
Aku menghela nafas ku panjang, sangat panjang. Aku sepertinya sudah membuat wanita itu bertambah kesal padaku.
"Nona Naira, anda baik-baik?" tanya pak Ranu dari arah belakang.
Aku langsung berbalik dan menghadap ke arah pak Ranu.
"Huh, pak Ranu. Apa dia sering kemari?" tanya ku pada Pak Ranu, jujur saja aku sedikit cemas.
"Tidak terlalu sering, jika tuan Samuel ke kantor kurasa dia akan menemuinya di kantor nya!" jelas pak Ranu.
'Hah, sepertinya wanita itu benar-benar tergila-gila pada si lidah tajam!' batin ku.
Aku kembali mengingat wanita yang pada pertemuan kami dulu juga mengejar-ngejar nya. Aku jadi bingung, apa yang membuat para wanita cantik, bertubuh bagus dan kurasa dari kalangan orang-orang kaya itu mengejar dan mengaguminya.
Tapi kemudian aku rasa tidak ada gunanya memikirkan hal itu, ada hal yang lebih penting. Hal itulah yang membawa ku kemari dan mencari pak Ranu.
"Oh ya pak Ranu, aku punya kabar bagus. Samuel memperbolehkan mu untuk cuti. Dan apa kamu tahu, dia bahkan meminta ku memberitahu mu agar kamu pulang sekarang agar bisa mempersiapkan diri di acara wisuda putrimu!" jelas ku sambil terus memasang senyum di wajah ku.
Karena jujur saja, aku pun ikut senang dengan hal ini. Aku bahkan tidak bisa membayangkan betapa senangnya anak dan istri pak Ranu kalau pak Ranu bisa pulang dan menemani mereka di acara penting itu.
"Benarkah nona, terimakasih banyak nona!" sahut pak Ranu.
Aku mengangguk kan kepalaku sebagai jawaban nya.
"Semoga semua keluarga mempunyai putri yang baik seperti anda nona Naira." ucap pak Ranu sebelum masuk ke dalam rumah.
Aku tertegun, entah kenapa hatiku begitu sedih mendengar apa yang dikatakan oleh pak Ranu. Aku jadi sangat merindukan ayah dan ibuku. Entah apa yang mereka lakukan sekarang.
Aku kembali ke dalam kamar ku, karena kata Samuel aku tidak boleh ke dapur maka aku tidak akan melakukan itu. Aku memilih untuk merapikan pakaian ku lagi, aku mengeluarkan semuanya lagi dan menyusunnya ulang. Sangat membosankan, aku bahkan dua kali mengeluarkan pakaian dan menyusunnya lagi.
Tok tok tok
"Nona Naira, sudah waktunya makan siang!" seru seorang pelayan dari luar.
Aku langsung menuju ke arah pintu kamar dan melihat kalau bibi Merry sedang ada di depan pintu bersama seorang pelayan.
"Nona Naira, sebaiknya anda yang memanggil tuan Samuel!" seru bibi Merry.
Aku langsung mengangguk paham, aku langsung ke ruang kerja Samuel. Aku mengetuk pintu ruang kerja Samuel.
__ADS_1
Tok tok tok
"Tuan, sudah waktunya makan siang!" seruku dari luar. Aku mencontoh apa yang di ucapkan oleh pelayan yang mengetuk pintu kamar tadi.
Ceklek
Samuel membuka pintu, tapi dia terlihat tidak senang.
"Tuan... sudah waktunya makan siang!" ucap ku lagi.
"Lalu?" tanya nya padaku.
Aku kembali di buat bingung dengan pertanyaan yang baru saja dia ucapkan itu. Aku menelengkan kepala ku benar-benar tidak mengerti.
"Tuan maksud tuan bagaimana ya?" tanya ku lagi.
"Ck... selain ceroboh kamu ini ternyata sangat bodoh ya?" tanya nya dengan nada kesal.
"Kenapa meniru kata-kata yang di katakan oleh pelayan? jika aku tidak membuat pintu, aku kira kamu pelayan!" jelas nya padaku.
'Loh, bukannya memang kamu menganggap ku pelayan mu. Istri kontrak yang hanya boleh menjalankan kewajiban dan tidak boleh meminta hak, apa bedanya dengan pelayan?' tanya ku dalam hati.
"Baiklah, apa pak Ranu sudah pergi?" tanya nya padaku sambil berjalan menuju ke rumah makan.
"Sedang bersiap-siap tuan!" jawab ku seperlunya.
"Baiklah, ayo kita makan. Setelah itu nanti aku bersiap-siap juga. Penerbangan ku ke Singapura sekitar tiga jam lagi!" jelasnya padaku.
Dan aku yang mengikuti langkahnya dari belakang hanya bisa mengangguk dan menjawab.
"Baik tuan!"
Samuel sudah duduk di kursinya, sementara bibi Merry mengajari ku bagaimana cara menyiapkan makanan untuk Samuel. Setelah semua siap untuk Samuel, bibi Merry dan aku baru ikut duduk dan juga makan bersama.
Bibi Merry sudah seperti sangat mengerti tentang Samuel, mungkin saja dia juga yang telah merawat Samuel sejak kecil karena itu Samuel bahkan sangat menghormati bibi Merry.
Setelah makan siang, aku dan Samuel kembali ke kamar kami untuk membereskan barang-barang yang akan dia bawa ke Singapura.
Samuel yang mengeluarkan barang-barang yang ingin dia bawa dan aku yang merapikan dan menatanya di dalam kopernya.
__ADS_1
Aku lihat dia membawa banyak pakaian, aku jadi penasaran apakah dia akan lama di Singapura.
'Yes, baju yang dia bawa banyak sekali. Pasti dia lama disana. Aku akan bebas darinya beberapa hari, yey!' pekik ku senang dalam hati.
Tapi sepertinya ekspresi senang ku terlihat oleh Samuel.
"Kamu terlihat senang aku pergi?" tanya nya dan aku segera terkesiap dan melihat ke arahnya.
"Ah, tentu saja... tentu saja tidak tuan. Istri mana yang akan senang kalau suaminya akan pergi!" jawab ku berbohong.
'Astaga, aku tidak pernah berfikir aku akan mengatakan kalimat seperti ini pada si lidah tajam!' batin ku.
Samuel terlihat tak percaya, dia bahkan berhenti mengeluarkan barangnya dan memicingkan mata nya padaku, sambil berkacak pinggang.
"Begitu ya?" tanya nya.
"Kalau begitu, bereskan juga pakaian mu. Aku akan mengajak mu pergi bersama ku!" ucapnya kemudian.
Aku membulatkan mataku tak percaya.
'Hah, dia mengajak ku. Oh tidak, baru saja aku senang dia pergi dan tidak menindas ku. Kenapa aku harus ikut?' keluh ku dalam hati. Aku sangat kesal.
"Tapi tuan, untuk apa aku disana. Tuan dan pacar tuan kan akan...!"
"Setelah aku pikir lagi, ibu ku akan curiga kalau aku pergi ke luar negeri tanpa mu, jadi kamu adalah alasan yang bagus!" jelasnya mengatakan alasannya yang sebenarnya.
'Tuh kan bener, pasti aku bakalan jadi teng doang nih. Nasib... nasib!' batin ku lagi.
"Tapi tuan aku tidak punya paspor!" seru ku lagi.
"Sejak surat kontrak itu kamu tanda tangani, kamu punya semua dokumen yang kamu tidak punya!" jelas nya dengan nada yang sangat sombong.
Aku yang awalnya sangat bersemangat mengemas koper Samuel sekarang jadi sangat malas, kalau hanya jadi tameng atau alasan dia keluar negeri sih tidak masalah. Tapi apa yang akan aku lakukan disana, tidak mungkin kan aku bisa berjalan-jalan seperti orang-orang kebanyakan. Aku bahkan belum pernah keluar negeri.
Seandainya saja, Riksa juga ikut. Setidaknya aku kan punya teman untuk bicara dan juga bisa mengajak ku berjalan-jalan.
'Sedang apa ya Riksa sekarang?' tanya ku dalam hati.
***
__ADS_1
Bersambung