
Samuel masih terlihat sangat ragu, antara menolong Caren atau tidak.
'Ini hanya demi kemanusiaan!' seru Samuel dalam hati.
Setelah berfikir cukup lama dan menimbang-nimbang dengan baik apa yang harus dia putuskan akhirnya Samuel membuka suara.
"Masuklah ke dalam mobil Caren!" seru Samuel meminta Caren agar masuk ke dalam mobilnya.
Caren tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan matanya. Dengan cepat Caren langsung masuk ke dalam mobil Samuel. Dia membuka dengan cepat pintu mobil penumpang bagian belakang dan masuk ke dalamnya dengan cepat.
Samuel lalu mendekati para pria bertubuh kekar dan dengan tato yang hampir memenuhi seluruh tubuh mereka.
"Berapa hutangnya?" tanya Samuel.
Ke empat pria itu tersenyum dan beberapa saling pandang dengan pandangan yang puas.
"Jadi tuan kaya raya ini mau membayar nya, hutangnya 500 juta pada bos kami. Itu berikut bunganya!" seru si pria berkepala pelontos yang tadinya berdiri di belakang pria bertato ular di lehernya.
Samuel dengan cepat masuk ke dalam mobil, dia lalu mengambil buku cek yang ada di tas kerjanya lalu menulis sejumlah yang disebut kan oleh pria berkepala pelontos itu.
"Ini, jangan ganggu wanita itu lagi!" seru Samuel sambil menyerahkan lembar cek bertuliskan angka yang fantastis pada pria-pria yang berdiri di hadapan nya itu.
Pria yang bertato ular di lehernya langsung merebut lembar cek itu dan tertawa puas bersama dengan ketiga lainnya.
"Kita sudah dapatkan uangnya, ayo kita pergi!" ucap mereka tertawa senang.
Setelah orang-orang yang tadi mengejar Caren itu pergi, Samuel kembali masuk ke dalam mobil. Dia menoleh ke belakang dan melihat kondisi Caren yang menurut nya benar-benar sangat menyedihkan.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Samuel dengan nada yang pelan.
Dengan mata yang berkaca-kaca Caren melihat ke arah Samuel.
"Sam, aku sangat lapar. Apa boleh jika kamu mentraktir aku makan dulu, aku akan ceritakan apa yang terjadi!" jawab Caren dengan nada yang sangat lembut.
Samuel kembali menghela nafasnya lalu melihat ke arah depan dan memakai sabuk pengaman nya.
__ADS_1
"Baiklah!" ucap Samuel.
Caren tersenyum senang, dia juga langsung memakai sabuk pengaman. Tidak jauh dari posisi mereka tadi, ada sebuah restoran yang letaknya juga sudah tak jauh dari rumah Samuel, kediaman Virendra. Samuel memarkirkan mobilnya di tempat parkir lalu keluar dari dalam mobil. Dia membukakan pintu mobil untuk Caren, lalu mengajaknya masuk ke dalam restoran.
Tapi saat Samuel akan masuk, Caren menahan tangannya.
"Sam, tidak usah disini! di rumah makan biasa saja. Lihat baju ku, aku tidak nyaman masuk ke sana!" ucap Caren yang sesekali melihat dirinya dan para tamu restoran.
"Aku akan pesan ruang privat!" seru Samuel yang mengerti apa yang di rasakan dan di khawatir kan oleh Caren.
Samuel pun memesan sebuah ruangan privat dan memesan banyak sekali makanan yang tanpa dia sadari semua itu adalah makanan kesukaan Caren.
"Kamu memesan makanan kesukaan ku, kamu masih ingat semuanya!" lirih Caren dengan mata yang berkaca-kaca.
Samuel yang tidak menyadari hal itu langsung melihat ke arah makanan yang ada di atas meja.
"Kebetulan saja, semua menu ini ada di halaman depan. Makan lah!" ucap samuel.
Apa yang di katakan Samuel itu bukan sebuah alasan atau dia sedang berkilah, tapi memang dia tadi melihat semua yang ada di halaman depan buku menu yang tadi di berikan oleh pelayan restoran.
"Uhukk!" sanking tergesa-gesa saat makan. Caren sampai tersedak.
Samuel hanya berseru.
"Pelan-pelan makannya!" ucap Samuel santai.
Dia tidak berniat sama sekali mendekati Caren untuk sekedar memberikan minum atau mengusap punggung nya. Samuel benar-benar menjaga jaraknya dengan Caren.
Ada raut sedih dan kecewa di wajah Caren, lalu dia sendiri langsung meraih gelas yang berisi air minum di hadapan nya.
"Maaf, aku memang sudah tidak makan makanan seperti ini beberapa minggu ini!" ucapnya.
Samuel mengernyitkan kening nya, antara percaya atau tidak percaya.
"Aku sudah mencari pekerjaan dimana-mana, dan semua akses sudah di tutup oleh Kenzo. Bahkan menjadi penjaga toko pun tidak bisa. Untuk makan dan bayar listrik, aku meminjam uang pada Bos orang-orang yang mengejar ku tadi, tapi karena tak punya uang lagi... hiks... hiks..!" Caren sudah terisak.
__ADS_1
Dan karena dia sudah terisak dia sudah tak sanggup meneruskan ceritanya.
"Bayar listrik?" tanya Samuel.
"Kenapa tidak kamu jual saja rumah itu dan mulai usaha sendiri?" tanya Samuel yang mengira kalau Caren masih tinggal di rumah pemberiannya itu.
Caren menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak akan, rumah itu adalah pemberian mu. Sampai kapanpun aku tidak akan menjualnya...!"
"Daripada kamu tidak makan!" sela Samuel yang mulai kesal.
"Aku lebih baik tidak makan daripada menjual satu-satunya hal yang tersisa darimu!" lirih Caren.
Caren mengatakan kalimat itu tanpa menoleh ke arah Samuel. Samuel uang tadinya kesal hanya bisa menghela nafasnya panjang.
"Sam, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Aku juga sudah tidak punya apa-apa lagi. Bolehkan aku meminta pertolongan mu, sekali ini saja lagi hiks... hiks...!" ucap Caren dengan tatapan dan ekspresi wajah memelas pada Samuel.
"Aku juga masih ingin hidup dan bekerja, bolehkah aku bekerja di perusahaan mu, di tempat lain, Kenzo benar-benar sudah menutup jalan ku...!"
"Bukankah kalian saling mencintai, kenapa dia malah membuat mu menderita begini?" tanya Samuel tak percaya.
"Dulu dia memang mencintai ku, tapi sekarang dia sudah mencintai wanita lain. Dan dia mengusir ku dan membuat hidup ku sengsara karena aku tidak mau di ajak bekerja sama mendapatkan wanita itu!" lirih Caren.
Samuel masih diam, dia sedang memperhatikan ekspresi Caren, mencoba mencari tahu apa wanita di depannya itu bicara jujur atau bohong.
"Dan apa kamu tahu, wanita itu adalah Naira, istri mu. Aku tidak mau menghancurkan rumah tangga mu, karena itu dia mengusir ku dan membuat ku kesulitan dimana pun aku berada hiks.. hiks..!"
Samuel mengepalkan tangannya, bukan karena mendengar Kenzo telah mengusir dan membuat hidup Caren berantakan. Tapi karena Kenzo sudah berani mencintai Naira, istrinya.
"Sam, tolong beri aku pekerjaan. Biar hanya sebagai OB aku pun akan terima. Tolong aku Sam, aku mohon!" pinta Caren dengan kedua tangan dia satukan di depan wajahnya, memohon pada Samuel agar mau membantunya.
Author POV end
***
__ADS_1
Bersambung...