
Samuel masih berjalan di belakang tuan Thomas menuju ke ruang kerjanya, dia sudah minta pada Dina agar mengantar paman dan juga pimpinan bisnis gabungan nya itu sampai ke lift. Dia masih ada pekerjaan lain yang tak kalah penting.
Sembari berjalan dia meraih ponselnya yang ada di dalam sakunya, namun baru akan mengambil ponselnya. Tuan Thomas berbalik dan membuat langkah Samuel pun terhenti.
Samuel melihat ke arah pamannya itu.
"Ada apa tuan Thomas? apa ada hal lain?" tanya Samuel yang melihat pamannya itu wajahnya sedikit serius.
"Kalian duluan!" perintah tuan Thomas pada kedua asistennya dan pada Dina yang di perintahkan oleh Samuel untuk mengantar tuan Thomas.
Dina sempat melihat ke arah Samuel, meminta pendapat pada bos nya itu apa yang harus dia lakukan. Lalu Samuel pun memberikan satu anggukan pada Dina, dan Dina pun pergi bersama dengan kedua asisten tuan Thomas.
Tuan Thomas berdiri di depan Samuel ketika semua orang sudah menjauh.
"Aku sungguh tidak tahu kalau tuan muda Hasigawa itu akan membuat kekacauan seperti ini, sayang sekali kepintaran dan otak genius pria muda itu malah salah arah seperti ini!" kata tuan Thomas yang sepertinya sangat menyayangkan kenapa Kenzo berubah menjadi orang yang berbeda dari yang dia kenal untuk pertama kali.
Jangankan tuan Thomas yang baru mengenal Kenzo beberapa tahun, bahkan Samuel yang sudah mengenal Kenzo sejak mereka masih kuliah pun tidak menyangka kalau pria genius itu akan berubah seperti itu. Awalnya dia tahu kalau saat dia berhubungan dengan itu karena Caren uang berbohong pada Kenzo, Caren mengatakan kalau dia masih single. Jika Kenzo tahu kalau Caren adalah kekasih Samuel, Kenzo pasti juga tidak akan mengejarnya. Tapi semenjak peristiwa itu, Kenzo sepertinya malah semakin terobsesi untuk mengambil apapun yang Samuel miliki, bahkan Kenzo tahu kalau Naira adalah istri sah Samuel, tapi pria itu malah dengan sengaja seperti menyatakan perang pada Samuel karena terus mengusik urusan rumah tangganya.
"Jika memang kerja sama ini sudah tidak nyaman bagimu, maka kita bisa hentikan dan batalkan saja proyek ini!" tegas Tuan Thomas yang sebenarnya sangat merasa tidak enak pada Samuel karena ucapan Kenzo di ruang rapat tadi.
Samuel tidak terkejut sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh tuan Thomas. Samuel tahu kalau tuan Thomas adalah seorang family man yang pasti akan lebih mementingkan keluarga daripada uang dan keuntungan. Samuel pun terkekeh kecil.
"Aku senang mendengar apa yang tuan Thomas katakan, tapi aku adalah Samuel Virendra. Ayah dan kakek ku selalu mengajarkan kalau semakin tinggi pohon maka semakin kencang angin yang akan berhembus dan menerpanya, mungkin karena hal itu pula aku masih bisa bertahan di antara banyak rekan bisnis yang bahkan sudah gulung tikar atau banting setir. Tuan Thomas tidak perlu cemas, aku sangat bisa membedakan mana urusan bisnis dan urusan pribadi. Aku berjanji tidak akan ada perkelahian di kantor!" jelas Samuel panjang lebar membuat senyuman tipis terukir di wajah tuan Thomas.
Tuan Thomas lalu menepuk bahu Samuel.
"Senang mendengar nya nak, tapi bisakah sesekali panggil saja aku paman!" seru tuan Thomas.
"Tentu saja paman!" sahut Samuel.
__ADS_1
Setelah pembicaraan itu Samuel mengantarkan tuan Thomas sampai di depan pintu lift. Setelah pintu lift tertutup. Samuel kembali memeriksa ponselnya. Matanya melebar ketika melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Riksa. Tanpa menunggu lagi Samuel langsung menghubungi nomer Riksa. Namun nomer Riksa yang sekarang malah sulit di hubungi.
"Apa yang terjadi? kenapa tidak bisa di hubungi!" gumam Samuel sambil berjalan cepat ke arah ruangan Riksa.
"Tuan Samuel !" panggil seorang karyawan dengan berteriak.
Samuel langsung menghentikan langkahnya yang akan menuju ke ruangan Riksa dan menoleh ke arah karyawan yang sedang berlari menghampiri nya.
"Pak Samuel... itu... huf huf !" karyawan itu bicara terbata-bata karena nafasnya tersengal-sengal.
"Ada apa? cepat katakan!" pekik Samuel.
"Pak Riksa, di klinik.. pingsan...!"
Tanpa menunggu karyawan itu selesai bicara, Samuel langsung berbalik arah dan berlari menuju ke lift untuk menuju ke klinik perusahaan.
Setelah sampai di klinik, Samuel juga langsung masuk ke dalamnya. Di sana sedang ada dokter Aditya yang sedang memeriksa Riksa.
"Ya Tuhan, Riksa. Apa yang terjadi?" pekik Samuel frustasi dan mengusap kepalanya gusar melihat kondisi menyedihkan pada Riksa.
"Bagaimana dia?" tanya Samuel pada dokter Aditya.
"Kondisinya cukup parah, lukanya beberapa sudah ku jahit. Aku rasa dia harus bed rest selama beberapa hari!" jawab dokter Aditya.
"Ada yang bisa jelaskan padaku, apa yang terjadi?" tanya Samuel pada beberapa karyawan yang masih ada di dalam klinik menemani Riksa.
"Tadi saya temukan pak Riksa pingsan di depan gedung pak, dia turun dari motor dan langsung pingsan! lalu kami membawanya kemari!" jelas karyawan yang tadi menemukan Riksa pertama kali saat pingsan.
"Baik, kalian boleh pergi!" seru Samuel.
__ADS_1
Semua karyawan yang tadi membawa Riksa ke klinik pun akhirnya pergi meninggalkan klinik. Samuel lalu duduk di sebelah tempat tidur pasien Riksa. Sedang dokter Aditya masih terus menjahit beberapa luka robek yang ada di bagian perut Riksa.
'Maafkan aku Riksa, seharusnya aku tidak mematikan ponsel ku tadi. Kamu selalu ada saat aku membutuhkan mu, tapi saat kamu membutuhkan ku... !' Samuel bahkan tidak dapat meneruskan kata hatinya.
Samuel begitu menyesal karena saat dirinya seharusnya membantu Riksa, dirinya malah tidak melakukan hal itu. Dia merasa sangat bersalah pada Riksa.
"Uhukk!"
Suara batuk Riksa membuat Samuel membelalakkan matanya dan langsung berdiri melotot pada dokter Aditya.
"Hei dokter, apa kamu tidak waras kenapa menjahit luka seperti itu tapi tidak memberikan obat bius?" tanya Samuel dengan nada tinggi dia terlihat sangat kesal pada dokter Aditya.
"Maaf pak Samuel, tapi tadi pak Riksa sempat sadar saat saya menjahit luka di keningnya, dan saat saya akan menyuntikkan obat bius, dia bilang jangan beri dia obat bius. Dia bahkan meminta karyawan tadi memanggil pak Samuel!" jelas dokter Aditya.
"Bos...!" lirih Riksa.
"Riksa, apa yang terjadi? siapa yang melakukan semua ini?" tanya Samuel panik.
"Bos, tolong bantu aku. Puspa.... dia di bawa ke Jerman. Tolong minta Eka, mencari rumah keluarga Putra di Jerman...!" dan belum selesai dengan apa yang ingin dia katakan Riksa kembali pingsan.
Samuel langsung mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Sial, seharusnya aku memang ikut denganmu mengantar Puspa pulang!" kesal Samuel.
"Dokter, jaga dia dengan baik!" seru Samuel dan langsung di balas anggukan oleh dokter Aditya.
Samuel lalu keluar dari ruang klinik dan meraih ponselnya.
"Halo Eka, Puspa di bawa keluarganya ke Jerman. Cari tahu dimana mereka tinggal di Jerman. Dan siapkan penerbangan untuk ku ke Jerman dalam dua jam!" seru Samuel dan langsung kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku lalu berjalan ke luar dari klinik.
__ADS_1
***
Bersambung...