
Mas Sam menggenggam tanganku dan meyakinkan aku kalau seluruh anggota keluarganya yang sekarang juga sudah menjadi anggota keluarga aku tidak akan mungkin merasa kalau apa yang akan mas Samuel katakan kepada mereka adalah hal yang salah.
Dan kata mas Samuel seluruh anggota keluarga bahkan akan tetap selalu mendukungnya. Karena mereka semua pasti juga ingin yang terbaik untuk calon penerus keluarga Virendra. Mendengar apa yang dikatakan oleh mas Samuel membuatku menghela nafas sangat berat sebab rasanya seperti aku ini sedang memikul beban yang berat memikul tanggung jawab yang besar, aku mengusap perut ku pelan.
'Sayang, kita harus kuat ya. Sepertinya semua anggota keluarga besar ayah mu menaruh harapan besar padamu!' batin ku sembari mengusap perut ku perlahan.
Tapi semakin kami mendekati daerah di mana terdapat lokasi komplek perumahan milik Ayah Rama. Aku merasa mas Samuel mengemudikan mobil semakin lamban saja, sepertinya bukan hanya mas Samuel yang mengemudikan mobil secara lamban, tapi mobil-mobil yang berada di depan kami juga berjalan sangat pelan dan aku rasa ini yang disebut dengan macet.
"Ada apa mas? kenapa macet?" tanya ku pada mas Samuel yang baru saja selesai menyembulkan kepalanya melalui jendela mobil yang kacanya sudah terbuka dia melihat situasi di depan dan sekelilingnya.
"Entahlah, tidak terlihat apapun kecuali mobil di depan sana!" jawab mas Samuel.
Cukup lama mobil kami berjalan pelan, dan tiba-tiba saja kami melihat beberapa petugas pemadam kebakaran dan mobil pemadam kebakaran lewat di jalan ini.
"Sepertinya ada kebakaran!" kata mas Samuel sambil memperhatikan para petugas yang lewat.
Aku mengangguk setuju, lalu kembali melihat ke arah para petugas yang sebagian berlari dan sebagian lagi berusaha untuk meminta para pengemudi mobil lainnya untuk memberi jalan agar mobil pemadam bisa lewat.
"Sayang, sepertinya akan sangat lama kita terjebak kemacetan ini! bagaimana kalau kita menunggu sambil minum disana?" tanya mas Samuel padaku sambil menunjuk sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari posisi kami sekarang berada.
Aku melihat ke arah cafe yang tidak ramai, kemudian aku mengangguk setuju. Setelah mendapatkan persetujuan dari ku mas Samuel kemudian mengarahkan mobilnya menuju tempat parkir cafe. Dia menepikan mobil di area parkir yang tersedia. Lalu mematikan mesin mobil, dia keluar dan membukakan pintu mobil untuk ku.
"Sayang, ayo!" ajak mas Samuel menggandeng tangan ku.
Kami berdua berjalan masuk ke dalam cafe yang lumayan mewah, aku yang tinggal di sekitar daerah ini sejak kecil belum pernah masuk kesini, ini pertama kalinya. Karena aku dengar harga makanan dan minuman di tempat ini lumayan menguras kantong.
Aku dan Mini dulu sering lewat di sini tapi tidak pernah masuk ke dalamnya. Kami hanya berfoto Selfi di luar cafe saja untuk di posting di media sosial milik Mini. Kalau mengingat hal itu, rasanya aku sangat rindu masa-masa bekerja di toko buku ko Acong.
"Silahkan sayang!" ucap mas Samuel yang sudah menarik sebuah kursi di dekat jendela untukku.
__ADS_1
"Terimakasih mas!" sahut ku lalu duduk di kursi yang telah di tarik oleh mas Samuel tadi.
Baru saja mas Samuel akan duduk, seorang wanita sudah menghampiri nya dan memanggil namanya.
"Samuel!" panggil wanita yang berambut pirang dan aku jelas mengenal siapa wanita itu.
"Nita!" ucap mas Sam yang menolak pelukan wanita itu.
Aku hanya bisa menghela nafasku, wanita jaman sekarang memang benar-benar ya. Masak bertemu dengan pria yang jelas-jelas tidak punya hubungan apa-apa dengannya main langsung mau peluk saja.
"Ih, kamu gak berubah-ubah deh Sam. Kenapa sih selalu tidak mau aku peluk?" tanya Nita kesal.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini, aku sedang makan siang dengan istri ku. Pergi kamu!" ucap mas Samuel yang memang terlihat dari ekspresi wajahnya kalau dia memang tidak menyukai kehadiran wanita genit di hadapannya itu.
"Oh dengan istri mu, aku penasaran siapa sih istrimu?" tanya Nita lalu menoleh ke arah ku.
Begitu Nita melihat ku dia mengerutkan keningnya.
Wajah Nita menunjukkan ekspresi bingung tapi juga begitu meremehkan aku saat melihat ke arahku. Nita kemudian kembali menoleh ke arah Samuel.
"Ish, jangan bercanda kami Sam. Dia kan pelayan yang waktu itu ...!"
"Tidak, dia adalah Naira, Istriku!" tegas Samuel
"Tapi kamu waktu itu bilang kalau dia pelayan kan?" tanya Nita lagi.
Dan saat Nita menanyakan kalimat itu kepada mas Samuel, aku bisa melihat dengan jelas kalau mas Samuel sepertinya sangat menyesali kejadian waktu itu. Wajah mas Samuel saat ini seperti merasa bersalah, dia langsung berjalan ke arah ku dan mengecup puncak kepalaku dengan lembut.
"Waktu itu aku sedang marah padanya, aku menyesal telah mengatakan hal itu. Dia adalah istriku, istriku satu-satunya. Aku sangat mencintainya!" ucap mas Samuel sambil mendekap ku dengan erat.
__ADS_1
Aku masih diam, aku rasa aku memang tidak perlu mengatakan apapun.
Nita menggelengkan kepalanya melihat apa yang Samuel lakukan dan katakan.
"Ayolah Samuel, sejak kapan selera mu jadi payah begini! aku bisa maklum kalau menyukai Caren, dia memang cantik, elegan dan pintar. Tapi kalau wanita ini...!"
"Diam kamu Nita, sebaiknya kamu pergi sekarang atau aku akan minta securirity untuk mengusir mu dari sini!" tegas mas Samuel.
Aku cukup terkejut dengan reaksi mas Samuel, dia sangat marah ketika Nita menghinaku. Sedangkan aku biasa saja, karena memang semua yang wanita itu katakan adalah benar. Kalau aku di bandingkan dengan Caren itu ibarat membandingkan Raline Shah dengan seorang Naira putri. Itu jelas sangat jauh berbeda. Tapi aku cukup senang melihat mas Samuel membelaku.
"Sam, aku mengatakan yang sebenarnya!" seru Nita yang masih tidak terima dia di usir oleh Samuel.
"Dia istriku, kamu menghinanya itu sama artinya dengan kamu menghina ku! sebaiknya kamu pergi, ini terakhir kalinya aku memberi peringatan padamu, pergi atau kontrak mu aku putuskan sepihak!" tegas Samuel dengan wajah dinginnya.
Aku bahkan merinding melihat ekspresi wajah mas Samuel, padahal dia bukan marah padaku. Wanita yang bernama Nita itu langsung diam, dia terlihat mendadak menjadi tegang. Dia bahkan menoleh beberapa kali ke arah ku.
"Oke, oke aku akan pergi! tapi kalau kamu sudah bosan dengan istri mu...!"
"Pergi!" bentak Samuel.
Nita tersentak hingga mundur selangkah dan memejamkan matanya, tanpa basa-basi lagi dia langsung berbalik dan pergi keluar dari cafe.
Samuel lalu duduk di sebelah ku dan menggenggam tangan ku.
"Sayang, maafkan kesalahan ku dulu ya, aku tidak tahu kalau apa yang aku lakukan padaku dulu akan membuat wanita lain bisa menghina mu. Aku mohon maafkan aku!" ucap mas Samuel sambil terus menciumi ke dua tangan ku bergantian.
'Beruntungnya aku punya suami seperti mas Samuel!' batin ku sangat bahagia.
***
__ADS_1
Bersambung...