
Setelah Samuel memberikan tanda tangannya di dokumen pertanggungjawaban tindakan operasi. Dokter dan juga perawat yang tadi menghampiri Samuel dan Riksa kembali ke ruang ICU untuk melakukan tindakan operasi secepatnya kepada wanita itu. Meski belum ada yang mengenalnya dan belum tahu siapa namanya tapi tindakan harus tetap dilakukan untuk menyelamatkan nyawa wanita tersebut, terlambat beberapa detik saja akan berakibat fatal.
Beberapa saat kemudian dokter dari ruangan ICU di mana tindakan medis sedang dilakukan pada Adam keluar bersama beberapa orang yang telah mendorong stretcher dimana Adam masih berada di atasnya dengan kondisi belum sadarkan diri. Dengan selang infus di tangan sebelah kiri dan tangan kanan yang di balut perban juga kaki kanan yang di balut perban sangat tebal.
Samuel yang melihat sang adik sudah keluar dari ruang ICU segera berlari menghampiri Adam.
"Dokter bagaimana adik saya? bagaimana dengan kondisi Adam, dokter?" tanya Samuel dengan sangat cepat sambil sesekali melihat ke arah Adam yang masih belum sadarkan diri.
"Pasien sudah melewati masa kritis, tapi luka parah di tangan kanan dan kaki kanannya membuat pasien sementara tidak bisa menggunakan tangan dan kakinya itu untuk banyak bergerak. Tidak patah, hanya saja lukanya cukup parah, beberapa saraf di bagian tersebut mengalami kejang sehingga butuh waktu untuk kembali normal seperti sedia kala. Luka di kepalanya juga masih harus beberapa kali lagi kami observasi, untuk memastikan tidak ada cedera serius di kepala pasien. Sekarang pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat namun saya harap untuk para keluarganya memberi pasien waktu untuk istirahat, jangan mengganggunya dengan berada di dalam ruangan atau bercakap-cakap di dekat pasien. Karena sebenarnya kondisi pasien tersebut masih bisa mendengarkan apapun yang terjadi di luar, karena tadi di tempat merespon saat kami berbicara di ruang operasi dengan menggerakkan jarinya, jadi saya berharap kepada keluarga pasien agar memberinya waktu untuk istirahat sampai 4 atau 5 jam ke depan. Permisi!" jelas dokter itu panjang lebar kepada Samuel dan riksa yang memperhatikannya dengan serius.
"Terimakasih dokter!" ucap Riksa.
Dan Samuel hanya terus memandangi brankar dorong Adam dengan mata yang sayu dan begitu sedih.
"Syukurlah, ya Tuhan!" ucap Samuel lalu mengusap wajahnya kasar.
Sekarang setidaknya dia bisa bernapas dengan lega meskipun ada yang belum sadarkan diri tapi dari penjelasan Dokter tadi sepertinya kondisi Adam baik-baik saja.
Riksa juga langsung menepuk bahu Samuel.
"Ayo kita ke sana!" ajak Riksa.
Dan akhirnya Samuel dan Riksa pun mengikuti para perawat yang membawa Adam ke kamar rawat nya. Sampai di kamar rawat, para perawat merapikan semuanya, peralatan medis dan serba-serbi yang ada di dalam kamar rawat tersebut yang berhubungan dengan pasien dan kenyamanan pasien.
Setelah selesai para perawat itu pun pergi dan meninggalkan Samuel dan Riksa yang duduk di sofa sambil memperhatikan Adam yang berada di tempat tidur pasien.
__ADS_1
Beberapa lama mereka hanya saling pandang dan terdiam, kemudian Samuel dan Riksa sama-sama menoleh ke arah pintu karena mendengar suara seseorang yang sangat familiar bagi mereka.
"Adam, ya Tuhan!" teriak histeris Stella membuat Samuel langsung berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri ibu kandungnya tersebut.
"Ibu, tenang. Dokter bilang Adam baik-baik saja. Adam butuh istirahat. Tenang ibu!" ucap Samuel sambil sesekali mengecilkan suaranya agar sang ibu mengerti kalau memang dirinya tidak boleh ribut di dalam ruangan tersebut karena ada memang butuh istirahat.
"Dia baik-baik saja?" tanya Stella lalu melewati Samuel begitu saja seakan tidak mengindahkan apapun yang sampai katakan tadi kepadanya.
Stella berada di sisi sebelah kanan tempat tidur Adam dan melebarkan matanya menghadap ke arah Samuel.
"Kamu lihat ini... ini... lihat ini!" seru Stella sambil menunjuk satu persatu ke arah tangan kemudian bergantian lagi ke arah kaki lalu Stella penunjuk arah kepala Adam.
"Apanya yang baik-baik saja?" tanya Stella dengan ada suara yang tidak keras namun penuh penekanan sehingga membuat Samuel dan juga bisa sama-sama mengusap wajah mereka gusar.
Riksa yang merasa tantenya itu tidak mendengarkan apa yang dikatakan Samuel pun berinisiatif untuk menjelaskannya. Riksa berdiri dari tempat duduknya lalu menghampiri tante nya itu.
"Tante, kata dokter Adam sudah melewati masa kritis dan sekarang hanya tinggal menunggu pemulihan. Tapi dokter juga bilang kalau saat ini Adam sangat butuh istirahat dan kita semua harus tenang di dalam ruangan ini!" jelas Riksa dengan bahasa yang berbeda namun tujuannya sama mengatakan kalau Stella harus tenang.
Stella menghela nafasnya panjang.
"Ck... apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Stella yang terlihat begitu sedih melihat keadaan Adam yang seperti ini.
"Adam!" seru Damar yang datang bersama dengan kakek Virendra.
Semua mata langsung terarah ke pintu masuk kamar rawat Adam. Dimana setelah Damar dan kakek Virendra juga datang Naira dan Puspa di belakang mereka. Juga ada Adi dan satu orang sekertaris nya selaku pengacara keluarga Virendra.
__ADS_1
Samuel langsung menghampiri Naira.
"Sayang, kenapa tidak di rumah saja?" tanya Samuel yang cemas pada keadaan Naira yang sedang hamil.
"Aku sangat cemas mas, percuma aku di rumah. Yang ada aku akan semakin cemas. Bagaimana Adam?" tanya Naira pada Samuel.
Sebelum Samuel menjawab pertanyaan Naira, Adi sudah terlebih dahulu menghampiri nya.
"Bos, kami sudah berhasil menyelidiki siapa wanita yang mobilnya bertabrakan dengan mobil Adam!" ucap Adi yang memang bicara dengan nada tegas jadi semua orang yang ada di ruangan itu pun bisa mendengarkan apa yang dikatakan.
"Apa?" tanya Stella memekik.
"Bertabrakan, itu artinya ada korban lain. Ya Tuhan, Adam!" lirih Stella yang langsung di rangkul oleh Damar.
"Maaf nyonya, tapi dari kondisi mobil mereka dan penyelidikan polisi, semua bukti mengarah kalau Adam lah yang menabrak mobil wanita itu. Dan wanita itu adalah putri tunggal keluarga Rahardja. Vina Rahardja!" jelas Adi, pengacara keluarga Virendra.
Samuel dan Riksa saling pandang, kalau keluarga Virendra adalah yang terkaya nomer empat di kota ini. Maka keluarga Rahardja adalah yang nomer tiga.
Damar bahkan menghela nafasnya berat.
"Tapi kurasa keluarga Rahardja belum tahu apa yang terjadi pada putri mereka karena memang mereka masih di luar negeri, tapi tadi di kantor polisi sempat ada seseorang yang mengaku kekasih wanita itu, dan saat ini dia sedang mengajukan tuntutan kepada Adam!" jelas Adi yang langsung membuat wajah semua orang di dalam ruangan itu menjadi pucat.
***
Bersambung...
__ADS_1