Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
94


__ADS_3

Setelah berada di atas tempat tidur, mataku memang terpejam tapi sangat sulit untuk bisa tertidur. Apa yang di katakan bibi Merry tadi begitu mengganggu ku. Kalimat sederhana itu membuatku terus memikirkan masa depan ku selanjutnya.


Aku tidak berharap sama sekali bisa bersama dengan Samuel selamanya, karena seperti yang di katakan nya dahulu. Aku ini hanya wanita yang berasal dari kelas menengah ke bawah, mana mungkin bisa sepadan dengannya yang berasal dari kelas atas. Persis seperti apa yang dia ucapkan dulu.


Tapi kejadian malam itu dan tadi malam, membuatku sangat takut dan juga sangat sedih dalam saat yang bersamaan.


Aku memilih untuk merubah posisi ku menjadi duduk dan bersandar di sandaran ranjang besar milik Samuel ini.


"Bagaimana kalau benar-benar sampai ada tuan kecil?" gumam ku sambil melihat ke arah perut ku.


Aku tidak naif, aku tahu bisa saja itu terjadi. Aku juga pernah sekolah dan mengerti juga ilmu biologi, bahwa bisa saja hal itu terjadi meski hanya satu kali berhubungan, dan aku dengan Samuel sudah berkali-kali meskipun hanya berlangsung dalam dua malam.


Rasanya aku ingin menangis, seharusnya memang dalam sebuah pernikahan akan lebih lengkap jika di dalamnya hadir sesosok malaikat kecil yang melengkapi kebahagiaan suami dan juga istri. Tapi itu hanya akan terjadi jika sepasang suami istri itu saling mencintai dan juga pasangan itu sama-sama menginginkan buah hati. Tapi aku bahkan ragu kalau Samuel menginginkan anak dariku.


Pada pernikahan ku ini, kasusnya sangat rumit. Aku dan Samuel bahkan sudah tahu kapan kami harus berpisah. Awalnya aku tenang-tenang saja karena Samuel bilang tidak akan pernah menyentuh ku. Tapi baru beberapa hari menikah saja, dia bahkan sudah melakukan nya berkali-kali.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya ku sambil memejamkan mataku dan menyandarkan kepala ku di sandaran tempat tidur.


Aku bingung harus bagaimana, lalu bagaimana kalau benar-benar akan ada tuan kecil. Maka akan bagaimana nanti, bagus kalau Samuel juga mau melepaskan nya agar dia bersama dengan ku, aku pasti akan menjaga dan merawat anak itu semampu ku, dan melindungi nya melebihi nyawaku sendiri. Tapi bagaimana kalau setelah berpisah Samuel mengambilnya dariku, aku pasti akan menyesalinya seumur hidup ku karena tak bisa bersama dengan anak ku sendiri.


Anggap saja aku ini korban sinetron, tapi baru menonton drama seperti itu saja aku sudah menangis bagaimana kalau sampai aku mengalami nya sendiri. Aku tidak akan sanggup hidup jika di pisahkan dari anakku, hanya membayangkan nya saja, rasanya aku benar-benar ingin menangis.


Aku mengusap wajah ku, rasanya benar-benar tidak tenang. Beberapa kali aku menghela nafas dan menghembuskan nya perlahan, aku harus berfikir. Cukup lama aku memikirkan hal ini, dan aku rasa sebaiknya aku mengantisipasi semua ini. Aku mengangguk,


"Benar, aku harus mengantisipasinya!" gumam ku.


Ku ambil ponsel yang ada di atas nakas. Aku mencari di internet obat yang bisa menunda kehamilan. Ada banyak sekali pilihan.


"Ternyata sebanyak ini!" gumam ku. Aku malah semakin bingung dengan hasil dari pencarian yang aku dapatkan.


Aku mencari obat yang di jual di apotek. Aku membaca dengan jelas semua keterangan nya, apa saja efek sampingnya dan berapa kira-kira harganya.


"Ternyata tidak mahal!" gumam ku lagi.

__ADS_1


Ceklek


Aku terkejut saat seseorang membuka pintu, dan yang lebih membuat aku terkejut adalah karena orang itu adalah Samuel. Aku langsung mematikan layar ponsel ku dan meletakkan nya di atas nakas. Aku tidak mau kalau sampai dia tahu apa yang aku lakukan.


"Belum tidur, ini sudah sangat larut!" seru Samuel yang melihat ke arah ku dan ke arah ponsel ku bergantian.


"Em, iya ini mau tidur!" jawab ku gugup lalu dengan cepat berbaring dan menutupi tubuh ku dengan selimut tebal. Aku memiringkan tubuh ku membelakangi Samuel.


Samuel juga naik ke atas ranjang, tapi kemudian dia berkata.


"Naira, jangan pernah tidur memunggungi ku!" seru Samuel.


Aku segera mengubah posisi tidur ku menjadi terlentang menghadap ke atas dan menutupi tubuh ku hingga sebatas leher.


Beberapa saat kemudian aku mendengar dengkuran halus dari arah samping ku, aku menoleh ke arah Samuel. Sejak tadi mataku terpejam, tapi sulit sekali untukku bisa tidur. Aku melihat wajah Samuel, entah kenapa aku merasa kalau sebenarnya dia ini pria yang baik. Dia bahkan setuju dengan gaji yang tidak masuk akal yang aku minta, tapi semakin berfikir dia orang yang baik justru aku merasa akan sangat tidak baik untukku. Karena bagaimanapun kami juga akan berpisah pada waktu yang sudah di tentukan.


***


Alarm yang aku setel pada ponsel ku membuat ku terbangun, tapi bukan aku saja yang terbangun. Orang di sebelah ku juga terbangun dengan wajah kesal melihat ku.


"Kenapa memasang alarm dengan bunyi sekencang itu! apa telinga mu itu tuli?" tanya nya terlihat kesal.


Aku segera mematikan alarm ponsel ku lalu meminta maaf pada Samuel.


"Maaf mas, tidak akan terulang. Besok alarm nya hanya aku yang akan bisa mendengarnya!" ucap pelan.


Dia hanya mendecakkan lidahnya, aku turun dari tempat tidur dan bersiap untuk mandi. Tapi baru berjalan beberapa langkah, Samuel memanggil ku.


"Hei..!" serunya.


Aku menghentikan langkah ku, aku memutar bola mataku, ternyata memang benar dia tidak akan berubah. Dia kembali dengan panggilan lamanya padaku. Tidak mau membuatnya marah, aku langsung menoleh ke arah nya.


"Iya mas!" jawab ku singkat dengan ekspresi wajah datar.

__ADS_1


Memang bisa pasang ekspresi apa lagi, namanya juga orang yang baru bangun tidur.


"Kemari!" panggilnya dengan jari telunjuk yang terbuka dan dia gerakkan maju mundur.


Aku mengernyitkan dahi ku. Tapi aku juga maju perlahan sampai tepi tempat tidur, membuatnya mendengus kesal, seperti nya yang aku lakukan ini belum benar.


"Naik ke mari!" serunya lagi sambil menepuk sisi kasur di sebelahnya.


'Ih, nih orang mau apa sih? repot banget!' aku mulai mengeluh dalam hati karena tidak mengerti dengan apa yang di inginkan oleh Samuel.


Meskipun demikian, aku masih menuruti apa yang dia katakan, aku naik lagi ke atas tempat tidur dan bergerak mendekatinya dengan menggunakan lutut ku.


"Ada apa?" tanya ku setelah berada di tempat yang tadi dia tepuk menggunakan tangannya.


Dia tidak langsung bicara, tapi malah mengikuti posisi ku dan juga berdiri dengan lututnya di atas tempat tidur. Dia mendekatiku dan meletakkan tangan kanannya di belakang kepala ku.


Cup


Kecupan lembut itu mendarat dengan cepat di bibir ku.


Deg


Hanya sekejap, tapi membuat jantungku seakan mencelos.


Benar-benar hanya sekejap dan dia menempelkan keningnya dengan kening ku.


"Apapun yang kamu lihat di pencarian internet di ponsel mu, jangan berfikir untuk membelinya apalagi menggunakan nya!" ucapnya tanpa melepaskan tangannya dari belakang kepala ku.


Deg


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2