
Aku sedang mengantarkan secangkir kopi pada mas Samuel ketika ponselnya berdering. Mendengar suara ponsel mas Samuel yang berdiri aku langsung mempercepat langkahku. Aku sangat berharap kalau telepon itu berasal dari Riksa atau Puspa, karena memang mereka berdua lah yang sejak tadi kami coba untuk hubungi namun selalu tidak bisa.
"Mas, dari siapa?" tanya ku sebelum mas Samuel menggeser icon telepon berwarna hijau di layar ponselnya.
"Ini dari Puspa, sayang!" jawab mas Samuel dan aku langsung meletakkan secangkir kopi uang aku buat di atas meja yang berada di dekat mas Samuel. Mas Samuel lalu menyalakan speaker pada ponselnya.
"Halo, ku pikir kamu sudah tidak bernafas...!"
Sebelum mas Samuel melanjutkan ucapannya, mas Samuel langsung menjauhkan ponsel dari dekatnya karena Puspa berteriak marah atas apa yang baru saja mas Samuel ucapkan padanya.
"Apa katamu?" pekik Puspa dari seberang sana.
Aku tidak bisa ya bayangkan bagaimana teriakan Puspa kalau berada didekat kami, berada di tempat lain dan hanya bicara ditelepon saja sudah membuat telingaku berdenging mendengar teriakan yang begitu kencang dan suaranya yang begitu melengking.
"Berikan telepon nya pada bos mu!" seru Puspa yang seperti sengaja membalas ucapan Mas Samuel tadi.
Mas Samuel yang bingung, dan tidak mengerti hanya menatap ku dan mengernyitkan keningnya.
"Bos ku, siapa bos ku? apa kamu geger otak atau amnesia, aku lah bos nya!" ucap Samuel mempertegas kalau dia memang merasa tidak punya bos.
"Heh Samuel, jangan berlagak bodoh. Siapa lagi kalau bukan Naira, aku tahu kamu bahkan cuti dia hari karena dia ngambek padamu kan?" tanya Puspa dengan nada mengejek.
Samuel terlihat geram, dia nyaris membanting ponselnya tapi niatnya itu dia urungkan ketika melihat ku menatapnya dengan tajam dan dengan kedua tangan yang aku lipat di depan dadaku.
"Dasar jomblo galak...!"
Belum selesai mas Samuel membalas mengejek Puspa, dia kembali di sela oleh wanita yang hari ini sedang berulang tahun itu.
"Siapa yang jomblo, maaf ya tuan muda Virendra, aku harus membuat mu kecewa, dan aku rasa kamu harus tarik kembali ucapan mu itu, aku sekarang punya kekasih!" ucap Puspa sangat percaya diri.
"Apa kamu bilang?" tanya mas Sam sedikit kesal.
"Hei, jangan terburu-buru mencari kekasih, aku tahu Riksa sudah menolak mu 9 kali, tapi aku yakin dia menyukai mu...!"
__ADS_1
"Naira! apa Naira yang mengatakan nya padamu. Berikan ponsel mu aku ingin bicara pada Naira " seru Puspa yang terlihat sangat marah.
Aku menelan saliva ku dengan susah payah, kenapa juga mas Samuel keceplosan. Aku akan sudah berjanji pada Puspa tidak akan mengatakan hal itu pada siapapun, bahkan pada mas Samuel sekalipun.
"Memangnya kenapa? jangan salahkan istriku, kami adalah suami istri, mana boleh ada satu rahasia pun di antara kami!" seru mas Samuel membela ku.
"Diam lah Sam, aku tidak punya banyak waktu. Cepat berikan ponselnya pada istrimu!" ucap Puspa terkesan sangat terburu-buru.
"Jika kamu akan memarahinya, tidak akan ku berikan!" tegas mas Samuel membuatku menghela nafas lega.
"Siapa yang akan marah padanya, aku benar-benar tidak punya banyak waktu lagi. Sebentar lagi ponsel ku akan di sita oleh ibuku, cepat berikan ponsel mu pada Naira!" seru Puspa dan kali ini dia terdengar cemas.
Aku lihat mas Samuel masih ragu, tapi aku langsung menepuk bahu mas Samuel pelan dan meminta ponselnya untuk di berikan padaku.
"Sini mas!" ucap ku.
Mas Samuel melihat ke arah ponsel kemudian ke arahku. Dia masih ragu, mungkin dia masih mengira kalau Puspa akan marah padaku karena telah menceritakan rahasianya pada mas Samuel. Tapi menurut ku memang ada yang ingin di sampaikan oleh Puspa padaku, dan aku yakin dari nada suara nya yang terdengar begitu cemas, sesuatu hal itu pasti adalah hal yang penting.
"Sayang, kalau dia berani marah padamu. Aku akan tutup butiknya!" ucap mas Samuel membuat ku menggelengkan kepala tak habis pikir.
"Puspa, katakan ada apa?" tanya ku yang sudah tahu kalau Puspa sangat terburu-buru.
"Nai, aku mau minta tolong padamu. Ibu ku akan mengadakan pesta ulang tahun untuk ku, aku yakin sebentar lagi kamu dan Samuel juga akan mendapatkan undangan nya, tapi Naira di pesta ulang tahun itu ibuku juga akan mengadakan pesta pertunangan untukku dan Jonathan...!"
"Hei sudah ku bilang kan, Riksa itu mencintai mu kenapa malah mau bertunangan dengan pria lain?" tanya mas Samuel menyela apa yang di katakan oleh Puspa.
"Astaga Sam, kamu bisa diam dulu tidak. Karena itu aku butuh bantuan Naira. Naira katakan pada Riksa kalau semua yang akan dia saksikan di pesta ulang tahun nanti bukan seperti yang dia pikirkan, aku akan menjelaskan nya nanti, dan katakan padanya kalau jangan bertindak yang tidak-tidak, maksudku tolong terus bersamanya agar dia tidak marah saat aku bertunangan nanti, aku khawatir Riksa akan salah paham...!"
"Puspa, sudah waktunya!" teriak seorang wanita di belakang Puspa sepertinya.
"Iya Bu, sebentar. Ini aku sedang menelpon Naira, istrinya Samuel. Aku minta agar dia datang...!"
"Benarkah, coba ibu bicara padanya!"
__ADS_1
"Halo!"
"Halo, selamat siang!" ucap ku sopan.
Mas Samuel mengernyitkan dahinya makin bingung saja, sebenarnya aku juga. Tapi aku tahu kalau Puspa sengaja menghubungi ku untuk mengatakan ini pada Riksa.
"Halo, kamu istrinya Samuel ya. Selamat ya, Tante tidak bisa datang saat pernikahan kalian, karena ayahnya Puspa sangat sibuk dan pekerjaan nya sedang mengalami masalah saat itu!" jelas ibunya Puspa.
"Iya Tante tidak apa-apa, dan terima kasih!" ucap ku.
"Maaf ya, Tante tutup teleponnya. Puspa harus bertunangan, dan Tante tidak mau sampai pikirannya berubah lagi. Selamat siang Naira!" ucap ibunya Puspa.
"Selamat siang Tante!" jawab ku dan setelah itu panggilan telepon pun di putuskan dari seberang sana.
"Sayang apa kamu mengerti dengan yang dia katakan barusan?" tanya mas Samuel yang sepertinya masih berpikir.
Aku langsung mengangguk.
"Aku tahu mas, Riksa dan Puspa seperti nya sudah menjadi sepasang kekasih!" jawab ku sambil mengembangkan senyum lebar pada mas Samuel.
Jujur saja aku sangat senang mendengar kabar ini.
"Kenapa dia malah akan bertunangan dengan orang lain?" tanya mas Samuel.
Aku diam dan berpikir, pasti Puspa punya masalah yang rumit sampai dia harus bertunangan dengan orang lain.
"Aku tidak tahu, tapi yang pasti dari apa yang dia katakan tadi. Dia memintaku untuk berada di samping Riksa saat pesta ulang tahunnya, agar Riksa tidak sampai...!"
"Sayang, apa-apaan itu, kamu istriku kenapa harus dekat-dekat dengan Riksa. Lebih baik aku ikat dia di apartemen nya agar tidak perlu datang ke pesta ulang tahun Puspa." ucap mas Samuel yang membuat ku menepuk dahi.
Sungguh solusi yang luar biasa.
***
__ADS_1
Bersambung...