Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
147


__ADS_3

Meninggalkan Caren yang sepertinya sangat kesal padaku, aku masuk ke dalam ruangan dimana tadi Firza menarik Samuel dan membawanya masuk. Mina memberikan kotak obat padaku karena para medis sedang di hubungi olehnya dan kemungkinan sebentar lagi akan datang.


"Kak, aku tinggal dulu. Melihat kondisi tuan Kenzo, kakak bisa menangani kan?" tanya Firza padaku.


Aku langsung mengangguk pelan dan dia pun akhirnya keluar dari ruangan dan menutup pintunya dengan perlahan.


Samuel duduk di sebuah sofa panjang yang di depannya ada sebuah meja persegi panjang yang ukurannya tidak besar. Aku ikut duduk di sebelah Samuel.


Wajahnya terkena pukulan Kenzo dan itu lumayan terlihat, karena sudut bibirnya juga sedikit sobek bahkan membengkak. Lalu dekat pelipis sepertinya lebam, di pipinya juga. Sepertinya mereka benar-benar berkelahi, hingga jika tidak ada yang memisahkan mereka berdua, mungkin mereka akan bertarung habis-habisan.


Aku mengambil kapas yang sudah aku tetesi dengan alkohol yang di khususkan untuk membersihkan luka seperti ini. Aku berusaha untuk menjangkau sudut bibir Samuel, aku tidak menatap matanya hanya melihat dimana luka di wajah Samuel berada.


Masih tak habis pikir di kepala ku, kalau dia malah berkelahi di acara penting seperti ini. Bagaimana pendapat tuan Thomas nanti, dan lebih dari itu aku lebih kesal karena dia berkelahi demi Caren.


Tidak tahu apa yang dikatakan oleh Caren tadi itu benar atau tidak. Tapi memang begitu kenyataannya, dia memang mengikuti Caren dan Kenzo lalu berkelahi dengan Kenzo. Bisa jadi apa yang di katakan oleh Caren tadi benar bukan.


"Sshhh!" Samuel mendesis menahan sakit ketika aku menempelkan kapas di tempat lukanya berada.


Aku menarik kapas itu saat dia mendesis menahan sakit, dan aku menempelkan lagi dan membersihkan lukanya ketika dia sudah diam dan tenang. Aku melakukan itu di beberapa tempat yang terluka. Aku dulu pernah belajar PMR di sekolah, jadi sedikit sedikit aku tahu lah caranya menangani orang luka ringan seperti ini.


"Tidak ingin tahu kenapa aku dan Kenzo berkelahi?" tanya Samuel.


Sebenarnya aku terkejut saat Samuel mengatakan itu. Tapi aku lebih tidak ingin dengar jawaban kalau dia berkelahi demi membela Caren. Aku diam dan masih sibuk dengan aktivitas ku memilih obat luka yang tepat untuk Samuel. Karena di dalam kotak ini ada beberapa krim dan salep yang bisa di gunakan.


Pilihan ku jatuh pada satu krim yang seperti nya pernah aku lihat di rumah Samuel. Kurasa ini bagus, jadi aku segera membuka penutup nya dan mencolek sedikit di jari telunjuk kanan ku. Setelah itu aku berniat akan mengoleskan nya di pelipis Samuel tapi tangan ku di tahan olehnya.


Samuel memegang pergelangan tangan kanan ku membuat ku melihat ke arah tangan ku lalu ke arah Samuel bergantian.


"Kenapa tidak menjawab?" tanya nya menatap ku dengan tajam.


Aku berusaha menarik tangan ku, tapi dari segi tenaga aku memang kalah jauh darinya.


"Terserah kalau tidak mau di obati! lepaskan tangan ku!" seru ku kesal.


Aku selalu berusaha bersikap tenang dan mengalah kalau menghadapi Samuel. Tapi rasanya kesal sekali kalau dia terus semena-mena padaku, padahal aku sudah menjalankan tugas ku sebagai seorang istri dengan baik, kurasa.

__ADS_1


Dan setelah aku mengatakan itu kepada Samuel, dia malah semakin kuat mencengkeram pergelangan tangan ku.


"Lepas mas, sakit!" protes ku padanya.


"Makanya kalau di tanya itu di jawab!" seru nya lagi.


Aku menghirup nafas dalam-dalam. Aku pikir sudah saatnya untuk mengatakan apa yang seharusnya aku katakan.


"Mau di jawab apalagi, kamu berkelahi dengan Kenzo pasti karena perempuan itu kan, perempuan yang bilang kalau kamu masih sangat mencintai nya, dan kalau kalian bersatu maka kamu pasti akan membuang ku bahkan sebelum kontrak pernikahan kita berakhir, iya kan?" tanya ku dengan nafas yang menggebu-gebu.


Pundak ku sampai naik turun, karena ku belum pernah bicara dengan nada setinggi ini pada siapapun sebelumnya. Aku juga tidak perduli lagi kalau dia marah, aku rasa uang yang di tabungan ku dan hadiah dari ibu Stella sudah cukup untuk masa depan ku nanti. Ah, aku kesal sekali.


Aku bahkan masih menatap Samuel dengan berani, ketika dia mulai melepaskan pergelangan tangan ku perlahan.


"Lanjutkan!" ucap nya.


Aku sedikit bingung, meski masih mengatur nafas dan masih menatapnya dengan tajam tapi aku tidak mengerti apa yang dia maksud.


'Lanjutkan apa? lanjutkan marah-marah gitu?' tanya ku dalam hati.


"Oleskan krim nya!" ucapnya.


Aku mendengus kesal mendengarnya mengatakan hal itu. Tapi meskipun begitu, aku tetap mengoleskan krim di beberapa luka yang ada di wajah Samuel.


Saat aku mengoleskan krim di sudut bibirnya, dia malah bicara lagi.


"Apa kamu cemburu, kalau aku berkelahi demi wanita lain?" tanya nya dengan suara yang tidak sekeras tadi. Maksud ku nada suaranya sedikit melembut.


'Pakai di tanya lagi, mana istri yang gak cemburu lihat suaminya adu jotos sampai babak belur demi wanita lain. Menyebalkan!' gerutu ku dalam hati.


"Untuk apa aku cemburu!" jawab ku singkat.


Aku benar-benar sudah menjadi pembohong sekarang, yang bicara lain di bibir lain di hati. Tapi bagaimana lagi, kalau aku bilang cemburu maka dia akan menertawakan aku. Lalu dia akan mengingatkan aku lagi tentang status ku. Siapa aku dan siapa dirinya, lalu mengingatkan lagi di kelas mana aku berada, dia akan dengan bangga sambil membusungkan dada nya mengatakan, wanita kelas menengah ke bawah seperti aku tidak pantas bersanding dengan pria kelas atas seperti dia. Lalu kenapa dia meminta aku jadi istrinya.


"Lalu kenapa wajah mu terlihat kesal?" tanya lagi.

__ADS_1


Dan kali ini aku kembali mendengus kesal.


"Lalu wajahku harus bagaimana?" tanya ku balik padanya.


Aku juga tidak tahu kenapa aku rasanya malah ingin menjambak rambutnya karena dia tadi terus memancing kemarahan ku. Memang aku boleh marah? tidak kan! lalu kenapa dari tadi dia seolah memancingku agar aku marah.


"Sudah selesai, sebentar lagi juga akan dokter yang memeriksa mu. Aku mau ke toilet!" ucapku sengaja ingin menghindari nya.


Saat aku berdiri dari sofa dan meletakkan kotak obat di meja, dia kembali menahan tanganku.


"Tidak akan ku biarkan kamu pergi kemana pun, seseorang mengatakan kalau dia akan merebut mu...!"


Sebelum Samuel bisa menyelesaikan kalimat nya, seseorang datang dan menyelanya.


"Kak Sam, kak Naira!" panggil Mina.


Aku langsung melepaskan tangan ku dari genggaman Samuel dan berjalan mendekati Mina.


"Dokter tolong periksa kakak sepupu ku ya. Kak Naira ayah dan ibu ingin bicara, ayo!" ucap Mina.


Aku menganggukkan kepalaku. Lalu Mina melihat ke arah Samuel.


"Kak Sam, kakak akan di periksa. Aku akan bawa kak Naira ke ruang VIP. Jika sudah selesai kak Sam bisa menyusul kesan!" seru Mina dan di balas anggukan oleh Samuel.


Kami berdua, aku dan Mina berjalan ke sebuah ruangan yang tak jauh dari ruangan Samuel.


"Mina, apakah ayah dan ibu mu marah atas kejadian tadi?" tanya ku pada Mina.


Masalahnya adalah Samuel mengacau di pesta perayaan pernikahan mereka. Aku rasa mereka memanggil ku untuk memarahiku. Apalagi jawaban Mina yang hanya mengangkat bahunya sekilas setelah aku bertanya.


'Huh, hadapi saja lah. Mau bagaimana lagi!' gumam ku dalam hati.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2