Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
308


__ADS_3

Samuel berusaha mendorong Ema, tapi dia bingung bagian mana yang harus dia dorong karena Ema menimpa nya begitu dekat.


Naira yang melihat pemandangan tidak mengenakkan di depan matanya itu langsung bergegas menghampiri Samuel dan Ema. Dengan sekuat tenaga dia menarik tangan Ema dan menjauhkan wanita itu dari suaminya.


"Ya ampun mas, kamu ketimpa biawak betina saja tidak bisa bangun! bagaimana kalau kamu ketimpa buaya betina! apa kamu akan pasrah saja sampai di cakar?" tanya Naira yang sengaja menyindir Samuel dan juga Ema.


Wajah Ema merah ketika Naira mengatakan hal itu sambil menariknya, hingga memaksanya untuk berdiri. Samuel langsung bangun dan mendekat ke arah Naira.


"Keluar kamu dari sini!" bentak Naira pada Ema.


"Tapi kami tadi hanya makan siang saja, dan tadi aku tidak sengaja terjatuh saat akan membersihkan...!"


"Kamu tidak sengaja jatuh atau menjatuhkan dirimu dengan sengaja? terlihat tidak ada bedanya. Sudah keluar sana! aku yang akan menemani suamiku makan siang karena aku istrinya!" seru Naira dengan tatapan tajam ke arah Ema.


Bibi Merry yang melihat semua tindakan yang dilakukan oleh Naira hanya bisa tersenyum tapi menutupi nya dengan tangan. Bibi Merry tidak menyangka kalau nyonya mudanya bisa sama seperti nyonya besarnya saat menghadapi wanita yang sepertinya akan menggoda suami mereka.


'Nyonya muda memang persis seperti nyonya besar!' batin bibi Merry.


Karena Ema terlihat terus melirik ke arah Samuel yang bahkan hanya diam saja melihat ke arah Naira dengan semua yang dia lakukan. Naira jadi semakin kesal.


"Eh ngapain masih di sini sih? cepat keluar!" ucap Naira dengan nada yang makin lama makin meninggi membuat Samuel langsung merangkulnya untuk menenangkan nya.


"Sayang, kamu sedang hamil. Jangan berteriak seperti itu!" ucap Samuel lembut pada Naira.


"Bagaimana tidak teriak, karyawan mu ini tidak bisa mendengar dengan baik!" kesal Naira tang sudah sampai di puncak kepalanya.


"Ema, kamu keluar!" seru Samuel dengan wajah datar.


"Tapi Sam, istrimu sepertinya salah paham...!" Ema masih berusaha untuk menjelaskan.


"Keluar, sekarang!" tegas Samuel dengan wajah yang teramat dingin menyela apa yang ingin di sampaikan oleh Ema.


Tanpa bicara lagi Ema langsung berbalik dan dengan hentakan kaki yang kuat seperti orang kesal, dia berjalan cepat meninggalkan ruang kerja Samuel.

__ADS_1


Setelah Ema pergi, Naira menghadap ke arah suaminya sambil berkacak pinggang. Matanya menatap tajam ke arah Samuel seperti sebuah pedang tajam yang siap kapan saja melukai Samuel jika dia salah bicara.


Samuel pun langsung merubah ekspresi wajah nya menjadi sangat lembut pada istrinya itu.


"Sayang, semua tidak seperti yang kamu pikirkan...!"


"Memangnya kamu pikir apa yang sedang aku pikirkan?" tanya Naira menyela ucapan Samuel.


Samuel terlihat sangat canggung, dia sudah seperti sedang berada di ruang sidang, dan Naira sebagai hakim nya.


"Sayang, dia itu Ema dia pengganti sementara Riksa, tadi yang dia katakan itu benar, kami sedang makan bersama...!"


"Kenapa makan bersama dengannya, biasanya kamu akan makan sendiri kan? apa kebiasaan mu sudah berubah?" tanya Naira yang terlihat sangat kesal pada Samuel.


"Begini sayang, tadi aku memang sudah meminta Dina memesan makanan seperti biasa. Tapi dia dan Dika harus menemani klien makan siang di luar, Ema yang mengetahui hal itu langsung memesankan makanan dan karena dia tadi juga sudah membantuku mendapatkan satu proyek yang besar, ku pikir...!"


"Bagus ya mas, sekarang aku tanya padamu. Sudah berapa kali Riksa membantumu memenangkan proyek?" tanya Naira lalu menjeda kalimatnya.


Samuel terlihat bingung. Tapi kemudian Naira melanjutkan ucapannya.


Samuel terdiam karena dia memang merasa sangat bersalah pada Naira. Jika dia tidak membiarkan Ema makan bersamanya di ruangan ini maka hal yang barusan Naira lihat tidak akan terjadi. Samuel juga merasa kalau dia tidak tegas pada Ema, dan Samuel menyesali itu.


"Sayang aku salah, aku minta maaf. Aku janji ini tidak akan terulang lagi!" ucap Samuel merasa sangat bersalah.


Naira lalu melihat ke arah bibi Merry.


"Bibi Merry bawa kembali makanan itu ke mobil...!"


"Sayang bukankah makanan itu untukku?" tanya Samuel yang sayang menyayangkan kalau dia tidak mendapatkan makan siang buatan istrinya.


"Baik nyonya!" jawab bibi Merry lalu meninggalkan ruangan kerja Samuel.


Setelah bibi Merry pergi dan menutup pintu Naira berbalik dan melihat ke arah Samuel lagi.

__ADS_1


"Mas, aku bisa langsung marah padamu di depan wanita itu, tapi jika aku melakukan itu dia akan merasa semua yang dia lakukan telah berhasil. Dia bukan wanita yang punya niat baik mas, jika tidak mana mungkin dia yang baru sehari bekerja menggantikan Riksa bisa sampai kebetulan terjatuh di atas mu seperti itu. Dan kalau dia wanita baik, dia tidak akan butuh waktu sampai aku melihat semua itu untuk bisa bangun!" ucap Naira membuat Samuel hanya bisa tertunduk dan diam.


"Dan kamu, seharusnya sebagai pria yang sudah punya istri. Kamu bisa lebih menjaga dirimu dari wanita lain. Apa kamu tidak bisa menghindarinya, kamu kan ahli bela diri? lalu apa setelah dia jatuh tadi kamu juga tidak bisa mendorong nya atau sekedar bicara padanya agar dia cepat bangun?" tanya Naira lagi dan kali ini mata Naira sudah berkaca-kaca dengan nada suara yang sudah bergetar.


Samuel langsung melihat ke arah Naira, dia langsung memeluk Naira ketika melihat istrinya itu sudah akan menangis.


"Sayang aku minta maaf, aku sudah tahu salah. Aku janji itu tidak akan terjadi lagi, tidak ada lain kali sayang, tidak akan terjadi!" ucap Samuel memeluk istrinya dengan penuh rasa penyesalan.


Naira menghirup nafas dalam-dalam dan bertanya pada Samuel.


"Berapa lama dia akan bekerja disini?" tanya Naira.


"Satu minggu sayang" jawab Samuel dengan cepat.


"Baiklah selama itu aku akan menemani mu di kantor, dan kalau mau meeting harus di temani Dika atau kak Dina. Dan di luar masalah pekerjaan, kamu tidak boleh bicara dengannya satu kata pun! bisa tidak?" tanya Naira.


"Bisa, bisa sayang!" jawab Samuel dengan cepat.


"Ya sudah, aku pulang dulu. Lanjutkan saja makan siang mu!" ucap Naira berusaha melepaskan pelukan Samuel.


"Bisakah kita makan siang bersama?" tanya Samuel dengan suara pelan pada Naira.


"Tidak, selera makan ku sudah hilang!" ucap Naira membuat Samuel sangat kecewa.


Naira lalu berjalan ke arah pintu, tapi saat akan keluar dia berbalik membuat Samuel mengembangkan senyum karena mengira istrinya yang sedang marah itu berubah pikiran.


"Selama perempuan itu bekerja di sini menggantikan Riksa, jatah malam mu libur!" tegas Naira lalu keluar dari ruangan Samuel.


Membuat Samuel terduduk lemah di sofa yang ada di belakangnya sambil mengusap kepalanya gusar.


"Astaga!" pekik nya frustasi.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2