Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
160


__ADS_3

Malam harinya, sebuah mobil taksi khusus dari bandara memasuki sebuah pintu gerbang yang telah di buka oleh seorang satpam yang memang sejak tadi menunggu kedatangan orang yang akan datang dari bandara.


Bukan majikan barunya, tapi dia memang di tugaskan untuk menjaga rumah itu sampai pemiliknya datang.


Seseorang yang keluar dari dalam mobil taksi itu adalah Caren, setelah menurunkan koper Caren dari bagasi mobil. Supir itu mengemudikan mobil taksinya meninggalkan rumah besar itu.


Lalu setelah satpam itu menutup kembali pintu gerbang dia juga segera menghampiri Caren.


"Permisi Nyonya, ini kunci rumah dan kunci pintu gerbangnya!" ucap sang satpam lalu memberikan semua kunci yang ada di tangan yang kepada pemilik rumah ini yaitu Caren.


Caren tidak bisa menutupi rasa keterkejutannya mendengar apa yang dikatakan oleh satpam yang ada di hadapannya itu.


"Maksud mu, kau juga akan pergi dari sini?" tanya Caren.


"Apa di dalam rumah juga sudah tidak ada siapa-siapa lagi?" tanya Caren lagi.


Jika satpam yang memegang kuncinya dan itu berarti pintu masuk utama dikunci dari luar yang artinya tidak mungkin ada seseorang berada di dalamnya bukan.


Dan Caren makin terkejut ketika melihat bahwa satpam itu menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Benar nyonya, sudah tidak ada siapa-siapa lagi di dalam. Dan semua barang-barang yang ada di dalam juga semua sudah dipindahkan dengan beberapa kontainer, di dalam benar-benar sudah tidak ada apa-apa lagi nyonya. Dan saya juga akan segera pamit setelahnya menerima kunci dari saya ini!" jelas atom itu dengan nada bicara yang sopan dan dengan menunjukkan sedikit kepalanya.


Caren menghela nafas berat, dia tidak menyangka kalau Samuel akan memindahkan semua barang-barang yang ada di rumah ini. Memang benar yang menjadi miliknya dan terdata di sertifikat hanyalah rumah ini saja, tapi bahkan dia tidak menyangka kalau Samuel tidak meninggalkan satu sofa untuk dia beristirahat ataupun tidur.


Caren mengusap wajahnya kasar.


"Baiklah, tapi sebelum kamu pergi. Carikan aku taksi dulu ya!" perintah Caren.


Satpam itu awalnya bingung dengan perintah yang yang di katakan oleh Caren. Tapi dia mengerti kalau memang tidak mungkin untuk wanita di hadapannya itu beristirahat di dalam rumah karena memang di dalam rumah sudah tidak ada apa-apa lagi.


Satpam itu segera memesankan sebuah taksi, setelah taksi itu datang satpam itu segera pergi. Sebelum masuk ke dalam taksi, Caren menoleh ke arah rumah yang besar namun sangat sunyi. Caren lalu masuk ke dalam taxi dan menutup pintu lalu memasang sabuk pengaman tapi sambil menunggu supir taksi itu memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil, Caren kembali membuka kaca jendela pintu mobil taksi dan dedek lagi ke arah rumah besar itu.

__ADS_1


'Aku tidak menyangka, kalau aku melewatkan semua ini hanya demi cinta sesaat yang di tawarkan oleh Kenzo!' batin Caren sangat menyesal.


Lalu mobil taksi itu pun berlalu dari sana menuju ke sebuah hotel yang tidak jauh dari sana. Malam sudah larut, dan Caren sudah sangat lelah.


Tapi nasib baik sepertinya memang tidak berpihak pada wanita itu saat ini. Ketika dia berdiri di depan meja resepsionis untuk memesan sebuah kamar, dengan koper yang masih ada di sampingnya yang tadi diangkat oleh supir taksi. Seorang wanita dari jauh memperhatikan Caren.


Semakin yakin kalau yang di lihatnya itu adalah Caren, wanita itu mengajak teman-temannya untuk menghampiri Caren.


"Hei lihat, bukan kah ini Caren Maida. Kekasih ups mantan kekasih CEO paling kaya di kota ini. Tapi kenapa dia menginap di hotel?" tanya Natasha yang sengaja menyindir Caren, karena dia mengatakan itu sambil tertawa-tawa dengan teman-temannya.


Benar sekali, wanita yang sejak tadi berbicara dengan adanya itu adalah Natasha, dia berada di tempat ini karena habis menghadiri sebuah pesta dari salah satu temannya. Kebetulan dia keluar dari lift dan melihat Caren dengan kopernya.


Mata Natasha melihat ke arah koper yang ada di samping Caren.


"Uh, sepertinya ada yang di usir dari suatu tempat ya?" tanya nya lagi.


Tapi Caren sama sekali tidak ingin menanggapi apapun yang dikatakan oleh Natasha.


Caren hanya menghela nafas jengah lalu kembali memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia terlalu lelah untuk menanggapi wanita-wanita kurang kerjaan yang malah mengganggu nya itu, bukannya segera pulang ke rumah karena hari mulai larut malam.


"Lihat deh, kayaknya dia juga belom malam makanya kurus banget dia, kasihan banget sih. Begitu diputusin sama Samuel pasti dia jatuh miskin, ck... ck... kasihan! ha ha ha!" ucap Natasha sambil tertawa terbahak-bahak di ikuti oleh semua teman-temannya.


"Ck, mbak kamar apa yang dia pesan pasti kamar paling murah ya?" seru salah seorang teman Natasha yang lain yang mendekat kearah meja resepsionis dan bertanya kepada petugas resepsionis yang sedang mendata kartu pengenal milik Caren.


"Eh bener mbak, pasti yang paling murah kan, kasih diskon ya mbak. Kasihan dia orang susah!" tambah Natasha membuat Caren semakin geram.


Caren mengepalkan tangannya dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Natasha.


"Aku peringatkan, aku sedang malas meladeni semua omong kosong mu! sebaiknya cepat pergi dari sini!" seru Caren dengan nada dingin.


Natasha melebarkan matanya lalu tertawa terbahak-bahak dan melihat ke arah teman-teman nya.

__ADS_1


"Dia bilang apa? ha ha ha!"


"Cukup!" pekik Caren.


Dia sudah benar-benar berada di ambang batas kesabaran nya.


"Sebenarnya apa masalah mu dengan ku? oh iya aku lupa. Samuel menolak mu demi aku! Karena mata Samuel masih normal, dan seleranya juga bukan wanita yang mengaku berkelas tapi tingkah lakunya rendahan seperti mu!" balas Caren.


Natasha mengeraskan rahangnya, pundaknya naik turun karena dia mulai emosi.


"Heh, kamu itu gak ngaca ya. Kamu itu di putusin sama Samuel, di putusin !" ucap Natasha menekankan per suku kata kata di putusin pada Caren.


Tapi Caren malah tersenyum menyindir Natasha.


"Lalu kenapa kalau Samuel memutuskan aku, setidaknya dia mencintai ku, dan sampai sekarang aku pun masih dia cintai. Tidak seperti seseorang yang bahkan sudah mengerahkan segala usaha dan semua yang dia miliki tapi tetap saja di tolak oleh Samuel. Bahkan Samuel memilih menikah dengan wanita lain dari pada menikah dengan mu!" cetus Caren.


Mata Natasha makin melebar dan merah.


"Kamu, aku akan memberimu pelajaran!" teriak Natasha.


Dia pun mulai mendekat ke arah Caren untuk mencakar wajahnya, tapi di halangi oleh teman-temannya.


"Lepasin!" teriak Natasha.


"Jangan main tangan Na, nama keluarga mu bisa kena pengaruh!" ucap Monic.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Monic, Natasha pun akhirnya mundur. Tapi dia masih menunjuk Caren dengan telunjuk kanannya.


"Awas kamu!" gertak Natasha lalu meninggalkan Caren yang hanya bisa mengusap wajahnya kasar setelah rombongan Natasha itu pergi.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2