Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
218


__ADS_3

Setelah selesai dengan urusan reservasi restoran, Riksa kembali ke kantor dan seperti yang sudah dia rencanakan sebelumnya. Dia menghadiri sebuah meeting dengan klien baru dari Samuel.


Di ruang meeting, Samuel dan juga Dina sedang menunggu klien yang akan memesan 100 unit lebih mobil keluaran paling baru produksi perusahaan Samuel. Dan tentu saja, itu adalah kerja sama dengan nominal uang tidak kecil bagi perusahaan sebesar perusahaan Samuel Virendra.


Awalnya Riksa mencemaskan hal ini, karena bukan Samuel sendiri yang bertemu dengan kliennya ini. Riksa merasa khawatir kalau kliennya ini tersinggung karena hanya seorang asisten dan sekertaris pribadi yang menghadiri meeting penting dengannya. Sedangkan Damar selalu mengingatkan agar bisa menghargai klien perusahaan dengan baik, apalagi klien yang sudah jelas akan membawa keuntungan bagi perusahaan. Tapi Riksa juga tidak bisa berkata apa-apa lagi karena masalahnya sudah menyangkut Naira.


Damar juga seperti itu dulu, selalu menomorduakan pekerjaan nya dan menomorsatukan keluarganya terutama sang istri. Jadi Riksa memutuskan untuk menangani masalah ini dan berbuat sebaik mungkin apa yang dia bisa lakukan.


"Jadi, siapa nama klien yang kita tunggu ini?" tanya Riksa pada Dina yang juga sudah duduk di sebelahnya.


Dina segera membuka dokumen yang berusia keterangan nama klien mereka.


"Sebuah showroom dengan nama Hartawan luxury Cars. Selama ini aku hanya berkomunikasi dengan sekertaris yang bernama Kelvin dan juga Pak Mahdi, klien tetap kita. Beliau yang memperkenalkan perusahaan kita pada klien baru kita ini!" jelas Dina panjang lebar.


Riksa mengangguk paham, dia juga tidak begitu mempermasalahkan kenapa kliennya tidak menuliskan identitas dirinya. Karena sebentar lagi mereka juga akan bertemu.


Setelah menunggu beberapa menit, pintu ruang meeting terbuka. Memperlihatkan Dika dan juga Wika dua asisten pribadi Riksa. Dina dan juga Riksa lantas berdiri menyambut kedatangan tiga orang klien mereka, satu lelaki paruh baya yang merupakan klien tetap mereka pak Mahdi. Satu lagi seorang pria yang di kenali oleh Dina sebagai Kelvin karena mereka sering bertemu untuk membicarakan kerja sama. Dan satu lagi adalah seorang wanita cantik yang terlihat masih sangat muda, dengan setelah baju kantor berwarna merah hitam, dan tatanan rambut ala Marimar peres pada masa dia menjadi Bella Aldama.


Riksa sempat menoleh ke arah Dina. Dia benar-benar belum pernah melihat wanita itu sebelumnya.


Dina segera maju dan mengulurkan tangannya pada wanita muda yang cantik itu, usianya bahkan lebih muda dari Dina. Tapi karena dia adalah klien penting, Dina bersikap sangat ramah.


"Selamat datang nona Hartawan, aku Dina sekertaris tuan Samuel Virendra!" ucap Dina sopan sambil tersenyum.


Wanita muda itu menyambut uluran tangan Dina dan juga tersenyum, tapi bukan langsung menyapa Dina. Dia malah melihat ke arah Riksa dan memperhatikan Riksa dengan seksama.


"Jadi dia tuan Samuel Virendra yang terkenal itu?" tanya wanita muda itu.

__ADS_1


Riksa terlihat menaikkan alisnya, dia tidak menyangka masih ada juga yang tidak mengenali wajah Samuel padahal wajah pria tampan yang di kenal sebagai salah satu dari tiga CEO paling sukses di kota ini, sudah seringkali masuk dalam media cetak maupun media elektronik. Dan wanita muda itu dengan polosnya salah sangka kalau Riksa adalah Samuel, menurut Riksa itu tidak masuk akal.


Dina juga terkejut, tapi baru saja dia akan membuka suara untuk menjelaskan. Pria paruh baya yang ada di samping wanita cantik itu langsung maju ke depan dan terkekeh.


"Shareen, dia bukan Samuel. Dia ini Riksa Nugraha, orang kepercayaan Samuel Virendra!" jelas pak Mahdi pada wanita muda yang ternyata namanya Shareen.


"Oh!" hanya itu yang di ucapkan Shareen.


Wajahnya bahkan tidak menunjukkan reaksi berlebihan layaknya orang yang tengah merasa malu karena telah salah mengira seseorang. Wajahnya benar-benar datar, bahkan mengalahkan datarnya wajah Samuel. Tapi dia tetap terlihat sangat cantik.


"Aku tidak tahu, aku memang baru dua hari di kota ini!" ucapnya beralasan.


Tapi apa yang Shareen katakan itu memang benar. Dirinya memang baru dua hari ini tiba di Indonesia. Sebelumnya dia kuliah di luar negri.


"Silahkan duduk!" ucap Dina sopan.


Shareen itu adalah anak bungsu dari pengusaha showroom paling terkenal di kota ini yang bernama Rudy Hartawan. Shareen baru saja kembali setelah menyelesaikan kuliahnya di Venezuela, di salah satu perguruan tinggi terbaik di sana, dengan jurusan management bisnis.


Setelah mendengar penjelasan dari pak Mahdi, Dina dan Riksa pun akhirnya mengerti kenapa Shareen bisa salah mengenali Riksa sebagai Samuel. Karena dia memang tidak tahu siapa Samuel Virendra itu dan belum pernah melihatnya bahkan di media elektronik maupun di media cetak.


Setelah berbincang selama hampir satu jam, kesepakatan pun di dapat. Riksa dan Dina bisa bernafas lega karena akhirnya kerjasama ini sukses meskipun tanpa kehadiran Samuel. Dina, dan juga Dika mengantarkan para klien keluar dari ruang meeting menuju ke arah lift. Sedangkan Wika membereskan dokumen yang berantakan di atas meja.


Setelah selesai dengan laptop nya, Riksa juga menutup laptopnya lalu menjinjing nya dan berjalan ke arah pintu ruang meeting.


"Bos, mau kemana?" tanya Wika yang membuat langkah Riksa terhenti.


Riksa yang mendengar panggilan Wika segera menoleh ke belakang dan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Ada apa? kamu tidak takut kan sendirian membereskan dokumen-dokumen itu. Aku ada urusan!" jawab Riksa setelah bertanya pada Wika.


Wika tampak berpikir.


"Bos, aku ingin bicara!" ucap Wika dengan ragu-ragu.


Wika bahkan sudah berhenti membereskan dokumen dan malah menautkan kedua tangannya karena gugup. Riksa mulai mengernyitkan keningnya bingung.


"Ada apa Wika, aku sedang terburu-buru. Jika butuh sesuatu minta saja pada Dina. Aku pergi dulu!" seru Riksa yang memang sedang terburu-buru.


Mata Wika terlihat berkaca-kaca saat Riksa begitu saja pergi meninggalkan nya. Dan dia pun hampir menangis, tapi tiba-tiba saja Dina masuk dan membuat Wika langsung membelakangi Dina dan melanjutkan membereskan dokumen yang berantakan di atas meja ruang meeting.


"Wika setelah ini tolong bantu aku meninjau pabrik ya, riksa sedang ada urusan. Dia akan masuk kembali besok!" seru Dina.


Mendengar apa yang dikatakan Dina, Wika berbalik menghadap ke arah Dina.


"Bos ada urusan? urusan apa kak Dina. Dia tidak bilang pada kami?" tanya Wika yang merasa penasaran sekali.


Dina malah tersenyum.


"Aku tidak tahu, tapi tadi pagi dia menanyakan padaku beberapa restoran yang bagus dan bisa di reservasi untuk acara penting. Aku rasa sebentar lagi kita akan mendengar kabar baik atau bahkan undangan dari bos mu itu!" ucap Dina lalu membereskan dokumen lagi.


Deg


Hati Wika terasa sangat terluka, dan tanpa terasa air mata yang sudah ada di pelupuk matanya tumpah. Namun dengan cepat dia berbalik dan menyekanya sebelum hal itu di ketahui oleh Dina.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2