
Aku membuka pintu ruang kerja Samuel. Dan ketika aku masuk, benar saja! Samuel tidak ada di ruangan kerjanya. Aku menghela nafasku panjang, dan berjalan ke arah ruang istirahat Samuel.
Aku dorong pintu yang motif dan cat nya sama seperti dinding yang lain itu perlahan. Dan Samuel sudah duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan ke belakang sebagi tumpuan dan kepalanya menunduk.
Menyadari aku masuk ke dalam ruangan itu, dia mengangkat kepalanya dan berkata.
"Kunci pintu itu!" perintah nya.
Aku berbalik dan menghembuskan nafasku kasar.
'Huh, benarkan!' gumam ku dalam hati.
Setelah mengunci pintu seperti yang diperintahkan oleh Samuel, aku kembali berbalik dan melihat ke arah Samuel lagi.
"Apa aku masih harus memberitahu mu apa yang harus kamu lakukan?" tanya nya padaku.
Wajah ku memanas saat dia mengatakan kalimat itu, aku berjalan mendekatinya dan duduk di pangkuannya.
"Sudah pintar rupanya, kamu tahu apa salah mu tidak?" tanya Samuel.
Aku menatap Samuel dan mengangguk kan kepalaku perlahan.
"Iya mas, aku tahu. Aku minta maaf!" ucap ku pelan.
"Sebutkan apa kesalahan mu!" perintah Samuel lagi.
"Aku sudah berani bicara pada Kenzo tanpa kamu suruh, aku juga sudah menyuapi mu makan!" ucapku gemetar sambil menunduk kan kepala ku. Aku tak berani melihatnya.
Bagaimana tidak gemetar, terakhir kali aku membuatnya marah. Dia menghukum ku dan membuatku tak bisa bangun dari tempat tidur bahkan pinggang ku rasanya remuk.
Aku kembali mengangkat kepala ku dan melihat ke arah Samuel.
"Mas, tapi jangan di tambah lagi hutang ku ya. Tabungan ku saja sudah menipis, mas juga belum berikan uang bulanan itu, padahal kita sudah hampir sebulan menikah... empth!" aku belum menyelesaikan apa yang ingin aku katakan ketika Samuel membungkam ku dengan ciumannya.
Deg
Tapi kali ini aku merasakan hal yang berbeda, Samuel tidak kasar. Ciuman nya sangat lembut bahkan tangannya tidak menekan kepala bagian belakang ku seperti biasanya. Dia melepaskan bibirnya dan menyeka bibir ku yang basah dengan jari jempol kanannya.
"Uang bulanan untuk mu akan segera aku kirim, dan karena hari ini kamu membantu ku membungkam mulut tuan muda Hasigawa itu, aku akan mengurangi hutang mu!" ucap Samuel.
Aku terkejut, tapi rasa terkejut senang. Aku yang masih mengatur nafas ku bertanya pada Samuel.
"Benarkah? jadi tinggal berapa hutang ku pada mas?" tanya ku antusias.
__ADS_1
"Hutang mu kan 800 juta..."
'Hah, sejak kapan bertambah lagi, bukannya kemarin masih 700 juta?' tanya ku dalam hati.
Tapi aku masih menyimak apa yang ingin di katakan oleh Samuel selanjutnya.
"Jadi akan ku kurangi menjadi 750 juta!" jawab nya.
Aku masih mengerutkan keningku, perasaan terakhir kali dia bilang hutang ku 700 juta, kenapa sepertinya aku ini sedang di bodoh ya. Kalau jadi 750 juta, itu sih bukan berkurang tapi bertambah.
Ketika aku tengah berfikir, tangan kanan Samuel yang awalnya menyentuh bibir ku, kini sudah beralih ke arah perut dan bergerak ke belakang mengarah pada resleting mini dress yang aku pakai.
"Em... mas! jangan di sobek ya. Aku suka baju ini!" ucap ku perlahan.
Samuel lalu menarik tangannya, dan berkata.
"Kalau begitu buka sendiri!" ucapnya.
Blush
***
Satu jam kemudian...
Aku langsung mengambil baju ku dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu. Setelah membersihkan diri dan berganti baju. Aku keluar dari dalam kamar mandi. Dan melihat Samuel sedang duduk dengan selimut yang masih menutupi area pinggang ke bawah.
"Mas, aku pulang ya!" ucap ku pada Samuel setelah merapikan rambut ku.
"Tunggu Naira, apa Dina sudah bilang padamu kalau kita akan pergi ke Bali?" tanya Samuel.
Aku mengangguk cepat.
"Iya mas, sudah" jawab ku.
"Baguslah, bereskan barang-barang kita. Nanti malam kita akan berangkat!" seru Samuel.
"Nanti malam?" tanya ku.
Aku terkejut, salah ku juga tadi tidak bertanya pada Dina kapan kami akan berangkat. Padahal kan aku masih mau bertemu dengan Puspa dulu untuk meminta tolong padanya mengajari ku bersikap elegan.
"Ada apa?" tanya Samuel dengan tatapan penasaran.
"Em, mas tapi aku tidak tahu harus bagaimana di sana nanti. Aku pikir aku akan belajar pada Puspa dulu, tapi kalau berangkatnya nanti malam. Tidak akan sempat!" jelas ku berhati-hati.
__ADS_1
Tapi Samuel malah terkekeh mendengar apa yang aku katakan. Aku menatap bingung ke arahnya. Kemudian, dia mengambil celana pendeknya dan memakannya lalu berjalan mendekatiku.
Dia menangkap kedua pipiku dan membuat ku menatap ke arahnya.
"Memangnya apa yang mau kamu pelajari, kamu adalah nyonya Samuel Virendra. Apapun yang kamu lakukan meskipun itu sebuah kesalahan, tidak akan ada yang berani protes dan menegur mu!" ucap Samuel.
Deg deg deg
Jantung ku berdetak kencang karena apa yang aku dengar dari mulut Samuel. Kata-kata nya seolah dia benar-benar menganggap ku dan memberikan status nyonya Virendra secara penuh.
"Aku akan minta pak Urip mengantar mu pulang!" ucapnya lalu meraih ponsel yang ada di atas meja.
Aku melangkah keluar, dengan perasaan yang campur aduk. Tapi aku rasa dia memang seperti itu, kadang baik dan kadang jahat.
Setelah membuka pintu ruang kerja Samuel aku mengangkat bahu ku sekilas.
"Sudahlah, jalani saja. Yang terjadi, terjadilah!" gumam ku lalu pergi meninggalkan lantai 22 dan masuk ke dalam lift.
Ting
Pintu lift terbuka, dan aku sudah sampai di lantai 1. Aku langsung berjalan ke arah lobi perusahaan dan menuju pintu keluar. Tapi aku belum melihat mobil yang biasa di kemudikan oleh pak Urip.
Aku berdiri dan menunggu di dekat tangga yang menuju ke pintu masuk. Ketika aku melihat mobil Samuel yang biasa di kemudikan oleh pak Urip. Aku langsung menghampiri nya, karena ada dua mobil lain di depannya.
Aku bermaksud tak ingin membuang waktu lebih lama, tapi ketika aku menyebrang. Tiba-tiba saja aku mendengar suara teriakan beberapa orang
"Awasss, minggir!"
Dan suara mesin mobil yang melaju cepat. Aku terkejut melihat sebuah mobil hitam bergerak dengan cepat ke arahku, lutut ku mendadak lemas dan aku bahkan tidak bisa mengeluarkan suaraku.
Brukk
Wusshh
Aku membuka mataku perlahan karena merasakan kaki dan tanganku sakit. Aku membuka mataku perlahan, melihat ke arah mobil yang melaju dengan kencang yang tadi hampir saja menabrak ku kalau saja seseorang tidak mendorongku di saat yang tepat.
"Kamu tidak apa-apa?" sebuah suara yang ku yakini sebagai orang yang telah menyelamatkan aku.
Aku menoleh ke arah belakang.
"Kenzo!" ucapku sambil melihat ke arah tangannya yang terulur bermaksud membantu ku berdiri.
***
__ADS_1
Bersambung...