Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
151


__ADS_3

Author POV


Sementara Samuel dan Naira sudah berbaikan dan Samuel sudah menyatakan perasaannya pada Naira, meskipun Naira belum menjawab pertanyaan Samuel apakah dia memiliki perasaan yang sama atau tidak.


Di salah satu kamar hotel di ruangan yang sama, seorang pria sedang mengepalkan tangannya setelah menerima laporan dari anak buahnya.


Mengetahui anak buah Samuel datang untuk menyelidiki rekaman CCtv hotel. Kenzo pun meminta anak buahnya untuk menyelidiki hal yang sama, dan Kenzo juga merasa geram pada apa yang dilakukan oleh Caren.


"Wanita itu sengaja menjatuhkan dirinya di depan Samuel, hm... dia memang sudah sebodoh itu rupanya!" gumam Kenzo setelah melihat sendiri rekaman CCtv dari anak buahnya.


Kenzo lalu meminta salah seorang anak buahnya memanggil Caren. Beberapa menit kemudian Caren datang dengan mata yang sembab karena dia habis menangis. Setelah pulang dari pesta, Kenzo memarahinya karena tidak becus bersandiwara. Dan yang muat Kenzo kesal adalah dia tidak mengatakan alasan yang tepat pada tuan Thomas dan istrinya.


"Ada apa lagi?" tanya Caren yang sudah sangat jengah menghadapi perilaku Kenzo yang semakin lama semakin acuh dan juga kasar padanya.


"Lihat rekaman itu!" perintah Kenzo.


Lalu anak buah Kenzo memutar laptop yang ada di atas meja ke arah Caren hingga dia bisa melihat apa yang ada di layar monitor.


Wajah Caren bertambah pucat saat melihat rekaman video di layar laptop milik Kenzo.


"Itu... itu sesuai rencana kita kan, itu agar dia mengantarkan aku ke rumah sakit!" jawab Caren dengan gugup.


"Dasar bodoh, semua orang juga akan tahu kalau itu adalah rekayasa, sandiwara. Seharusnya sebelum pintu lift itu terbuka kamu sudah jatuh pingsan. Kalau seperti itu, sama saja menunjukkan kalau kamu sengaja jatuh setelah menunggunya!" jelas Kenzo dengan kesal.


Mata Caren melebar, dia baru tahu apa yang membuat Kenzo marah. Ternyata bukan karena dia jatuh di pelukan Samuel, tapi karena dia tidak bersandiwara dengan sempurna.


"Anak buah Samuel sudah menyelidiki semua ini. Sekarang dia pasti tahu selama ini kamu berbohong dan hanya bersandiwara, dasar bodoh. Bereskan barang-barang mu. Kita akan pulang!" seru Kenzo masih dengan ekspresi wajah dingin.


"Tapi..tapi bukannya kita...!"


"Mau apa lagi, sekarang pasangan itu pasti sudah berbaikan. Semua ini gara-gara kecerobohan mu. Jika kita tidak pergi sekarang, maka Samuel akan tahu apa tujuan kita sebenarnya!" lanjut Kenzo lalu meninggalkan kamar nya sendiri.


Caren hanya bisa tertunduk lemas, dia hanya bisa menyesali lagi apa yang telah dia lakukan. Semua tidak berjalan sesuai rencana. Itu artinya dia harus kembali ke rumah Kenzo, dimana mau bernafas saja dia seolah harus meminta ijin pada keluarga Kenzo.


Sementara itu pasangan yang sedang bahagia lainnya, yaitu Naira dan Samuel sedang berjalan-jalan menikmati indahnya kota Bali. Mereka pergi ke tempat-tempat wisata dan membeli banyak sekali oleh-oleh untuk orang-orang terdekat mereka.

__ADS_1


Setelah lelah mereka pun kembali ke dalam hotel, dan seperti itulah Samuel sekarang. Berjalan di belakang Naira dengan banyak kantong belanjaan.


Brukk


Samuel meletakkan semua belanjaan di atas meja di ruang tamu hotel lalu menjatuhkan dirinya di sofa.


"Huh, sekarang aku mengerti kenapa ayah selalu mengeluh kalau ibu memintanya menemani belanja!" gerutu Samuel.


Naira hanya terkekeh dan mengambilkan satu botol minuman dingin dan menuangkannya ke dalam gelas, setelah itu dia lalu meletakkan gelas yang berisi minuman itu di atas meja di depan Samuel.


"Mas, aku mandi dulu ya!" ucap Naira lalu langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Saat Samuel masih beristirahat dan juga minum minuman dingin nya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Samuel segera merogoh ponselnya yang berada di dalam kantong jaket. Lalu melihat ke layar ponselnya.


Matanya menunjukkan raut senang ketika melihat nama pemanggil di latar ponselnya. Samuel dengan cepat menggeser icon telepon berwarna hijau.


"Halo ibu!" sapa Samuel sangat senang.


"Halo Sam, ibu dengar kamu dan Naira ke Bali ya, apa kalian sedang berbulan madu?" tanya Stella dengan nada suara yang begitu penasaran.


"Astaga, aku lupa. Sam, bicaralah pada ayah mu, aku akan menghubungi Irene!" ucap Stella tergesa-gesa.


Seperti itulah Stella, dia memang terlihat seorang wanita yang elegan tapi dia juga manusia biasa, dia bahkan lupa pada ulang tahun pernikahan sepupunya sendiri. Karena itu dia menyerahkan teleponnya pada suaminya, dan menghubungi Irene sepupunya untuk mengucapkan selamat dan meminta maaf karena baru sempat menelepon.


Samuel yang sudah bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh ibunya, hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan sambil menepuk dahinya sendiri.


"Halo Sam, bagaimana kabar mu dan Naira?" tanya Damar.


"Baik ayah, bagaimana dengan ayah dan ibu. Lalu kakek, apa sudah ada perkembangan?" tanya Samuel.


"Untuk ini lah aku meminta ibu mu menghubungi mu, tapi pada akhirnya harus ayah juga yang mengatakan nya!" jawab Damar.


Namun jawaban damar itu terkesan ambigu. Membuat Samuel mengerutkan keningnya.


"Ada apa ayah, semoga kakek baik-baik saja!" ucap Samuel dengan raut wajah cemas.

__ADS_1


"Amin, dan doa kita semua memang sudah terkabul!" ucap Damar.


Mata Samuel berbinar, dia bahkan sampai berdiri karena begitu senang mendengar kalau kakeknya baik-baik saja.


"Benarkah ayah, apakah kakek sudah sadar?" tanya Samuel begitu antusias.


"Benar nak, kakek mu sudah siuman. Bahkan sekarang dia sudah bisa duduk di atas tempat tidur nya. Dia sedang di periksa dokter!" jelas Damar.


Samuel mengusap wajahnya, dia begitu bersyukur sang kakek yang sudah koma selama beberapa bulan akhirnya sadar.


"Syukurlah ayah, aku sangat senang mendengarnya!" seru Samuel.


"Iya Sam, ayah juga. Apalagi ibumu, karena berkat ucapannya kakek mu sembuh!" ungkap Damar.


Samuel sedikit mengernyit ketika mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya.


"Maksud ayah?" tanya Samuel.


"Sam..!" Damar terdengar ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Awalnya dokter meminta kami untuk bicara pada ayah, karena ayah meskipun koma, dokter yakin kalau ayah bisa mendengar apa yang kami katakan. Dan kami berdua pun mencoba hal itu, ayah banyak mengatakan hal-hal yang pernah ayah dan ayah Virendra lewati, tapi ayah Virendra tidak merespon. Sampai ibu mu mengatakan sesuatu pada nya dan jemari tangan nya bergerak. Semakin ibu mu mengatakan nya kakek mu menunjukkan reaksi yang baik, bahkan perlahan kakek mu membuka matanya!" jelas Damar menceritakan kronologi kejadian sampai kakeknya Samuel sadar.


"Ibu memang luar biasa, aku jadi sangat penasaran apa yang ibu katakan pada kakek!" ucap Samuel.


"Ibumu mengatakan kalau kamu sudah menikah...!" Damar menjeda kalimat nya lagi.


Samuel kembali duduk dan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh ayahnya lagi.


"Dan ibu mu mengatakan sebentar lagi kakek akan mempunyai cicit, karena Naira sedang hamil!" ucap Damar lagi.


"Apa?" pekik Samuel yang langsung berdiri lagi karena terkejut.


Author POV end


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2