Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
236


__ADS_3

Para warga sudah bersiap mendekati Riksa untuk kemudian membawanya ke kantor polisi. Namun tiba-tiba Wika berdiri dan meminta agar para warga mendengarkan nya.


"Bapak-bapak, ibu-ibu tolong jangan bawa Pak Riksa ke kantor polisi. Saya ini orang susah, tinggal di sini sendirian untuk merubah nasib, saya bekerja keras dari pagi sampai malam untuk mengirimkan uang ke kampung untuk kedua orang tua saya!" ucap Wika dengan ekspresi wajah yang begitu sedih sehingga setiap orang yang melihatnya akan merasa kasihan.


Ada beberapa ibu-ibu yang matanya bahkan sampai berkaca-kaca ketika mendengarkan cerita dari Wika.


"Ayah saya sudah tua dan sakit-sakitan di kampung, bagaimana kalau ayah saya sampai mendengar kabar ini hiks hiks hiks!" Wika menangis dan memeluk salah seorang wanita baru bayar yang sejak tadi mengusap punggungnya dengan lembut mencoba menenangkannya.


"Ya Allah, kasihan amat kamu neng Wika!" ucap ibu itu sambil mengusap punggung Wika lagi.


Riksa yang melihat kejadian itu benar-benar sudah tidak tahan lagi dan sangat merasa geram. Tapi dia masih terus berusaha bersabar karena dia masih menunggu Dika. Apapun yang dia katakan, dia sadar akan dikalahkan oleh emosi para warga. Hingga kalau Dika dan dokter yang dia bawa belum datang apapun yang dia katakan tidak akan pernah didengar oleh para warga.


"Jadi Wika maunya gimana?" tanya Bu RT yang sepertinya menangkap maksud dari apa yang kita katakan.


Wika langsung menarik dirinya dari pelukan sang Ibu paruh baya, kemudian menundukkan kepalanya menghadap ke arah pak RT dan Bu RT.


"Wika cuma mau pak Riksa tanggung jawab dan menikahi Wika!" ucap Wika membuat Riksa langsung mengeraskan rahangnya.


Riksa mengepalkan tangannya dan sontak berdiri dengan cepat.


"Sudah ku duga! ini yang kamu mau. Wanita licik!" maki Riksa.


Riksa sudah sangat marah hingga dia memaki Wika, padahal sebelumnya apapun kesalahan yang dilakukan oleh asisten pribadinya itu Riksa tidak akan pernah berkata kasar kepadanya.


Para warga yang mendengar malah ikut emosi.


"Sudah bagus gak di bawa ke kantor polisi, sudah bagus Wika cuma minta dia tanggung jawab. Malah marah-marah, bikin emosi aja nih orang!" pekik salah seorang ibu muda yang berdiri di belakang Wika sambil menggulung lengan bajunya.


"Saya tidak mau menikahi wanita licik seperti dia, lebih baik laporkan saja ke polisi....!"


Belum selesai Riksa bicara, Dika dan seorang dokter terlihat berlari masuk ke arah kerumunan warga di rumah pak RT.

__ADS_1


"Bos!" panggil Dika pada Riksa.


Wajah Wika langsung menghitam, dia benar-benar ketakutan. Dia tidak menyangka kalau Riksa datang bersama dengan Dika, rekan kerjanya.


'Aduh, habislah aku. Habislah aku!' batin Wika sangat ketakutan.


"Siapa kamu?" tanya pak RT pada Dika.


"Saya Dika, asisten pribadi pak Riksa, sama seperti Wika. Ada apa ini?" tanya Dika kebingungan.


Riksa langsung berdiri dan meraih ponselnya dari dalam kantong celananya. Dia memperdengarkan sebuah rekaman yang berisi percakapan antara dirinya dan Wika yang tadi sengaja dia rekam karena merasa kalau tingkah laku Wika selama beberapa minggu ini memang aneh.


Para warga terkejut mendengarkan rekaman itu, mereka saling pandang dan bergumam satu sama lain. Wika menggigit kuku jarinya karena merasa panik.


"Tapi kenapa neng Wika bisa begini keadaan nya?" tanya ibu paruh baya yang sejak tadi duduk di sebelah Wika.


"Saya tidak tahu!" kata Riksa yang masih ingin menyembunyikan perbuatan tidak tahu malu Wika.


Para warga menjadi bingung sendiri. Terlebih lagi setelah mendengarkan penjelasan Dika kalau memang dirinya pergi mencari dokter karena Wika bilang dia sakit.


"Mana yang bener ini?" tanya pria gondrong yang sejak tadi membela Wika dan sangat bersemangat mencemooh Riksa.


"Tenang... tenang... apa saudara Riksa punya saksi lain?" tanya pak RT.


Riksa berpikir, tadi memang ada beberapa anak yang melihatnya di depan pintu dan tidak masuk ke dalam. Tapi dia pikir, siapa yang akan mendengarkan kesaksian anak-anak.


"Tidak ada pak RT, tapi teknologi sekarang kan sudah canggih. Kalau memang saya melakukan sesuatu yang tidak benar, maka pasti akan bisa di buktikan lewat visum...!"


Merasa sudah tidak ada jalan lain, Wika langsung berdiri dan bersimpuh di depan Riksa.


"Riksa, aku hanya sangat menyukai mu. Apakah aku salah karena telah jatuh hati padamu!" lirih Wika membuat semua mata memandangnya tak percaya.

__ADS_1


"Astagfirullah, neng Wika.. ibu mah gak nyangka. Neng Wika bisa berbuat seperti itu!" ujar ibu yang dari tadi menenangkan Wika.


Ibu itu sudah paham kalau sebenarnya Wika hanya berpura-pura untuk mendapatkan Riksa, agar Riksa menikahinya.


Para warga langsung bersorak, mereka yang tadinya begitu bersemangat membela Wika dan begitu bersemangat ingin memukuli Riksa. Kini berbalik menyoraki Wika dan mengatakan hal yang tidak tidak padanya.


Riksa hanya diam mendengar hinaan para warga pada Riksa. Karena situasi sudah semakin tidak kondusif akhirnya pak RT meminta para hansip untuk membubarkan warga.


"Ih, aturan saya mah udah berangkat dagang cilok. Di bela-belain, gak tahunya ngebelain orang yang salah!" gerutu pria berambut gondrong tadi.


Setelah para warga bubar, bu RT langsung membantu Wika berdiri dan kembali duduk di kursinya.


"Neng Wika, neng Wika sadar gak kalau perbuatan yang Wika ini salah besar. Coba kalau tadi nggak ada pak hansip dan Pak RT, bisa-bisa pak Riksa itu di keroyok sama warga!" ucap Bu RT menasehati Wika.


Wika hanya bisa tertunduk dan menangis. Dika yang sudah bekerja selama beberapa tahun dengan Wika, merasa sangat tidak percaya dengan apa yang akan kerjanya itu lakukan pada atasannya sendiri.


Pak RT dan Bu RT akhirnya minta maaf pada Riksa, dan memintanya memutuskan cara penyelesaian masalah ini. Riksa meminta dokumen yang dia butuhkan, lalu meminta Dika untuk mengurus Wika. Karena apa yang telah terjadi hari ini, tidak mungkin lagi bagi Wika tinggal di tempat nya sekarang ini lagi.


Riksa meminta agar Dika memberikan pesangon dan juga mengantar Wika sampai di stasiun agar dia kembali saja ke kampung halaman nya.


Riksa pun kembali ke kantor, dia sangat lelah hari ini. Sampai-sampai dia tidak menyadari kalau sudah ada puluhan panggilan tidak terjawab dan juga belasan pesan dari Samuel.


Riksa menepuk jidatnya saat sudah duduk di kursi kebanggaan di ruang kerjanya.


"Huh, potong gaji lagi ini pasti!" gumam Riksa.


Author POV end


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2