Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
25


__ADS_3

Riksa malah terkekeh mendengarkan pertanyaan ku. Senyumannya begitu teduh. Setidaknya karena senyuman nya itu, lutut dan pinggangku yang pegal jadi sedikit berkurang.


Tapi aku heran, kenapa aku di bawa kemari. Untuk apa aku melihat gedungnya. Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul di kepalaku. Daripada aku penasaran, aku menghentikan langkahku yang mengikuti langkah Riksa ke arah dalam gedung.


"Riksa sebentar!" ucap ku memanggil Riksa


Dan tentu saja lelaki baik itu juga segera menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ku.


"Ada apa? kamu mau ke toilet?" tanya nya menerka apa yang ingin aku lakukan sehingga memanggil dirinya.


Aku segera menggelengkan kepalaku.


"Tidak, hanya saja kenapa juga aku harus melihat gedungnya? kalian tidak memerlukan pendapat ku kan? aduh kalau masalah gedung aku benar-benar tidak mengerti, jangan tanya pendapat ku. Bisa-bisa bos mu itu...!"


Riksa malah berjalan mendekatiku dan meletakkan jari telunjuknya ke depan mulutnya sendiri.


"Sssttt..!" serunya meminta ku untuk diam. Dan dengan refleks seperti mendapat sugesti yang harus aku patuhi. Aku pun terdiam.


"Kenapa kamu bisa berfikir begitu, kamu adalah calon mempelai wanita nya, jadi kenapa mengatakan kami tidak memerlukan pendapat darimu? pendapat darimu sama pentingnya dengan pendapat bos, ini adalah pernikahan kalian berdua!" jelas Riksa. Dan entah kenapa aku jadi ingin memanggilnya paman. Menurut ku dia terlalu dewasa.


Aku hanya terdiam, aku bingung mau jawab atau berkata apa. Apa yang di katakan Riksa seolah membuat ku merasa aku ini penting, dan tidak seperti apa yang di katakan oleh si lidah tajam yang selalu bilang, yang aku harus lakukan hanya menuruti semua perintahnya.


Riksa menyodorkan sikunya, memberikan isyarat agar aku meyambutnya dan menggandengnya.


"Ayo kita masuk, semakin lama kita disini maka semakin lama pula kamu akan mendapatkan makan siang mu! dan aku tidak mau semua penghuni di dalam perut mu berdemo seperti tadi pagi!" serunya.

__ADS_1


Dan aku yakin kalau pipi ku saat ini pasti memerah alami, kalau saja sisa blush on dari make up di butik tadi tidak ada. Aku tersipu, dan segera mengikuti Riksa. Kami masuk ke dalam gedung yang bahkan sedang di tata, di cat, dan di dekorasi oleh banyak sekali pekerja.


Begitu kami masuk, Riksa melepaskan tangan ku.


"Ini gedungnya, nanti saat kamu turun dari dalam mobil di luar tadi, lalu menaiki tangga yang tadi kita lewati. Maka akan ada karpet merah dari ujung tangga itu ke pelaminan. Kamu akan berjalan bersama dengan ayah dan ibu mu, juga aku dan adikmu ke arah sana!" jelas Riksa sambil menunjuk ke arah panggung yang lumayan tinggi dengan tangga di sisi kanan dan kiri.


Sama seperti pelaminan pada umumnya, tapi yang membuat kepalaku sedikit pusing dan mataku berputar adalah jarak dari pintu utama gedung ini ke pelaminan itu. Jaraknya lumayan jauh, gedung ini terlalu luas. Dan aku harus berjalan dengan gaun dan sepatu yang tadi kupakai di butik. Membayangkannya saja kepalaku rasanya jadi pusing.


Riksa masih terus menjelaskan, dan aku berusaha menyimak dengan baik. Aku juga tidak mau sampai ada kesalahan. Bisa-bisa si lidah tajam itu akan ngomel dan marah-marah padaku nanti.


Ketika pandangan ku masih fokus pada Riksa, seorang wanita cantik dengan HT di tangannya mendekati kami.


"Selamat siang tuan Riksa, apakah ini nona Naira?" tanya wanita itu dengan sopan.


"Benar, dia adalah Naira. Calon istri tuan Samuel. Naira ini adalah Wika, dia adalah sekertaris pribadi ku! dan dia yang mengurus dekorasi dan persiapan gedung ini!" jelas Riksa.


Wika mengulurkan tangannya padaku, dan aku menjabat tangannya sambil mengucapkan nama ku.


"Naira!" ucap ku.


"Senang bertemu dengan anda nona Naira!" ucap Wika.


Ternyata seorang sekertaris seperti Riksa ini juga mempunyai sekertaris pribadi. Aku sedikit terkejut, tapi kurasa bagi mereka ini hal yang lumrah. Pekerjaan Riksa itu kan memang banyak sekali, dan dia pun bekerja tanpa jam kerja yang jelas. Sudah dapat di pastikan jika tidak ada yang membantunya, dia akan kelelahan. Dan aku cukup kagum pada Riksa yang masih tetap waras menghadapi bos tempramen seperti Samuel.


"Tuan, sekarang saya akan memberikan arahan pada nona Naira tentang apa saja yang akan dia lakukan setelah sampai di pelaminan!" ucap Wika dan Riksa langsung menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Aku hanya menatap ke arah mereka bergantian. Aku bisa bayangkan bagaimana wajahku terlihat saat ini. Aku pasti tertawa sendiri jika bisa melihatnya.


"Mari nona, silahkan ikuti saya!" seru Wika.


Dan aku menoleh ke arah Riksa, sama dengan Wika tadi, aku menunggu persetujuan dari Riksa, setelah dia mengangguk. Aku pun mengikuti langkah Wika yang seperti model profesional.


'Wah, semua wanita di sisi Riksa dan si lidah tajam itu cantik-cantik dan tinggi-tinggi. Kenapa tidak memilih salah satunya saja dan menikah dengan salah satu dari mereka ya!' tanya ku dalam hati.


"Saat anda berjalan bersama dengan pendamping anda, pandangan anda harus lurus ke arah depan. Pastikan anda tidak gugup, dan pastikan langkah anda mantap. Jangan gugup, karena jika anda gugup maka anda sudah pasti tidak bisa fokus dan pada saat itu sesuatu yang buruk mungkin saja akan terjadi, anda bisa terkilir dan lebih buruk nya lagi anda bisa terjatuh!" ucap nya lalu menghentikan langkahnya dan melihat ke arah ku.


Aku juga ikut menghentikan langkah kaki ku dan menatap bingung padanya. Sebenarnya dia ini sedang mengarahkan aku dengan benar atau sedang menakuti ku dan membuat aku yang awalnya biasa saja. Sekarang malah semakin was-was dan khawatir jika nanti aku melakukan kesalahan.


"Dan anda tahu bukan, tuan Samuel itu seperti apa? jika anda melakukan kesalahan, maka dia tidak akan pernah mengampuni anda!" ucap nya lalu kembali melihat ke arah depan dan melanjutkan langkah kakinya.


Baiklah, ku tarik kembali perkataan ku tadi yang mengatakan wanita di depan ku ini adalah wanita cantik, baik dan ramah. Apa yang dia katakan benar-benar menjatuhkan keberanian dan rasa percaya diri ku. Kurasa dia ini adalah tipe wanita yang suka ber manis di depan bos nya, dan bersikap tidak baik di belakang.


Dia mengatakan hal yang bahkan membuat nyali ku yang sudah ciut makin ciut lagi. Aku benar-benar tidak suka pada wanita ini.


"Dan ya, nona aku penasaran bagaimana tuan Samuel bisa milih anda sebagai calon istrinya, menurut ku itu seperti menemukan baru kerikil di antara ribuan baru mulia!" ucap nya dengan nada suara sangat arogan.


Fix, wanita ini bermuka dua. Kalau saja ponsel ku ada di tangan ku. Maka aku sudah merekam apa yang dia katakan sejak tadi dan memberikannya pada Riksa. Agar Riksa bisa tahu sifat asli wanita ini sebenarnya.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2