Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
244


__ADS_3

Puspa masih berusaha untuk mempercayai apa yang dia lihat ketika di rumahnya justru semua orang sedang saling melihat satu sama lain karena Samuel merasa kalau dalang di balik penculikan Puspa pasti orang dalam rumah ini.


"Bagaimana kamu bisa berpikir begitu? orang dalam rumah ini?" tanya Mega yang masih tak percaya pada apa yang di katakan oleh Samuel.


"Semua bukti mengarah ke sana, coba Tante pikir bagaimana bisa pelaku penculikan itu bisa tahu dengan pasti dimana pusat panel listrik di rumah ini, dengan cepat mereka bertindak, dan mereka bisa dengan cepat menemukan kamar Puspa!" balas Samuel karena merasa sedari tadi dirinya meminta Mega dan Anyelir mengingat apakah pernah terjadi cekcok atau kesalahpahaman antara penghuni rumah mereka terus saja menyangkal.


"Iya, bisa saja kan mereka memang sudah ahli. Sebaiknya serahkan saja penyelidikan ini pada polisi, mereka lebih profesional!" ucap Mega yang sudah mulai merasa sangat lelah menanggapi segala pertanyaan dari Samuel.


"Asal kamu tahu Bu, polisi tadi juga bilang seperti itu setelah mendengarkan pendapat nak Samuel. Ayah dia hari ini jarang di rumah karena masih mengurus ijin tinggal kita. Coba kamu beritahu apa saja yang terjadi dia hari ini. Bisa saja itu membantu penyelidikan polisi dan juga nak Samuel. Kita tidak tahu motif penculikan putri kita, iya kalau hanya ingin tebusan. Kalau mereka memiliki dendam dan itu mengakibatkan Puspa berada dalam bahaya bagaimana?" tanya Putra dengan tatapan penuh kecemasan memandangi sang istri yang matanya juga sudah merah karena sempat menangis mengkhawatirkan keadaan Puspa.


Mega diam sebentar, dia lalu melihat ke arah suaminya dengan tatapan yang menunjukkan ketakutan.


"Sebenarnya tadi pagi, terjadi sesuatu. Tapi aku tidak tahu apa yang aku pikirkan ini benar atau tidak, masalahnya adalah sepertinya tidak mungkin dua orang itu melakukan semua ini pada Puspa." jelas Mega membuat Putra langsung mendekati sang istri dan menyentuh kedua lengannya.


"Dua orang itu? apa maksudmu?" tanya Putra yang begitu penasaran dengan maksud sang istri sebenarnya.


Samuel dan Riksa saling pandang, mereka segera memperhatikan dengan baik apa yang akan dikatakan oleh Mega. Karena apapun itu bisa saja menjadi petunjuk bagi mereka untuk menemukan Puspa, keberadaan Puspa saat ini.


Mega pun mulai menceritakan kejadian tadi pagi.


Flashback On


"Bekerjalah dengan cepat, kalian sudah berapa tahun kerja disini? apa aku harus memberitahu kalian terus apa saja yang harus kalian kerjakan!" bentak Mega yang sudah kesal dari pagi karena para asisten rumah tangga Puspa bekerja dengan sangat lambat.


Sementara para asisten rumah tangga Puspa merasa kalau Mega lah yang membuat pekerjaan mereka semakin lambat. Beberapa kali Mega meminta dekorasi ulang pada halaman depan yang akan di jadikan tempat acara pesta ulang tahun sekaligus acara pertunangan untuk Puspa.


"Ih, ibunya nona muda ini bagaimana sih. Kita sudah dari pagi tiga kali gonta ganti tirai ini. Mana aku belum sarapan lagi dari pagi. Biasanya kalau nona Puspa punya acara seperti ini, dia akan meminta orang dari Even Organizer nya langsung yang mendekor. Ini kenapa jadi kita yang di suruh kerja dari jam empat subuh begin" tanya Welas salah seorang asisten rumah tangga Puspa yang sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun di tempat ini. Sejak dia lulus SMA, sejak nenek Arumi masih sangat sehat dulu.


"Gak tahu nih, nona Puspa saja belum bangun. Apa kita bilang saja pada nona Puspa ya?" tanya Onah salah satu asisten rumah tangga Puspa yang lain.


Tapi ketika dua asisten rumah tangga itu sedang saling mengadu dan meminta pendapat satu sama lain. Mega melihat ke arah mereka dan makin kesal saja melihat keduanya yang malah terlihat mengobrol bukan mengerjakan apa yang tadi dia sudah perintahkan pada mereka.


"Hei, kenapa malah mengobrol kalian, cepat ganti dengan warna yang baru di beli tadi!" perintah Mega pada Onah dan Welas.


Dengan gugup Onah langsung berlari, mengambil tirai yang baru dan Welas pun melepas yang sudah terpasang yang dianggap tidak sesuai warnanya oleh Mega. Namun Welas yang sudah bekerja dari jam 4 dini hari akhirnya terjatuh ketika berusaha melepas tirai, dia bahkan membuat tirai itu sobek dengan sobekan uang cukup panjang.


"Ya ampuunnn!" pekik Mega yang kesal sekali dengan kinerja para asisten rumah tangga putrinya itu.


"Kalian ini memang terlalu dimanjakan oleh Puspa ya, lihat apa yang sudah kamu lakukan. Keterlaluan! gaji kalian tidak akan bisa mengganti tirai uang kalian rusak ini!" seru Mega dengan suara yang menggelegar karena kesal.


Karena sebenarnya dia juga belum sarapan apapun karena memikirkan persiapan untuk perayaan pesta ulang tahun putrinya.


Ditengah amukan Mega, kepala asisten rumah tangga Puspa datang dengan berlari mendekati Mega.


"Nyonya maafkan Welas, dia sejak pagi belum makan. Biar saya gantikan pekerjaan nya agar dia bisa makan dulu!" ujar wanita paruh baya yang memakai kacamata yang sudah puluhan tahun bekerja pada Arumi.


"Kebiasaan bibi Milah ini ngebelain bawahannya, yang ada mereka bisa manja. Bibi ngapain disini tadi kan saya minta bibi jagain Rose di belakang!" keluh Mega lagi pada Jamilah, kepala asisten rumah tangga di rumah Puspa.


"Ibu, tolong... tolong...!" teriak Anyelir dari arah belakang rumah.


Semua orang langsung berlari ke arah belakang rumah.


"Rose!" teriak Mega melihat cucunya sudah berada di tengah kolam renang dan hampir saja tenggelam.

__ADS_1


"Kenapa malah pada diem, cepat tolong cucu ku!" teriak Mega pada semua orang yang ada di tempat itu.


Pada asisten rumah tangga saling pandang, di antara ke empat orang asisten rumah tangga Puspa memang tidak ada satu orang pun yang bisa berenang.


Dan parahnya Anyelir pun sama, dia juga tidak bisa berenang.


"Ibu cepat tolong Rose ibu!" teriak Anyelir dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


Byurrr


Tiba-tiba seorang pria bertubuh gemuk dengan usia yang tampak sudah tidak lagi muda menceburkan diri ke kolam, sambil kepayahan karena sepertinya dia juga tidak pandai berenang. Dia berusaha menggapai tangan Rose kecil lalu mendorongnya ke tepi. Welas dan juga Jamilah segera mengangkat tubuh Rose dan menekan perutnya dengan kuat agar air bisa keluar dari mulutnya.


Namun ketika Welas dan juga Jamilah melakukan hal itu, dengan cepat Anyelir dan juga Mega mendorong mereka hingga Welas terjatuh ke dalam kolam.


"Pak Nasrul cepat bawa Rose ke dalam!" perintah Mega pada pak Nasrul yang baru saja ingin menolong Welas yang terjatuh ke dalam kolam.


"Sebentar nyonya, saya akan tolong Welas dulu!" kata pak Nasrul.


Mega terlihat kesal karena pak Nasrul tidak mengindahkan perintahnya.


"Kamu dengar tidak aku bilang apa? bawa cucu ku ke dalam!" bentak Mega dengan mata yang sudah nyaris mau keluar karena dia begitu melotot.


"Nyonya, Welas tidak bisa berenang. Tolong biarkan suami saya menolongnya nyonya!" pinta Jamilah dengan tangan yang sudah dia satukan di depan wajahnya memohon agar Mega mau mengijinkan suaminya menolong Welas terlebih dahulu.


"Kalian ini para pelayan berlagak sekali ya!" kesal Mega.


"Cepat bawa cucuku masuk, atau aku akan hentikan pembiayaan pada perawatan putri kalian di rumah sakit. Dengar tidak!" gertak Mega pada Nasrul dan Jamilah.


"Nyonya biar saya saja!" ucap Jamilah dengan tubuh kurusnya dan kaca mata yang sudah berembun terkena air saat menolong Rose naik ke atas kolam renang tadi.


Tapi sialnya lagi Jamilah malah terpeleset dan terjatuh, namun dia berusaha untuk menahan Rose agar tidak terjatuh dan terkena lantai. Jamilah menahan nya dengan lengan hingga sikunya terbentur lantai dan dia pun meringis kesakitan. Sementara tanpa pikir panjang, Nasrul segera menceburkan diri ke kolam dan menolong Welas.


"Dasar orang rendahan tidak berguna!" pekik Anyelir yang langsung menggendong Rose masuk ke dalam rumah.


Melihat kelakuan para asisten rumah tangga Puspa, Mega menjadi sangat kesal. Dia merasa kalau mereka sama sekali tidak menghargai mereka.


"Ini kemauan kalian ya, mulai sekarang, mulai saat ini juga kalian bertiga angkat kaki dari rumah ini. Jangan harap bisa masuk ke dalam. Pergi kalian!" teriak Mega.


Mega lalu memanggil satpam dan meminta satpam agar mengusir mereka keluar, awalnya satpam merasa sangat tidak enak karena Nasrul dan Jamilah juga adalah orang yang sangat dia segani. Tapi ancaman Mega akan memecat para satpam kalau tidak mengusir mereka membuat para satpam takut akan kehilangan pekerjaan mereka dan terpaksa mengusir Jamilah, Nasrul dan juga Welas. Bahkan Mega sudah menghubungi rumah sakit tempat putri Nasrul dan Jamilah di rawat agar menghentikan perawatan karena dia menghentikan pembiayaan untuk putri Nasrul dan Jamilah yang mengalami sakit parah.


Flashback Off


Putra mengusap wajahnya kasar mendengar penjelasan sang istri.


"Bu, apa yang sudah ibu lakukan? Puspa yang membiayai semuanya, kita bahkan tidak keluar uang sepeser pun!" Putra bicara dengan mata yang berkaca-kaca.


Dia sungguh tidak menyangka kalau sang istri akan berbuat seperti itu, sekejam itu pada orang-orang yang telah menjaga Puspa selama kedua orang tua nya bahkan tidak bisa menjaga Puspa.


"Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada anaknya pak Nasrul? sakitnya sudah parah?" tanya Putra pada Mega yang hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Rose!" bantah Mega.


"Seharusnya kamu menjaganya dengan baik, bukan menyalahkan orang lain atas kelalaian mu, tugas menjaga Rose itu adalah tugas Anyelir sebagai ibunya, kenapa malah menyalahkan orang lain sampai seperti ini Bu?" tanya Putra yang sudah berkali-kali menghela nafas berat karena tak habis pikir dengan apa yang sudah di lakukan oleh istri dan juga putri bungsu nya.

__ADS_1


"Kalau Puspa tahu hal ini, dia pasti akan sedih!" lirih Putra lagi.


Sementara kedua orang tua Puspa sedang bersitegang, Samuel dan Riksa saling pandang tak lama mereka mengangguk bersama.


"Om, Tante beritahu kami alamat pak Nasrul dan juga Bu Jamilah!" seru Samuel.


Setelah bertanya seperti itu, Samuel lalu mengikuti Putra untuk mendapatkan alamat Nasrul dan Jamilah. Tak mau menunggu lama, mereka pun berpamitan pada Putra. Tapi Jonathan bersikeras untuk ikut. Mau tidak mau Samuel dan juga Riksa juga mengajak Jonathan.


Beberapa menit kemudian, mereka mendapati alamat uang di berikan oleh Putra, namun mereka sempat saling pandang sebelum keluar dari dalam mobil, karena di depan rumah sederhana bercat putih itu sudah ada banyak orang mengaji dan di tiang utama terdapat bendera berwarna kuning.


Dengan langkah ragu Riksa mendekati seseorang yang baru datang dan bertanya.


"Permisi mas, apa betul ini rumahnya pak Nasrul?" tanya Riksa dengan sopan.


"Iya betul pak!" jawab pemuda itu singkat.


"Siapa yang meninggal?" tanya Samuel yang juga mendekati pemuda berpeci hitam dan memakai sarung kotak-kotak itu.


"Oh itu, anaknya pak Nasrul neng Fika meninggal tadi siang. Kasihan pak Nasrul sama Bu Jamilah tadi siang histeris sekali!" jawab pemuda itu membuat Samuel dan Riksa merasa ikut sedih mendengar apa yang pemuda itu katakan.


"Mari pak, kalau mau ikut pengajian. Tapi Bu Jamilah sama Paka Nasrul tidak ada, sedang menyelesaikan amanat almarhumah katanya!" kata pemuda itu.


"Silahkan!" ucap Riksa mempersilahkan pemuda itu masuk terlebih dahulu ke rumah pak Nasrul.


"Tidak salah lagi, pak Nasrul dan Bu Jamilah pasti sakit hati pada keluarga Puspa. Karena ibunya Puspa menghentikan pembiayaan putri mereka meninggal dan itu pasti sangat menyakitkan bagi kedua orang tua itu!" ucap Riksa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tante Mega benar-benar keterlaluan!" pekik Samuel yang juga sudah merah wajah dan matanya karena kelakuan dari ibunya Puspa itu.


Dia memang kejam dan keras kepala, tapi dia tidak akan pernah bermain-main dengan nyawa orang. Melihat semua yang ada di depan matanya membuat Samuel hilang respect pada ibu teman baiknya itu.


"Sekarang kita harus melaporkan ini pada polisi kan, mereka berdua pelakunya!" seru Jonathan.


Riksa memutar bola matanya jengah.


"Ternyata dia sama saja!" gumam nya sambil melihat Samuel.


Samuel lalu menepuk bahu Jonathan.


"Orang jahat itu kadang bukan orang yang benar-benar di lahirkan menjadi jahat, tapi orang jahat itu bisa juga terlahir dari orang baik yang hatinya sangat tersakiti. Tante Mega sudah sangat menyakiti pak Nasrul dan Bu Jamilah, itu sebabnya mereka melakukan semua ini!" jelas Samuel pada Jonathan.


"Tapi ini kriminal!" sanggah Jonathan.


"Apa kamu pikir apa yang di lakukan Tante Mega juga bukan tidak kriminal, dia menghentikan pembiayaan pada Fika padahal uang itu berasal dari Puspa, yang bahkan tidak tahu apa-apa mungkin sampai saat ini. Kamu pikir itu bukan tindakan kriminal?" tanya Riksa yang sudah terpancing emosi karena Jonathan terkesan membela Mega dan terus menyalahkan Nasrul dan Jamilah.


"Jika kamu masih mau ikut kami mencari Puspa maka ikuti cara kami. Jika tidak, kamu bisa pulang!" tegas Samuel.


"Aku ikut!" jawab Jonathan dengan cepat.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah Nasrul dan Jamilah untuk ikut mendoakan Fika dan mencari informasi, kira-kira kemana Jamilah dan Nasrul meminta bantuan untuk melancarkan aksi mereka.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2