengar jawaban ku.
"Jadi kalian bertemu di gerai ayam geprek? wah Sam, ibu tidak menyangka kamu juga suka makan ayam geprek! sejak kapan?" tanya ibu Stella dan dia memutar posisi duduk nya menghadap ke arah Samuel.
Samuel mengangkat alisnya, dan terlihat kesulitan untuk menjawab.
'Apa benar dia tidak pernah makan ayam geprek, itu kan makanan yang enak sekali!' aku pun membatin.
"Kalau begitu kita harus kesana, kita pesan makanan dari sana lalu ke rumah Naira dan makan siang bersama dengan keluarga Naira, bagaimana?" tanya ibu Stella menoleh ke arah ku lalu kembali melihat ke arah Samuel lagi.
Aku hanya tersenyum sambil mengangguk, memang apalagi yang bisa aku lakukan. Samuel juga melakukan hal yang sama, ibu Stella terlihat masih tidak ingin diam, dan kembali memutar posisi duduk nya menghadap ke arah ku.
'Oh tidak, ibu Stella menghadap kesini lagi. Sekarang apa lagi yang mau dia tanyakan padaku!' batin ku cemas.
Aku sungguh cemas saat ini, tapi aku berusaha untuk tersenyum dengan tulus. Karena sebenarnya aku bukannya tidak menyukai ibu Stella, aku sangat menyukai nya. Hanya saja aku tidak menyukai situasi ini, sangat canggung sekali rasanya.
"Sekarang katakan pada ibu, dimana Sam menyatakan perasaan nya padamu?" tanya ibu Stella lagi.
Wajah ibu Stella terlihat sangat berharap aku segera menjawab pertanyaan nya itu.
'Hah, menyatakan perasaan nya, mana ada! aduh aku harus jawab apa ini?' tanya ku dalam hati pada diriku sendiri.
__ADS_1
"Dia yang menyatakan perasaan nya padaku Bu!" sambar Samuel lagi.
Aku mengernyitkan dahi ku, apa yang si pahit lidah itu katakan sungguh membuatku kaget bukan kepalang.
'Iyuh, menyatakan perasaan padanya. Ngigau apa gimana sih tuh orang!' keluh ku dalam hati.
"Hah benarkah? kamu yang menyatakan perasaan mu pada Sam?" tanya ibu Stella yang sepertinya juga tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh si lidah tajam itu.
Aku langsung menggelengkan kepala ku dengan cepat.
"Tidak Bu, itu tidak benar!" jelas ku.
"Hei, mengaku saja. Kamu yang mengejar ku dan menyatakan perasaan mu padaku bahkan sampai berkali-kali. Aku kasihan padamu dan menerima mu!" ucap Samuel tanpa beban.
Huh, kalau aku tak ingat jika aku masih punya hutang padanya. Aku akan mengajaknya berduel, meskipun aku yakin aku tak akan menang melawan nya. Tapi memukul kepalanya sekali saja, biar pun aku babak belur aku sudah puas.
"Jangan katakan hal yang tidak benar Samuel!" ucap ibu Stella. Aku sangat menyukai ibu Stella, dia selalu mendukung ku.
"Baiklah Naira, jangan biarkan dia mengarang bebas lagi. Kamu harus katakan pada ibu yang sebenarnya!" desak ibu Stella.
'Kurasa ibu Stella benar-benar percaya padaku. Baiklah, kalau si lidah tajam itu bisa mengarang bebas, aku juga bisa kan!' batin ku.
"Dia membawaku ke rumah nya saat bilang akan menikahi ku!" jawab ku dengan suara pelan dan menundukkan wajah ku.
Meski aku hanya mengarang, tapi ternyata butuh keberanian besar untuk kata-kata itu bisa keluar dari mulut ku. Dan aku menundukkan kepalaku bukan karena malu, tapi tidak ingin melihat ekspresi si lidah tajam yang sudah pasti sangat kesal dengan apa yang aku katakan barusan.
***
Bersambung...
__ADS_1