
"Mas!" wajah Naira mendadak pucat. Dia melihat ke arah Samuel dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mas, ibu pingsan! kita ke sana ya mas!" pinta Naira uang sedikit lagi pasti sudah tidak sanggup menahan lagi air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya untuk tumpah.
Samuel yang tidak kuasa melihat istrinya bereaksi seperti itu pun segera membantu istrinya untuk berdiri dan segera bergegas menuju ke kantin sekolah dimana kedua orang tua dari Naira bekerja.
Selama perjalanan Naira tampak panik, dan Samuel juga terus menggenggam tangan istrinya itu agar dirinya sedikit lebih tenang meskipun dia tahu kalau Naira benar-benar sangat panik setelah mendengar dari ayahnya kalau ibunya pingsan setelah mendengar kabar dari dirinya.
"Kenapa ibu pingsan ya mas? apa ibu sakit?" tanya Naira pada Samuel.
Terlihat jelas kalau Naira sangat mengkhawatirkan keadaan sang ibu. Setelah dia menikah dan pergi ke pulau Bali waktu itu dia belum sempat untuk ber teleponan atau menemui sang ibu. Samuel yang tidak ingin melihat istrinya sedih karena teringat dengan pesan dokter Arini yang baru saja di katakan padanya tadi di ruang praktek dokter Arini lalu berkata.
"Sayang tenanglah, mungkin Ibu hanya terlalu senang mendengar berita tentang kehamilanmu, jangan berpikir yang tidak-tidak. Positif thinking saja ya, pasti ibu baik-baik saja!" ujar Samuel mencoba untuk membesarkan hati istri tercintanya.
Naira berusaha untuk tenang dan berpikir positif seperti apa yang suaminya katakan. Dia menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Dia terus berdoa dalam hati agar ibunya benar-benar baik-baik saja seperti apa yang dikatakan oleh Samuel.
Sementara itu di kantin sekolah. Saat Anisa pingsan, beberapa orang yang ada disana ikut panik dan langsung membawa Anisa ke ruang UKS. Untung ada Ibras di bantu teman-temannya yang langsung menutup gerai tempat Anisa berjualan. Sementara Rama menunggu Anisa yang sedang di periksa oleh seorang dokter wanita yang saat itu sedang bertugas berjaga di UKS sekolah tersebut.
__ADS_1
Setelah sang dokter yang bernama Wulan itu memeriksa keadaan Anisa dia pun segera duduk di meja kerjanya diikuti oleh Rama yang ikut duduk di depan meja kerja dokter Wulan.
"Dokter, istri saya kenapa? kenapa dia bisa tiba-tiba pingsan seperti tadi?" tanya Rama.
"Begini pak Rama, ibu Anisa mengalami tekanan darah rendah atau kita biasa yang disebut dengan kurang darah atau anemia, jadi ditambah kelelahan jadi ibu Anisa drop. Mungkin di tambah lagi dia mendengar sesuatu yang membuatnya sangat terkejut. Jadi karena semua penyebab itu dia jadi pingsan tiba-tiba. Tapi saya sudah menuliskan resep obat yang bisa Ibu Anisa konsumsi untuk menambah darah dan menghilangkan rasa lelahnya. Tapi semua ini sifatnya hanya pendukung, lebih baik di usianya saat ini Ibu Ani saya tidak terlalu lelah dan tidak bekerja terlalu berlebihan!" jelas dokter Wulan panjang lebar kepada Rama.
Rama sesekali melihat ke arah istrinya yang belum sadarkan diri dari kondisi pingsan nya. Sebenarnya dia juga kasihan pada sang istri yang ikut bekerja keras bersamanya membanting tulang untuk menghidupi semua anggota keluarga. Masalahnya Rama hanya lulusan sekolah menengah pertama dan pekerjaannya hanya sebagai seorang penjaga sekolah dan penjaga gerbang jadi gajinya tidak seberapa kalau untuk menyekolahkan Ibras dan Naira dan juga membiayai kehidupannya.
Itulah yang menyebabkan Anisa istrinya ikut membanting tulang bersamanya menjadi penjaga kantin sekolah. Rama tahu istrinya itu sangat luar biasa, Anisa harus bangun pagi-pagi buta sementara orang lain belum bangun untuk memasak nasi uduk yang akan dibuat untuk berjualan di kantin sekolah juga segala condiment pelengkapnya. Bukan hanya itu dia juga menjajakan jajanan yang lain seperti manisan asinan, gorengan, dan semua itu dibuat sendiri.
Sewaktu Naira masih bersama mereka dan belum menjadi istri dari Samuel, Naira lah yang sering membantu Anisa memasak dan membantunya menyiapkan semua dagangan yang akan dijual di kantin sekolah. Tapi karena Nayla sekarang sudah menjadi istri orang lain dan tinggal di rumah suaminya maka semua pekerjaan Anisa lah yang mengerjakannya, meskipun sekedar mencuci piring atau mencuci pakaian Rama dan Ibras juga membantu, tetapi tetap saja tidak seperti daerah yang bisa mengerjakan semuanya.
Rama hanya bisa menganggukan kepalanya dengan cepat menyetujui apa yang dokter Wulan katakan.
"Lalu, kira-kira kapan istri saya siuman dokter?" tanya Rama dengan cemas.
"Sebentar lagi juga sadar pak Rama, sebaiknya biarkan dulu disini ya. Saya akan memeriksa pasien yang lain dulu di sebelah!" ucap dokter Wulan.
__ADS_1
Dan Rama pun kembali menganggukkan kepalanya karena saat dia membawa Annisa ke ruang UKS tadi dokter Wulan memang sedang memeriksa seorang siswi yang juga pingsan akibat kelelahan saat melakukan aktivitas praktek olahraga.
Setelah dokter Wulan keluar dari ruangan, Rama berdiri dan mendekati ranjang pasien yang ditiduri oleh Annisa yang belum sadarkan diri. Rama menggenggam tangan istrinya itu dan berucap pelan di samping Anisa yang matanya masih terpejam.
"Bu, maafkan ayah ya. Karena ayah tidak bisa mencukupi semua kebutuhan keluarga kita Ibu jadi harus repot-repot membantu bekerja, Ibu membantu kewajiban yang seharusnya Ayah laksanakan sendiri. Maafkan ayah ya Bu!" ucap Rama yang dari sudut matanya sudah meneteskan air mata.
Tapi setelah menyadari bahwa dari sudut matanya mengeluarkan setitik air mata Rama dengan cepat menghapus air matanya itu dengan tangannya.
"Ibu cepat sembuh ya, kan sebentar lagi kita akan memiliki cucu. Dan sebentar lagi ibrah juga sudah akan lulus sekolah, jadi ibu bisa beristirahat di rumah biar ayah saja yang mencari nafkah!" ucap Rama sambil tersenyum.
Meskipun Rama tersenyum sesungguhnya hatinya merasa sedih melihat keadaan sang istri. Dia juga memikirkan masa depan dari anak laki-laki satu-satunya yaitu Ibras yang tahun ini akan lulus sekolah menengah atas. Ibras sebenarnya anak yang pintar dia juga punya keinginan untuk melanjutkan sampai ke perguruan tinggi, tapi apa daya seorang penjaga sekolah seperti Rama tidak akan mampu memulihkan anaknya sampai ke perguruan tinggi. Hingga dia terpaksa mengatakan agar Ibras selesai sekolah mencari pekerjaan saja. Dan beruntungnya Ibras sangat pengertian, belum lulus sekolah saja dia sudah berusaha mencari pekerjaan sana sini supaya saat lulus nanti dia bisa langsung bekerja.
Meskipun Samuel menantu dari Rama adalah seorang yang sangat kaya raya. Tapi Rama sangat enggan dan tidak enak hati kalau harus meminta bantuan dari menantunya itu. Meskipun baik itu Samuel atau Riksa selalu mengatakan jika mereka butuh bantuan maka katakan saja, tapi tetap Rama merasa kalau dirinya sebagai seorang kepala keluarga harus berusaha berpijak dengan kakinya sendiri.
Author POV end
***
__ADS_1
Bersambung...