Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
226


__ADS_3

Puspa tidak bisa berkata-kata, dia hanya terus berusaha menahan diri untuk tidak menangis karena rasa harunya yang teramat sangat dia rasakan saat ini. Dia tidak menyangka kalau pria yang sudah 9 kali menolak pengakuan cintanya, menolak perasaannya dengan alasan tidak satu level, tidak pantas dan tidak sebanding dengannya. Kali ini malah berkata sangat manis dan mampu membuat hatinya seperti terbang karena begitu hari dan bahagianya.


Riksa meraih tangan Puspa dan mengajaknya maju ke arah depan. Riksa menunjuk ke arah pantai dan disana sudah ada obor yang di bentuk menjadi sebuah tulisan. Puspa tak mampu lagi menahan air matanya yang sejak tadi memang sudah menggenang di pelupuk matanya.


'I ♡ U'


Seperti itulah tulisan yang di buat oleh obor-obor yang disiapkan oleh para petugas restoran itu di pinggir pantai.


Riksa lalu menyeka air mata yang sudah mengalir di pipi Puspa. Setalah itu dia meraih satu lagi tangan Puspa.


"Aku adalah pria paling bodoh yang ada di dunia ini karena telah menolak wanita sebaik dan sesempurna kamu Puspa! kita besar bersama, kuliah bersama, aku tahu mungkin kamu bahkan telah mengenal diriku melebihi diriku sendiri. Kamu tahu kan aku tidak pandai berkata-kata manis...!" Riksa menjeda apa yang mau dia ucapkan karena Puspa mengangguk dan tersenyum.


"Aku tahu, kamu memang bodoh!" ucap Puspa sambil tersenyum tapi air mata masih tetap jatuh dari sudut matanya.


Dan Riksa pun mengangguk menanggapi apa yang baru saja Puspa katakan padanya.


"Aku mencintaimu!" ucap Riksa sambil menatap Puspa dengan begitu dalam.


"Dasar bodoh!" ucap Puspa lalu memeluk Riksa.


"Kamu bodoh Riksa, kenapa begitu lama waktu yang kamu perlukan untuk mengatakan kalimat sederhana seperti itu, aku membenci mu!" ucap Puspa sambil terisak di pelukan Riksa.


Riksa meluk Puspa dengan erat dan mencium puncak kepala Puspa dengan sangat lembut. Dua lalu mengelus lembut punggung wanita yang masih terisak di pelukan nya itu.


Cukup lama Puspa mencurahkan kekesalan nya selama ini pada Riksa. Dia bahkan sudah merendahkan harga dirinya untuk menyatakan perasaannya pada pria yang bahkan usianya lebih muda dua tahun darinya itu.Tapi tetap saja di tolak, bahkan sampai 9 kali.


Sekarang pria itu mengutarakan isi hatinya dan menyatakan perasaannya, hal itu membuat Puspa perasaan nya jadi campur aduk, antara marah, kesal, terharu dan juga bahagia yang bercampur menjadi satu.


Butuh sekitar lima belas menit sebelum Puspa melepaskan pelukannya dari Riksa. Mereka lalu duduk di meja yang sudah di sediakan, dimana pada pelayan sudah menyiapkan makanan. Tapi Riksa malah hanya terus memandangi Puspa dan terus menggenggam tangan wanita itu setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih lima belas menit yang lalu.


"Apa yang membuat mu berubah pikiran?" tanya Puspa pada Riksa.

__ADS_1


"Aku takut kehilanganmu!" jawab Riksa dengan cepat dan sangat yakin.


"Ayah dan ibu ku datang dari luar negeri, mereka datang bersama dengan Rose...!"


"Keponakan lucu mu itu?" tanya Riksa menyela ucapan Puspa.


Puspa mengangguk kan kepalanya.


"Benar, Anyelir dan Rose juga...!" kali ini Puspa yang menjeda kalimatnya dan memandang ke arah Riksa.


Di pandang seperti itu membuat Riksa menjadi cemas.


"Juga?" tanya Riksa penasaran.


"Jonathan!" jawab Puspa lalu menghela nafasnya lelah.


"Pria itu, pria yang katamu pernah menyatakan perasaannya padamu dua tahun lalu?" tanya Riksa dengan cepat. Jelas terlihat di matanya kalau dia cemburu pada pria bernama Jonathan itu.


Dan ketika Puspa mengatakan bahwa dia akan menyerah seandainya Riksa menolaknya lagi, Riksa langsung menarik kedua tangan Puspa dan menciumi punggung tangan wanita yang sekarang sudah jadi kekasihnya itu beberapa kali secara bergantian kanan dan kiri.


"Jangan berkata seperti itu, aku sungguh tidak akan sanggup hidup kalau sampai itu terjadi!" jujur Riksa pada Puspa.


Puspa tersenyum bahagia, tapi dalam hatinya dia masih mencemaskan apa yang dikatakan oleh ibunya di telepon tadi. Kalau besok akan jadi acara pertunangan nya dengan Jonathan. Puspa tidak mungkin melawan ibunya, tapi setidaknya dengan Riksa yang sudah menjadi kekasihnya saat ini, dia punya alasan untuk menolak perjodohan itu. Kalau yang dia kenal, ibunya tidak akan pernah memaksakan kehendaknya pada Puspa. Karena Puspa tahu ibunya juga sangat menyayanginya.


Mereka lalu melanjutkan acara makan malam bersama sampai pada pukul 12 malam dan pada akhirnya Riksa lah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun pada Puspa. Di pinggir pantai, sambil berdiri berhadapan dengan tanpa alas kaki yang membuat telapak kaki mereka berdua bisa bersentuhan langsung dengan pasir pantai.


Riksa menyentuh pipi Puspa dengan lembut dan berkata.


"Selamat ulang tahun sayang, semoga kamu selalu mendapatkan apapun yang kamu inginkan, semoga kamu selalu bahagia!" ucap Riksa lalu mengecup kening Puspa.


'Aku hanya berharap bisa bahagia bersamamu Riksa, hanya bersama mu!' batin Puspa yang juga ikut berdoa.

__ADS_1


Mereka berdua saling pandang, dan dalam cahaya yang temaram hanya ada penerangan dari bulan dan obor yang masih menyala beberapa sementara beberapa yang lain sudah padam. Riksa memberanikan diri untuk berdiri lebih dekat dengan Puspa. Semakin memandangnya dengan dalam, tangan Riksa yang satu lagi juga menyentuh pipi sebelah kiri Puspa.


Wanita itu pun tahu apa yang ingin dilakukan Riksa, Puspa memejamkan matanya semakin membuat keberanian Riksa bertambah untuk menyatukan kedua bibir mereka.


Satu menit, dua menit, tiga menit...


Ciuman yang begitu lembut dan dengan perasaan yang begitu dalam membuat keduanya terhanyut sampai melupakan segalanya.


***


Sementara itu sejak tadi Naira tidak bisa tidur dan meminta Samuel yang sudah sangat mengantuk untuk terus menghubungi Riksa.


"Sayang, ini sudah malam. Besok lagi saja ya!" pinta Samuel yang sebenarnya sudah sangat sulit membuka matanya.


Karena memang sudah sangat larut, sudah lewat dari jam dua belas malam.


"Besok bagaimana sih mas, aku tuh gak akan bisa tidur kalau belum tahu kabar mereka. Riksa tidak bisa di hubungi, Puspa juga. Bagaimana kalau kesalahpahaman terus ada antara mereka berdua. Kamu harus telepon Riksa dan tanyakan padanya kenapa dia menolak Puspa terus!" seru Naira yang matanya masih terbuka lebar.


Sejak tadi Naira gelisah, karena dia juga tidak rela kalau dua orang sahabat nya yang saling mencintai itu terus menerus membohongi perasaan mereka dan akhirnya akan menyesal di kemudian hari.


"Sayang, tapi kamu sendiri lihat kan dari tadi aku juga sudah berusaha menelepon tapi tidak aktif!" ucap Samuel.


Samuel memeluk Naira dari belakang dan menciumi leher Naira.


"Sayang kita tidur saja ya!" pinta Samuel uang bicara begitu lembut pada Naira.


Samuel sekarang benar-benar bukan seperti singa yang galak lagi, dia lebih terlihat seperti kucing yang menggemaskan yang terus ingin menempel pada Naira setiap saat.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2