Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
103


__ADS_3

Beberapa menit kemudian aku sudah selesai membereskan kekacauan yang dibuat oleh Nita. Aku mengembalikan semua peralatan bersih-bersih. Lalu bertanya pada pelayan berapa yang harus ku bayar untuk semua kekacauan ini.


"Restoran milik tuan Samuel nyonya, jadi anda tidak perlu membayar nya!" jawab pelayan itu masih tetap tersenyum dengan ramah.


Aku mengernyitkan dahi ku.


'Jadi ini restoran si lidah tajam itu!' gumam ku dalam hati.


Aku menghela nafas ku panjang, sudah beberapa hari aku tidak mengeluarkan julukan itu pada Samuel, ku kira dia sudah berubah. Tapi ternyata dugaan ku itu salah, sangat sangat salah. Pria itu tetaplah pria yang sangat arogan dan sombong, bersikap dan berkata semaunya tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Karena tidak perlu membayar, aku pun akhirnya memilih untuk membersihkan sepatu dan juga rok ku yang terkena cipratan jus jeruk saat Nita membanting gelas itu ke lantai.


Di dalam kamar mandi yang berada dekat dengan restoran, aku mulai membasuh sepatu ku dan menyekanya dengan tissue juga kaki ku dan bagian bawah rok ku. Sambil membersihkan bagian bawah rok ku, aku mendengar ada dua wanita yang sedang merapikan make up mereka di depan cermin besar di toilet ini, mereka berdua berada di sampingku hingga aku mau tidak mau bisa mendengarkan mereka.


"Tahu gak sih, tadi tuh aku lihat pak Samuel mangku si brand ambassador yang genit itu!" ujar wanita yang memakai blazer berwarna hitam dengan rambut yang di ikat kebelakang dengan rapi.


"Hah, masa' sih. Padahal kan pak Samuel baru aja nikah. Masa' udah pangku-pangkuan aja sama si genit itu!" sahut perempuan yang lain yang dia ajak bicara. Perempuan dengan rambut ikal dan setelan baju kerja berwarna biru tua dengan bawahan celana panjang.


"Yah namanya juga orang kaya...!"


"Tapi kan harusnya gak gitu, aku lihat kok fotonya di majalah. Istri pak Samuel tuh cantik juga kok, mereka itu sebenarnya bisa di bilang pasangan serasi!" sela wanita uang berambut ikal itu.


Aku terdiam mendengar apa yang wanita berambut ikal itu katakan, mendengar ucapannya entah kenapa aku jadi agak merasa senang. Setidaknya ada orang yang merasa kalau aku ini tidak buruk-buruk amat kan kalau di sandingkan dengan Samuel. Aku malah ingin terkekeh, tapi kemudian aku melihat ke arah cermin.


Dan dalam sekejap, kebahagiaan kecil ku itu berubah.


'Naira, sadar! kamu siapa? kamu menikah hanya supaya tidak masuk penjara kan?' tanya ku dalam hati.


Aku menundukkan kepalaku, sejenak aku merasa kalau diriku ini benar-benar istrinya Samuel. Tapi untung aku segera sadar kalau aku ini hanya istri kontrak nya saja.


Dua orang wanita itu sudah keluar dari toilet, aku masih mengeringkan rok ku yang lumayan basah. Ternyata tidak semudah itu menghilangkan noda bekas jus jeruk.


"Ck... aku rasa aku harus beli beberapa baju kerja lagi!" gumam ku lalu memutuskan untuk keluar dari toilet dan kembali ke ruangan ku.


Setelah sampai di ruangan ku, Samuel sedang memegang ponsel ku di tangannya dan terlihat mengetik sesuatu di sana.

__ADS_1


"Mas..!" panggil ku pelan.


Membuat Samuel langsung berbalik ke arah ku dan memberikan ponsel ku padaku.


"Aku memasukkan nomer ibu ku, dia tadi menelpon. Dia menunggu mu di rumah. Sekarang kami pulang, pak Urip akan mengantar mu!" ucap Samuel dengan wajah yang datar dan dengan suara yang terdengar sangat acuh.


Aku langsung mengangguk paham dan langsung meraih tas ku, lalu melangkah ke arah pintu.


"Hei, apa kamu tidak punya sopan santun?" tanyanya sambil membentak ku.


Aku bahkan sampai hampir terjingkat karena terkejut dengan suara super nada tinggi yang di keluarkan Samuel. Jantung ku bahkan berdetak kencang karena kaget.


Aku langsung berbalik, jujur saja aku tidak mengerti apa yang di maksud oleh Samuel. Aku melihat ke arahnya, tapi dia terlihat sangat garang. Mata dan wajahnya memerah, kedua tangannya di letakkan di kedua pinggang nya.


Aku ragu untuk bertanya, tapi kalau tidak bertanya aku tidak mengerti maksud Samuel.


"Maaf mas, tapi apa ada yang salah?" tanya ku gugup sangat berhati-hati.


"Ck... Kemari!" dia berdecak dan melambaikan tangannya acuh padaku memintaku menghampiri nya.


"Apa cara mu pergi ini benar?" tanya Samuel lagi.


Aku masih terus berfikir, tapi dalam kondisi takut dan panik begini mana bisa aku berfikir. Aku langsung menggelengkan kepalaku perlahan, berharap apa yang kulakukan ini benar.


"Lalu?" tanya nya lagi.


Aku melihat ke arah Samuel, aku mulai mengerti. Mungkin maksud Samuel adalah caraku berpamitan padanya. Dengan ragu kuangkat tangan ku dan ku arahkan padanya, tapi dia malah terlihat bingung.


"Apa ini?" tanya nya sambil memukul telapak tangan ku yang ku arahkan padanya.


"Aku sudah menyuruh pak Urip mengantar mu, jangan membuat ku malu dengan pulang dan bertemu ibu ku menggunakan taksi!" kesal nya.


Aku yang bingung sekarang.


"Taksi?" tanya ku bingung.

__ADS_1


"Iya, kami sedang minta ongkos taksi padaku kan?" tanya nya dengan ekspresi wajah dingin.


Aku langsung menggelengkan kepala ku dengan cepat.


"Bukan mas, aku bukan minta uang. Aku ingin menyalimi tangan mu!" jelas ku.


Samuel terlihat terkesiap, dan dia pun cukup lama diam sambil terus melihat ke arah tangan ku yang belum aku turunkan. Tapi sedetik kemudian dia memberikan tangannya dan aku mencium punggung tangan nya itu.


"Mas, aku pulang dulu ya! sampai ketemu di rumah!" ucap ku sambil mencium punggung tangan Samuel.


Aku melepaskan tangan Samuel, aku melihat ke arahnya tapi sepertinya dia tidak bereaksi apa-apa. Tidak mau membuatnya marah lagi aku segera berjalan dengan cepat ke arah pintu lalu keluar dari ruangan itu.


"Fiuhh...!" aku menghembuskan nafas sangat lega. Aku bahkan mengelus dadaku karena merasa begitu senang bisa keluar dari ruangan itu.


Aku langsung berjalan menuju ke arah lift, begitu lift terbuka aku masuk ke dalamnya menuju lantai paling bawah. Setelah keluar dari lift, ternyata pak Urip sudah menunggu di depan pintu lift.


"Selamat siang nyonya muda, silahkan!" sapa pak Urip sopan lalu mempersilahkan aku berjalan mendekat ke arah mobil.


Pak Urip membukakan pintu mobil untukku, aku masuk ke dalam mobil dan setelah itu pak Urip melajukan mobil menuju ke rumah Samuel.


Setelah beberapa saat perjalanan menuju rumah, jalanan tiba-tiba macet. Rupanya ada demonstrasi.


"Nyonya, seperti nya di depan ada demo. Kita harus berjalan dengan kecepatan yang sangat pelan!" ucap pak Urip.


"Tidak apa-apa pak Urip!" jawab ku.


Tapi setelah beberapa saat, aku merasa sangat lapar. Dan kebetulan aku melihat ada sebuah gerai ayam goreng di tepi jalan.


"Pak Urip, aku mau beli ayam itu dulu ya. Terus saja sambil menjalankan mobilnya pak!" ucap ku pada pak Urip.


Aku lalu turun dari dalam mobil dan segera berjalan menuju gerai ayam goreng yang baru mendekati tempatnya saja, aroma ayam goreng sudah membuat ku semakin lapar.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2