
"Apa kamu bilang?" tanya Puspa pada Samuel karena Samuel mengatakan pada Puspa harus membuatkan pakaian khusus untuk Naira yang hanya terlihat bagian mata dan telapak tangan nya saja.
"Ada apa? kamu tidak bisa membuatnya? payah!" seru Samuel yang membuat Puspa malah berkacak pinggang di depannya.
"Riksa!!!" pekik Puspa yang sejak tadi kesal pada kelakuan Samuel.
"Cepat bawa bos mu ini pergi dari butik ku, aku bisa darah tinggi menghadapi orang ini! dasar menyebalkan!" kesal Puspa.
Riksa sudah berdiri dari kursinya dan bersiap mendekati Samuel, tapi baru dua langkah Samuel langsung melotot tajam pada Riksa.
"Berani maju selangkah lagi, ku pecat kamu!" gertak Samuel membuat langkah Riksa langsung terhenti.
Puspa sampai harus menepuk dahinya karena apapun yang dia lakukan dan katakan tetap kalah pada kesetiaan Riksa terhadap Samuel.
"Dengar ya tuan Samuel, bos nya kekasihku yang penakut...!" Puspa menjeda kalimatnya lalu melirik ke arah Riksa yang lagi-lagi hanya bisa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.
"Istrimu itu sedang hamil, cuaca di kota kita ini sedang panas-panasnya, lalu kalau kamu meminta aku membuatkan pakaian seperti itu untuk istrimu apa kamu pikir Naira tidak akan kepanasan, apa kamu pikir dia akan nyaman dengan pakaian seperti itu di cuaca yang begini panasss?" tanya Puspa pada Samuel dengan menekankan kata paling akhir dari kalimatnya.
Samuel terdiam sejenak.
"Memangnya tidak bisa buatkan dari bahan pakaian yang nyaman dan sejuk di pakai?" tanya Samuel yang masih belum menyerah agar Puspa membuatkan pakaian yang Samuel mau untuk Naira.
"Tidak ada tuan Samuel, sudah ya. Aku harus pergi. Aku harus menghadapi ibu ku, jadi jangan tambah pusing. Kepala ku rasanya sudah mau pecah ini!" keluh Puspa yang memang sudah merasa kesal sejak ibunya datang, di tambah lagi keinginan Samuel yang tidak-tidak tentang pakaian Naira.
"Kenapa dengan ibu mu? dia membuat masalah lagi?" tanya Samuel.
Puspa menyipitkan matanya pada Samuel. Pertanyaan Samuel itu terkesan seperti mengatakan kalau ibu kandung Puspa itu suka bikin masalah.
"Kenapa pertanyaan mu terkesan kalau ibu ku itu sering membuat masalah?" tanya Puspa.
"Sudah, sudah... Bos, aku ijin dulu ya, aku mau menemani Puspa ke rumahnya!" ucap Riksa.
__ADS_1
"Apa aku perlu ikut kalian?" tanya Samuel yang sedikit mencemaskan kedua sahabatnya itu.
"Tidak perlu, kamu urus saja pekerja di perusahaan mu. Aku pinjam dulu asisten pribadi mu ya, bye!" ucap Puspa sambil menggandeng lengan Riksa dan mengajaknya keluar dari ruangannya.
Samuel menaikkan kedua alisnya melihat pemandangan yang ada di depannya dan karena sudah tidak ada urusan lagi di tempat ini. Samuel juga segera pergi meninggalkan butik Puspa dan menuju ke perusahaan nya.
Beberapa saat kemudian, mobil yang di kemudikan oleh Riksa pun tiba di depan pintu gerbang kediaman nenek Arumi. Penjaga gerbang yang melihat Puspa yang telah menurunkan kaca jendela mobil langsung berlari menuju pintu gerbang dan membuka pintu gerbang yang tingginya lebih dari 3 meter itu.
Setelah pintu gerbang di buka, Riksa langsung melajukan mobilnya dan berhenti tepat di depan teras utama kediaman nenek Arumi.
Puspa juga langsung turun dari mobil, di ikuti oleh Riksa.
"Puspa!" sapa Putra yang begitu senang melihat anaknya datang dan langsung bergegas menghampiri Puspa dan memeluk putrinya itu.
Puspa juga memeluk sang ayah, karena dirinya tahu saat kejadian pengusiran pak Nasrul dan ibu Jamilah, saat itu Putra tidak ada di tempat itu karena sedang mengurus surat ijin tinggal mereka di kantor imigrasi.
"Ayah sangat mencemaskan mu nak, kamu kemana saja? kenapa tidak mau pulang dan bicara pada ayah?" tanya Putra dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ayah maafkan aku, tapi aku baik-baik saja. Bagaimana dengan ayah, apa ayah makan dan istirahat dengan baik?" tanya Puspa pada ayahnya.
"Ayah senang kamu pulang, kita bicara baik-baik ya!" ajak Putra menuntun Puspa untuk mengikuti nya duduk di sofa ruang tamu.
Namun Puspa berhenti sebentar dan menengok ke arah belakang.
"Riksa, ayo masuk!" ajak Puspa pada Riksa yang masih berdiri di dekat pintu masuk.
"Riksa? dia itu asistennya Samuel kan?" tanya Putra.
"Iya om, selamat siang!" sapa Riksa pada Putra setelah menjawab pertanyaan Putra tadi.
Putra lalu meminta pada pelayan agar memanggil Mega dan juga Anyelir, Jonathan juga langsung keluar dari dalam kamarnya saat mendengar suara Puspa.
__ADS_1
"Puspa, kamu sudah pulang?" tanya Jonathan yang begitu senang melihat kedatangan Puspa kembali ke rumah.
Puspa hanya mengangguk, dan lagi-lagi melihat ke arah Riksa yang tampak tidak nyaman setelah kehadiran Jonathan di ruangan itu.
"Akhirnya kamu kembali, mari kita bicarakan kelanjutan pertunangan mu dengan Jonathan!" seru Mega yang langsung duduk di sofa di dekat Jonathan duduk.
Puspa terkekeh mendengar ibunya berkata seperti itu.
"Ibu, tidakkah seharusnya ibu menjelaskan sesuatu yang sangat penting padaku, sebelum hal lain?" tanya Puspa yang mulai tidak bisa menahan emosional dalam dirinya.
Bukan tanpa alasan Puspa mengungkit perihal kejadian pengusiran pak Nasrul dan ibu Jamilah juga masalah penghentian pembiayaan untuk Fika. Awalnya Puspa juga ingin bicara baik-baik, tapi begitu mendengar ibunya langsung ingin membahas pertunangan nya dengan Jonathan lagi, itu membuat Puspa semakin kesal saja pada Mega.
"Apa maksud mu? apa kamu masih mempermasalahkan tiga orang pelayan yang ibu usir karena mereka memang salah?" tanya Mega tak terima karena Puspa terkesan begitu membela para pelayannya itu.
"Ibu mengusir mereka hanya karena mereka menyelamatkan nyawa orang lain? ibu menyebut mereka pelayan? tapi apa ibu tahu kalau dua orang pelayan itulah yang selalu ada di samping ku saat aku sakit, saat aku menangis, saat kedua orang tuaku sendiri bahkan tidak ada di sampingku! apa ibu sama sekali tidak punya sedikit saja perasaan bersalah pada mereka?" tanya Puspa yang tanpa dia sadari air mata sudah mengalir begitu saja di pipinya.
Putra yang berada di samping Puspa mengusap perlahan punggung dan lengan putrinya itu.
"Nak, maafkan ibu mu ya. Ibu mu saat itu terlalu panik pada keadaan Rose...!"
"Ayah, tapi tidak seharusnya ibu menghentikan pembiayaan untuk Fika, karena hal itu Fika meninggal. Ayah, pak Nasrul dan ibu Jamilah nyaris bunuh diri dengan membakar diri mereka, aku yakin ayah juga mengerti perasaan mereka. Putri mereka satu-satunya meninggal karena ibu...!"
"Jaga ucapan mu Puspa, anak Nasrul itu meninggal ya memang karena sudah waktunya dia meninggal, kenapa menyalahkan ibu untuk hal itu!" kesal Mega yang tidak terima di anggap sebagai penyebab kematian Fika.
"Ibu, aku hanya minta ibu minta maaf pada pak Nasrul dan ibu Jamilah, mau ibu mengelak bagaimana pun, kematian Fika itu karena semua fasilitas penunjang kehidupan nya di cabut, dan itu karena ibu minta pada pihak rumah sakit untuk menghentikan...!"
"Diam Puspa, jangan bahas masalah itu lagi. Sekarang ada hal yang lebih penting, pelayan itu bukan siapa-siapa kita, kenapa begitu perduli padanya. Sekarang yang lebih penting adalah pertunangan mu dengan Jonathan!" seru Mega menyela ucapan Puspa.
Puspa langsung berdiri dan menatap tajam ke arah ibunya.
"Aku tidak akan bertunangan dengan Jonathan, karena aku akan menikah dengan Riksa!" tegas Puspa membuat semua orang disana terkejut bukan main.
__ADS_1
***
Bersambung...