
Hari sudah semakin siang, saat ini aku sedang berada di taman belakang rumah Samuel. Di taman ini ada banyak lahan kosong, aku tidak tahu kenapa Samuel tidak menanam apapun disini.
Saat pak Ranu datang membawa kan jus jeruk untukku, aku pun bertanya pada pak Ranu.
"Pak Ranu, sejak awal kemari aku penasaran. Kenapa taman yang begitu luas ini, tidak ada tanaman atau pohon satu pun?" tanya ku.
Pak Ranu lalu terlihat berfikir, sepertinya dia tahu jawabannya tapi enggan mengatakan nya padaku. Dan hal itu malah membuatku semakin penasaran, sebenarnya apa yang dia coba untuk tidak katakan padaku.
"Pak Ranu, bukankah kamu menganggap aku seperti anakmu sendiri?" tanya ku dan pertanyaan ku itu membuat pak Ranu mengangguk kan kepalanya cepat.
"Iya nyonya muda, tapi...!" jawab pak Ranu yang kembali menjadi ragu saat akan mengatakan alasan nya padaku.
Dan sikap nya yang seperti itu makin membuatku ingin tahu, alasan khusus apa, sespesial apa kah alasan itu.
"Awalnya di belakang itu banyak pohon besar, ada pohon mangga. Apel dan jambu air. Tapi tuan meminta untuk dibersihkan karena akan membuat kolam renang yang awalnya untuk nona Caren, karena nona Caren sangat suka berenang!" jelas pak Ranu.
Aku hanya manggut-manggut saja, jadi itu alasannya taman ini begitu lapang dan kosong.
Pak Ranu terlihat cemas dengan reaksi yang aku tunjukkan.
"Nyonya muda tidak tersinggung kan?" tanya pak Ranu hati-hati.
Aku langsung menggelengkan kepala ku dengan cepat.
"Tidak pak Ranu, kenapa aku harus merasa tersinggung. Dulu mas Samuel memang sangat mencintai wanita bernama Caren itu, tapi sekarang kan sudah tidak. Mereka kan sudah putus, hubungan mereka sudah berakhir!" jelasku pada pak Ranu.
Aku yakin akan hal itu, karena mereka putus di depan mataku saat di Singapura. Pak Ranu lalu tersenyum dan menghela nafasnya terlihat sangat lega.
"Syukurlah kalau begitu, saya akan kembali ke depan. Jika nyonya butuh apapun, bunyikan saja lonceng yang ada di atas meja itu!" ucapnya sambil menunjuk ke arah lonceng di atas meja.
Aku baru tahu kalau ternyata itulah kegunaan lonceng yang sejak tadi ada di atas meja taman ini.
__ADS_1
Satu jam kemudian, matahari semakin terik. Dan sudah sangat panas di taman belakang. Aku rasa seperti nya kalau Samuel memberikan ku kesempatan untuk meminta sesuatu lagi, aku akan meminta agar di taman belakang ini di tanami pohon-pohon buah agar lebih sejuk dan tentunya berbuah banyak.
Aku lalu berdiri dan berjalan perlahan menuju ke dalam, sekarang tubuhku sudah lebih baik. Hanya masih pegal di beberapa bagian. Pasti akan sangat menyenangkan kalau urut dengan Mbah Ranti. Tukang urut langganan di komplek perumahan ayah.
Aku sudah berada di dalam, rasanya benar-benar bosan seperti ini. Mau menelpon ibu, Puspa atau Mini juga tidak bisa karena di ponselku hanya ada nomer Samuel dan ibu Stella. Aku memutuskan untuk menonton film saja. Aku dengar kalau Samuel punya ruangan yang khusus dipakai untuk menonton film. Aku jadi tertarik untuk masuk ke sana.
Tapi untuk menyalakan alat pemutar film nya aku tidak tahu bagaimana caranya, jadi aku memanggil seorang pelayan yang kata pak Ranu sudah biasa melayani Samuel dan Caren jika mereka menonton film berdua.
Pelayan itu sudah membersihkan ruangan, dan setelah bersih baru dia mempersilakan aku masuk.
"Silahkan masuk nyonya, anda mau menonton film apa?" tanya pelayan itu sangat ramah.
"Biasanya apa film yang di tonton oleh mas Sam?" tanya ku.
"Apa anda ingin menonton film yang sama dengan yang terakhir tuan tonton?" tanya pelayan itu dan aku langsung mengangguk setuju.
Pelayan itu mempersilahkan aku duduk di kursi yang sangat nyaman, bahkan ini nyaris seperti kursi pijat. Tapi sepertinya ini memang kursi pijat, saat aku tekan sebuah tombol. Sebuah getaran dan lama kelamaan sandaran kaki semakin menyempit dan mengapit kedua kakiku dan memberikan efek getaran seperti sedang dipijat. Rasanya lumayan enak, seperti benar-benar sedang di pijat.
Setelah layar besar di depan ku menyala dan mulai memutar film, pelayan itu segera pamit keluar dari ruangan itu. Meninggalkan aku sendiri dan memberitahu jika membutuhkan sesuatu maka bisa menekan tombol berwarna merah di remote kecil di atas meja di samping kursi yang aku duduki.
Sambil memakan cemilan yang ada, aku mulai memperhatikan dengan seksama layar besar di hadapan ku. Awalnya adegan film nya masih biasa, mengisahkan seorang pria dan seorang wanita yang bertemu di sebuah pesta topeng, mereka berkenalan dan mulai tertarik satu sama lain. Meski film ini menggunakan bahasa Inggris, tapi ada translate nya di bagian bawah layar seperti di bioskop pada umumnya.
Namun semakin lama rasanya aku di buat makin ternganga dengan adegan yang ada. Dua orang yang baru bertemu selama beberapa jam itu bahkan sudah saling mencium, dan si pria menarik wanita itu kesebuah ruangan di belakang gedung pesta dansa. Dan aku sampai berhenti mengunyah popcorn yang sudah ada di mulut ku ketika pria dan wanita itu melakukan hubungan suami istri sambil berdiri.
Aku tidak habis pikir bagaimana Samuel bisa menahan gejolak yang ada di dirinya saat menonton film seperti ini bersama Caren. Aku saja panas dingin melihat adegan demi adegan yang sepertinya mereka lakukan secara real tanpa editan itu.
Wajah ku memanas. Aku putuskan untuk menutup mataku dan juga telingaku, karena suara si perempuan bahkan lebih membuatku merinding lagi. Aku saja yang sudah melakukan itu dengan Samuel tidak sampai mengerang seperti itu.
Tapi ketika aku menutup telingaku, seseorang menyentuh tangan ku dan membuat ku terkejut, sampai aku langsung berdiri dan menjauh dari kursi yang aku duduki.
"Hah, mas Samuel!" ucap ku sambil mengatur nafasku karena tadi aku benar-benar terkejut.
__ADS_1
Samuel melihat ke layar besar di depannya.
"Duduk!" serunya lalu dia duduk dengan santai di kursi yang tadi aku duduki.
Aku pun duduk seperti yang di perintahkan nya di sampingnya.
"Kenapa tidak bilang kalau kamu suka film seperti ini?" tanya nya tanpa menoleh ke arah ku.
Aku langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak mas, aku baru pertama kali melihat film seperti ini!" jelas ku. Lagipula kenapa tadi aku minta pada pelayan untuk memutarkan film yang terakhir kali di putar oleh Samuel.
Tapi beberapa detik kemudian Samuel meraih remote dan mematikan layar besar itu. Ruangan langsung menjadi gelap.
"Huh, sudahlah kita bisa menonton ini lagi saat kondisi mu sudah membaik!" serunya lalu berdiri dan melihat ke arah ku.
Dia lalu menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga ku.
"Kita bisa mempraktekkan langsung adegan di film itu!" bisiknya dengan suara serak.
Padahal aku tidak menonton film horor, tapi sejak tadi aku dibuat merinding. Jika reaksinya saat menonton bersama ku orang yang tidak dia sukai saja seperti ini, aku tidak tahu seperti apa reaksinya saat menonton bersama Caren, wanita yang jelas-jelas dia sukai.
Karena penasaran, aku pun bertanya padanya.
"Mas, itu artinya kamu sudah mempraktekkan nya bersama dengan...!" awalnya aku ingin bertanya. Tapi setelah melihat tatapan Samuel yang tajam seperti pisau belati yang baru di asah, aku menghentikan kalimat ku.
"Memang sulit ya kalau lelaki mau bilang dia masih perjaka, tapi asal kamu tahu. Kamu juga adalah yang pertama untuk ku!" jawabnya seolah mengerti dengan rasa penasaran ku.
Dan setelah mengatakan kalimat yang membuat ku tertegun, dia malah kelir dari ruangan ini dengan santai.
***
__ADS_1
Bersambung...