Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
73


__ADS_3

Kulihat suasana hati Samuel sedang baik, jadi aku rasa aku akan mengatakan tentang pak Ranu pada Samuel sekarang saja.


"Em tuan... apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya ku sedikit ragu.


Dia yang awalnya sedang mengetik sesuatu di ponselnya langsung melirik tajam ke arah ku.


"Heh, perhitungan sekali. Aku hanya minta saran, dan kami langsung meminta imbalan! dasar!" ketus Samuel padaku.


Tapi dari kata-kata yang dia ucapkan itu, aku juga tidak mendengar penolakan darinya. Jadi aku rasa aku bisa melanjutkan apa yang ingin aku katakan.


"Tuan, bukan begitu. Tapi...!"


"Sudahlah, katakan saja. Suasana hatiku sedang baik, aku akan kabulkan satu permintaan mu tanpa syarat!" selanya sebelum aku selesai mengatakan apa yang ingin aku katakan.


Aku tersenyum senang mendengar apa yang Samuel katakan.


"Benarkah tuan?" tanya ku memastikan.


"Jangan sampai aku mengulangi nya ya, aku bisa berubah pikiran, lanjutkan memijat bahuku!" ucapnya lagi.


Aku segera berjalan ke belakang Samuel, lalu memijit punggungnya lagi.


"Tuan, besok anaknya pak Ranu akan di wisuda. Bolehkah kalau pak Ranu cuti dan pulang agar bisa hadir di wisuda anaknya besok?" tanya ku pelan. Aku bicara dengan sangat hati-hati, menurutku sangat lembut. Tidak tahu kalau di pendengaran si lidah tajam itu.


"Kamu bilang apa?" tanya lagi.


'Hah, apa dia tidak dengar? apa aku terlalu lembut saat bicara, suaraku terlalu pelan?' tanyaku dalam hati, aku sangat bingung karena aku rasa aku bicara dengan sangat jelas.


"Tuan, anda benar-benar tidak mendengarnya?" tanya ku bingung.


"Ck... bukan itu. Pendengaran ku ini masih sangat bagus. Jangan asal bicara!" ucapnya ketus sepertinya tidak terima.


"Tapi tadi tuan bilang...!"

__ADS_1


"Hei, aku hanya berikan kamu satu permintaan. Kamu yakin malah akan akan meminta untuk pak Ranu bukan untuk mu sendiri?" tanya Samuel yang membuat ku jadi mengerti maksudnya.


'Jadi itu maksudnya, benarkah orang yang ada di depan ku ini Samuel yang sama dengan orang yang selalu menghinaku itu?' tanya ku dalam hati.


Aku nyaris tak percaya kalau dia akan berfikir begitu, kalau dia tidak menjelaskan aku pun tidak akan tahu maksudnya, ku kira dia masih arogan dan pura-pura tidak dengar. Tapi lebih baik aku tanyakan saja sekarang, dia mengijinkan pak Ranu cuti atau tidak. Aku takut nanti dia akan berubah pikiran lagi.


"Oh, iya tuan. Jadi bagaimana apa tuan mengijinkan pak Ranu cuti?" tanya ku memastikannya.


"Tentu saja, dia boleh cuti!" ucapnya santai.


"Ah, terimakasih tuan!" ucap ku senang dan tanpa sadar aku memeluk Samuel dari belakang.


'Astaga, apa yang aku lakukan?' pekik ku dalam hati dan langsung menarik tubuhku menjauh dari Samuel.


"Tu..tuan, ma.. maaf! aku tidak sengaja! aku... aku!" aku sangat gugup. Aku terus meminta maaf, aku takut karena kecerobohan ku ini malah membuat Samuel berubah pikiran.


"Ekhem... sebaiknya kamu keluar, katakan pada pak Ranu untuk pulang sekarang, agar dia bisa bersiap-siap untuk acara putrinya besok!" ucap nya memberikan perintah padaku.


Aku sempat terkejut, aku bahkan masih diam mematung di tempat ku. Aku kira dia akan marah, tapi ternyata tidak.


Aku langsung tersadar dari lamunan ku, apa yang aku pikirkan, kenapa aku malah bengong. Aku langsung berlari ke arah pintu keluar dan membukanya, tapi sebelum aku keluar, aku berbalik dan melihat ke arah Samuel yang juga sedang melihat ke arah ku.


"Terimakasih tuan!" ucap ku sebelum menutup pintu.


Aku segera mencari pak Ranu untuk mengatakan berita bagus ini padanya, dia pasti akan senang karena di ijinkan untuk mengambil cuti dan dia bisa mendampingi putrinya wisuda. Aku mencari pak Ranu di taman, tempat terakhir kali aku bertemu dengannya. Tapi disana dia tidak ada.


Aku lalu pergi ke dapur, dan disana pak Ranu juga tidak ada. Akhirnya aku bertanya pada seorang pelayan yang tengah membersikan lukisan di ruang tengah.


"Permisi, apakah kamu melihat pak Ranu?" tanya ku pada pelayan wanita yang masih muda itu.


"Nona Naira, saya tadi melihat pak Ranu kearah depan, seperti nya ada tamu yang tidak boleh masuk oleh tuan itu, jadi pak Ranu menemuinya!" jelas si pelayan wanita muda itu.


Aku mengangguk kan kepalaku.

__ADS_1


"Oh, begitu. Baiklah, terimakasih ya!" ucap ku padanya dan langsung menuju ke arah pintu depan.


Langkah ku terhenti ketika aku mendengar keributan di depan gerbang, aku mendekati pintu gerbang dan melihat ada apa sebenarnya. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat wanita yang saat itu datang ke rumah ku dan memarahi Ibras juga sedang marah pada pak Ranu.


"Hei pelayan rendahan, kamu jangan mengada-ada ya, Samuel tidak mungkin tidak ingin bertemu dengan ku. Cepat buka pintunya atau aku akan meminta Tante Stella memecat mu!" kesal wanita itu sambil berteriak-teriak dengan wajah yang sudah merah padam.


'Hem, aku rasa inilah saatnya aku membalas perbuatannya pada Ibras waktu itu!' batin ku yang sudah memikirkan untuk membalas perempuan ini.


"Ada apa ini?" tanya ku pada pak Ranu.


Pak Ranu langsung menoleh ke arah belakang, ke arahku.


"Nona Naira, begini nona! tuan Samuel sudah melarang nona Natasha untuk masuk kemari, tapi dia tidak percaya dan tetap memaksa masuk!" jelas pak Ranu yang terlihat sudah mulai lelah menghadapi tingkah Natasha, dia kesal tapi tetap harus menghormati nya, dan yang paling tahu perasaan seperti itu adalah aku.


Aku maju dan melihat ke arah Natasha.


"Aku ingat kamu, kamu adalah wanita mengaku sebagai tunangan dari suami ku kan?" tanya ku membuat wanita di depan ku ini makin kesal.


"Diam kamu, cepat buka pintunya. Kamu juga hanya gadis rendahan, aku tidak mau bicara dengan mu! aku mau bertemu Samuel!" serunya dengan nada suara yang terus meninggi.


"Kamu bilang apa? rendahan? tapi perempuan yang kamu bilang rendahan ini adalah istri sah dari seorang Samuel Virendra!" ucap ku. Aku rasa aku telah memukul telak dirinya dengan perkataan ku barusan.


Aku bahkan mendengar suara tawa tertahan dari pak Ranu.


"Jadi sebagai istri dari Samuel Virendra dan nyonya rumah disini, aku dengan tegas tidak mengijinkan mu masuk. Silahkan pergi dari sini dan jangan buat keributan di rumah ku!" tegas ku.


"Kamu... !" bentaknya padaku.


"Nona Natasha, aku yakin anda tidak ingin menjatuhkan harga diri anda lebih dari ini bukan?" tanya ku pada wanita yang sudah memelototi ku sejak tadi ini.


Entah aku dapat keberanian darimana, tapi kurasa. Aku akan segera dapat masalah karena ini.


"Kamu lihat saja nanti!" ancamnya sambil menunjuk ke arah ku sebelum masuk ke dalam mobilnya dan pergi.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2