Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
69


__ADS_3

Aku masih bingung mencerna kata hak disini, maksudnya hak apa? aku bahkan sudah menandatangani perjanjian yang bahkan berisi aku tidak boleh meminta hak ku. Dan aku hanya boleh melakukan semua kewajiban ku sebagai seorang istri, tidak boleh minta hak.


Oh, jadi ini alasannya kenapa Samuel terlihat tidak menyukai ini Merry tinggal disini. Bibi Merry adalah tangan kanan ibu Stella dan Samuel tidak bisa berbuat apa-apa pada bibi Merry.


Sebaiknya aku mengiyakan saja kata-kata bibi Merry.


"Baik bibi Merry!" ucap ku sambil menganggukkan kepalaku perlahan.


"Baiklah, ayo kita temui tuan Samuel!" ajak bibi Merry dan sekali lagi aku menganggukkan kepalaku.


Samuel sedang duduk sambil memainkan ponselnya, aku tidak tahu apa yang dia lakukan dan aku memang tidak ingin tahu.


"Selamat pagi tuan!" sapa Bibi Merry membuat Samuel langsung menoleh ke arah kami.


Dia bahkan tidak menjawab sapaan bibi Merry dan malah menatap tajam ke arah ku. Bibi Merry meletakkan nampan itu di atas meja, lalu tanpa menunggu Samuel langsung berkata.


"Aku ingin bicara berdua dengan istriku!" serunya seperti itu.


Bibi Merry pun segera menganggukkan kepalanya tanda bahwa sangat paham apa yang dimaksud oleh Samuel.


"Baik tuan, permisi!" ucapnya dan berbalik lalu meninggalkan kami tanpa menoleh ke arahku sama sekali.


Aku masih berdiri di tempat ku ketika Samuel mulai meraih cangkir teh yang ada di atas nampan.


"Duduk!" ucapnya kemudian.


Aku yakin perintah Samuel itu di tujukan padaku, karena memang hanya ada dia dan aku disini. Aku segera mendekat dan duduk di kursi yang jaraknya lumayan dekat dengannya, karena memang hanya kursi itu yang kosong.


Setelah aku duduk, aku hanya menundukkan kepalaku.


"Kenapa datang bersama bibi Merry? apa yang dia tanyakan padamu?" tanyanya langsung pada intinya kurasa.


Dia sepertinya memang begitu waspada ada bibi Merry. Aku menghela nafas, aku rasa lebih baik memang mengatakan yang sebenarnya pada Samuel.


"Dia bertanya apakah aku dan tuan tidur di satu ranjang? hanya itu tuan!" jawab ku berhati-hati.


Samuel masih menyesap minumannya, aku rasa pak Ranu memang paham betul apa yang disukai oleh Samuel. Dia meletakkan cangkir tehnya dan kembali melihat ke arahku, saat dia melihat ke arah ku, maka aku lebih memilih menunduk saja.


"Lalu apa yang kamu katakan?" tanya nya.

__ADS_1


Aku tidak tahu kenapa Samuel bertanya pertanyaan yang seperti itu. Jelas-jelas aku tidak mungkin menjawab hal yang akan menyulitkan aku sendiri bukan.


"Aku bilang, iya aku tidur dengan mu!" jawab ku lagi.


"Bagus! tapi itu hanya untuk kemarin malam. Aku sudah minta pelayan memasukkan kembali sofa ke dalam kamar, mulai malam ini dan seterusnya kamu tidur di sofa. Aku tidak mau berbagi tempat tidur dengan perempuan ceroboh seperti kamu. Dan ingat, saat aku bangun kamu sudah harus mandi, jangan gunakan bathub ku, pakai saja shower! Mengerti!!" jelas Samuel panjang lebar.


Aku menganggukkan kepalaku, karena aku memang hanya bisa setuju bukan.


"Baiklah, aku akan berada di ruang kerjaku seharian! jangan ganggu aku!" ucap nya lalu berdiri dari posisi duduk nya dan melangkah maju menuju ke dalam rumah.


Tapi baru beberapa langkah dia berbalik.


"Oh ya!" ucapnya sedikit ragu.


Cukup lama dia diam sebelum kembali mengucapkan kalimat selanjutnya.


"Apa kamu tahu, apa alasan seseorang tak bisa di hubungi?" tanya nya padaku.


Aku tidak tahu kenapa dia bertanya tentang itu. Tapi setahuku kalau aku tidak ingin dihubungi maka aku akan matikan ponsel ku.


Aku baru akan membuka mulut ku untuk menjawab pertanyaan nya, tapi dia malah terkekeh.


'Astaga! dia yang bertanya, dia yang menghina!' Oh Tuhan, kurasa manusia ciptaan mu yang satu itu sedang tersesat, tunjukkan jalan yang benar padanya ya Tuhanku!' do'a ku dalam hati.


Dia berbalik dan kembali berjalan, tapi mulutku ini sudah gatal ingin menjawab, jadi ya aku keluarkan saja apa yang ada di pikiran ku.


"Mungkin orang itu memang tidak ingin dihubungi tuan!" ucap ku.


Samuel terlihat menghentikan langkahnya, dia terdiam sejenak sebelum akhirnya berbalik dan melihat ke arah ku.


"Apa katamu?" tanya nya lagi.


"Jika orang itu memang tidak bisa di hubungi, mungkin dia memang tidak ingin di hubungi, dia tidak ingin kamu menghubunginya!" jelas ku.


Raut wajah Samuel seketika langsung berubah, yang awalnya adalah raut masam tapi masih enak di pandang, kini berubah menjadi masam yang tidak enak di lihat, kalau ibarat mendung, ini sudah sangat gelap dan bergemuruh.


Dia memalingkan wajahnya dariku, dan Kemabli melihat ke arah ku lagi. Rahangnya mengeras, dia sangat marah.


"Dasar bodoh jangan bicara omong kosong semacam itu!" teriak nya kemudian.

__ADS_1


Aku terkesiap, aku nyaris berjingkat dari kursi sangking terkejut nya karena teriakan Samuel. Aku hanya bisa diam, aku takut kalau sampai salah bicara lagi, dia akan lebih marah.


"Ck... kenapa juga aku bertanya pada perempuan bodoh seperti mu!" keluhnya lalu berbalik dan pergi.


"Huh!" aku menghela nafas ku lagi.


Aku sampai harus mengusap dadaku perlahan untuk menetralkan jantung ku yang rasanya sudah mau melompat dari tempatnya.


"Tidak di jawab salah, di jawab lebih salah lagi! jadi aku harus bagaimana?" tanya ku sambil bergumam.


Aku berfikir kenapa dia sampai seperti itu, kalau aku ingat dia memang pernah bilang kalau sulit menghubungi pacarnya itu ketika di hotel, aku ingat dia mengatakan itu pada Riksa.


"Oh, jadi itu alasannya. Pacarnya tidak bisa di hubungi, tapi kenapa ya?"


Aku malah jadi ikut bertanya-tanya juga. Sambil berfikir, tangan ku meraih roti panggang yang tadi sudah disiapkan oleh pak Ranu yang mengatakan kalau itu juga adalah sarapan ku. Aku menggigit potongan yang cukup besar


"Em, ini enak sekali!" gumam ku.


Aku masih sibuk mengunyah roti panggang lezat ini sambil memikirkan apa yang harus aku lakukan hari ini. Pakaian sudah aku bereskan, kamar juga sudah aku rapikan.


Aku masih makan roti dan melihat ke sekitar ku, rumah Samuel ini sangat besar, tapi apa yang bisa aku lakukan disini.


Ting


Akhirnya muncul ide bagus di kepala ku.


"Aku akan belajar masak dari pak Ranu saja! dengan begitu aku tidak membuang waktu ku dengan sia-sia, aku akan jadi bisa memasak!" gumam ku sambil terus mengunyah makanan ku juga menyesap teh yang satunya lagi.


Aku segera berdiri ketika roti ku sudah habis, tapi aku kembali melirik ke arah nampan. Disana masih ada roti untuk Samuel yang sama sekali tidak dia sentuh.


'Pak Rabu pasti akan sedih kalau makanan yang dia buat tidak di makan!' batin ku.


Aku pun kembali duduk dan meraih roti itu.


"Aku makan saja lagi!" ucap ku pelan sambil menggigit pinggiran roti.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2