Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
167


__ADS_3

Author POV


Adam keluar dari dalam ruang kerja ayahnya dengan membanting pintu. Dia kesal karena dirinya di perintahkan oleh sang ayah dan ibu untuk ikut dalam sandiwara yang ibunya buat agar kondisi sang kakek tidak kembali menjadi lemah dan kondisinya memburuk.


Flashback off


"Aku sudah menduganya, wanita itu tidak mungkin hamil!" seru Adam.


Stella sedikit mengernyitkan keningnya, meskipun dia menaruh penasaran pada apa yang di katakan oleh anak bungsunya itu. Tapi masih ada hal yang lebih penting lagi untuk di bicarakan.


"Hentikan keras kepala mu, lakukan semua ini demi kakek mu!" seru Damar yang dari awal sudah di buat kesal dengan sikap keras kepala dan bantahan demi bantahan yang di lontarkan oleh Adam.


"Kalian bisa pikirkan cara lain kan, kenapa harus mengatakan pada kakek kalau Samuel akan punya anak! ini seperti lelucon!" protes Adam.


Sebenarnya selain merasa kesal dia juga muncul perasaan sedikit sedih dan kecewa dalam hatinya, karena sejak dulu selalu Samuel dan Samuel saja yang mereka elu-elukan dan banggakan. Meski Samuel pernah melakukan kesalahan besar mereka bahkan tidak lagi mengingat hal itu. Berbeda dengan dirinya yang selalu di ingatkan dan di kekang segala apa yang ingin dia lakukan. Karena itulah Adam memilih ikut dengan pamannya, adik dari Stella agar bisa melakukan apa yang dia mau tanpa harus membuat keluarga nya dan nama baik keluarga nya berada dalam masalah.


Tanpa orang lain bahkan keluarga nya sendiri ketahui. Adam juga telah membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Kerajaan bisnis yang sebenarnya bisa di bilang tidak legal, tapi dari sana di juga bisa membantu keuangan pamannya yang tanpa orang tua Adam tahu, sang paman sebenarnya sedang mengalami masalah keuangan yang pelik.


Kehidupan orang kaya memang terlihat menyilaukan mata, padahal kalau dilihat dari dekat sebenarnya tidak semudah dan seindah kelihatan nya.


"Baiklah, ibu benar-benar tidak ingin berdebat dan membuat masalah ini menjadi panjang. Jika tidak mau membantu kami baiklah, tapi setidaknya kamu jangan mengatakan sesuatu yang tidak enak di dengar lagi!" ucap Stella yang merasa kalau semakin bicara pada Adam hanya akan membuat mereka semakin menuju jalan buntu saja.


Adam mengangkat alisnya sedikit dan melihat ke arah ibunya yang sedang melihat ke arahnya pula.


"Maksud ibu selama ini apa yang aku katakan tidak enak di dengar?" tanya Adam yang membuat Stella terkesiap.


Damar bahkan menghela nafasnya panjang, memang susah bicara pada Adam. Damar yang takut kalau istrinya kembali sedih pun menghampiri sang istri dan merangkulnya dan mengelus lengannya beberapa kali dengan lembut.


Stella yang tidak habis pikir pada apa yang dikatakan putranya pun mencoba untuk menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya.

__ADS_1


"Bukan seperti itu nak, maaf sepertinya ibu yang salah bicara!" ucap Stella.


Dan belum sempat mereka selesai membahas masalah itu, Samuel dan juga Naira sudah masuk ke dalam ruangan. Membuat mereka terdiam dan menoleh ke arah pintu.


Flashback off


Adam yang masih berdiri di depan ruang kerja sanga ayah pun segera bergegas meninggalkan tempat itu setelah terlebih dahulu menoleh ke arah belakang dengan kesal.


Dia lebih memilih untuk masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat. Karena memang sekarang sudah larut malam.


Sementara itu di dalam ruang kerja, Naira masih bersama dengan Samuel, Stella dan juga Damar.


Setelah berbasa-basi sedikit, Stella langsung mengutarakan niat dan maksudnya memanggil anak dan menantunya itu menemui dirinya dan juga suaminya.


"Jadi begini nak, ibu tadi sudah bicara dengan dokter kandungan teman dekat ibu, dan dia menyarankan agar kalian segera melakukan program kehamilan. Itu lebih baik jika kalian masih pengantin baru begini!" ucap Stella dengan sesekali melihat ke arah Damar.


Sebenarnya dia juga merasa tidak enak harus bicara seperti itu, menurutnya sebenarnya itu seperti sedang memaksa Naira untuk segera menjadi seorang ibu. Tapi apa daya, dia hanya ingin apa yang dia katakan pada ayahnya secepatnya bisa jadi kenyataan.


Damar yang mengerti tatapan cemas dari sang istri pun ikut bicara.


"Maaf ya nak, kami tidak bermaksud memaksakan sesuatu pada kalian, tapi ini...!"


Damar juga terlihat ragu untuk mengutarakan niat nya. Dan hal itu dapat di baca oleh Samuel yang jelas sudah mengenal kedua orang tuanya itu dengan baik. Samuel pun menyela ucapan sang ayah.


"Kami akan lakukan program kehamilan itu, ayah dan ibu tinggal bilang apa yang harus kamu lakukan!" jawab Samuel mantap.


Sebenarnya dia juga menginginkan anak dari istrinya itu secepatnya, karena Samuel juga merasa kalau Naira belum mencintai nya seperti dia mencintai Naira. Dan dengan adanya anak di antara mereka. Samuel juga berharap kalau Naira akan mencintainya dengan tulus.


Meski sebenarnya semua memang tidak bisa di paksakan, dia sadar apa yang dulu dia lakukan pada Naira juga tidak akan membuat Naira dengan mudah memaafkannya, siapa sangka dirinya yang awalnya hanya memandang istrinya itu sebelah mata, kini benar-benar tergila-gila pada Naira. Awalnya Samuel memang hanya ingin melampiaskan kekesalannya akibat perselingkuhan Caren di depan matanya pada Naira, siapa sangka ternyata sejak Samuel menyentuh istrinya itu, Samuel seperti tak bisa lagi jauh dari Naira.

__ADS_1


Sementara Naira menjadi semakin gugup atas apa jawaban Samuel pada kedua orang tua nya. Telapak tangannya semakin dingin.


"Baiklah, besok pagi kita berangkat menemui dokter Arini ya! kalian berdua istirahat lah!" ucap Stella sambil tersenyum.


Naira dan Samuel pun keluar dari ruang kerja Damar, Stella terlihat lega, dia menghela nafas dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Semoga saja semua berjalan dengan lancar ya mas, jika tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi!" keluh Stella pada sang suami.


Damar yang mengerti kecemasan istrinya segera memeluk Stella dan mengelus kepalanya dengan lembut.


"Kita berdoa saja, dan lakukan yang terbaik saja. Tenang lah, aku tahu kamu melakukan semua ini untuk ayah. Dan selama itu pula aku akan mendukung mu!" ucap Damar.


Keesokan harinya...


Semua sudah berkumpul di meja makan, termasuk juga Adam. Kakek Virendra yang melihat Stella dan juga Naira sudah rapi dan juga Samuel yang belum berangkat kerja padahal hari sudah lumayan siang pun bertanya.


"Samuel kenapa belum berangkat? apa tidak ada pekerjaan penting? ingat nak kamu adalah seorang CEO, sangat penting bagimu disiplin dalam bekerja!" seru kakek Virendra.


"Ayah, Samuel akan mengantarkan Naira memeriksakan kandungan, jadi dia tidak akan bekerja hari ini!" jawab Stella sebelum Samuel membuka mulutnya.


"Benarkah, baguslah. Kakek juga ikut!" tegas kakek Virendra.


"Apa?" tanya Stella dan Samuel bersamaan sambil melihat ke arah kakek Virendra.


"Ada apa? aku juga mau melihat hasil pemeriksaan kandungan Naira?" tanya kakek Virendra.


"Tapi kakek, kakek kan harus istirahat!" sanggah Samuel.


"Memang kenapa sih kalau kakek ikut, kalian ini jahat sekali. Kakek ingin ikut saja tidak boleh!" sambung Adam yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Samuel dan juga Stella.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2