
"Kenapa begitu perhatian pada Riksa?" tanya Samuel tiba-tiba padaku setelah aku mendengar suara mobil Riksa pergi menjauh.
Aku melihat ke arah Samuel yang saat sedang bicara bahkan tidak melihat ke arah ku.
"Aku rasa...!"
"Kamu rasa Riksa itu lebih baik daripada aku kan?" tanya Samuel yang berhasil membuat ku tertegun.
'Darimana dia tahu itu, apa dia bisa membaca isi hatiku?' tanya ku dalam hati.
Tapi kalimat itu tidak mungkin aku katakan padanya bukan.
"Kamu baik mas, Riksa juga...!"
"Jangan bersikap seperti itu di depan orang lain. Atau mereka akan mengira aku memaksamu menikah dengan ku!" ucapnya dengan wajah dan suara datar tapi langsung berdiri dari sofa dan langsung meninggalkan aku dan masuk ke dalam kamar.
Aku sampai terbengong-bengong, dia tidak membiarkan aku menyelesaikan apa yang mau aku katakan. Dia bertanya, tapi dia menyimpulkan jawaban nya sendiri.
'Apa maksudnya dia sedang merajuk?' tanya ku dalam hati.
Aku bingung, apa yang membuatnya marah, aku tidak tahu sikapku yang mana yang berlebihan pada Riksa. Aku hanya bisa menghela nafas lagi pada akhirnya, akulah yang tetap disalahkan.
Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku harus membujuk nya dan minta maaf padanya. Aku mengusap wajahku perlahan.
"Ada apa?" tanya ibu yang baru saja keluar dari arah ruang makan.
Ibu duduk si sebuah ku dan mengusap punggung ku dengan lembut. Meski ibu suka mengomel dan suka protes juga paling cerewet, tapi jika terjadi sesuatu padaku, dialah yang selalu berada di belakang ku, memberi dukungan memberi semangat dan ikut menangis kalau aku sedih. Lalu apa aku benar-benar harus bicara pada ibu tentang pernikahan kontrak ku dengan Samuel?
"Nai, cerita sama ibu. Sejak kamu pulang ke rumah wajah mu itu seperti memberitahu ibu kalau kamu itu sedang punya beban yang berat! cerita sama ibu, setidaknya ada orang yang bisa berbagi dengan mu, mungkin akan sedikit berkurang nih, beban disini nih!" ucap ibu sambil memijit-mijit pundak ku membuat ku terkekeh karena merasa geli.
"Ibu, geli!" seru ku lalu memeluk erat ibuku.
__ADS_1
Rasanya aku sungguh ingin menangis dan menceritakan semuanya. Tapi aku tidak tega menghancurkan hati mereka, ayah dan ibuku benar-benar sudah percaya pada Samuel. Ayah dan ibu juga sudah mulai menyayangi Samuel.
"Sudah malam, bukankah besok nak Samuel harus pergi bekerja? sebaiknya temani nak Samuel istirahat. Ibu akan mengunci pintu dan mematikan lampunya!" ucap ibu.
Aku juga langsung mengangguk paham, aku berdiri dan segera masuk ke dalam kamar ku. Lampu kamar masih menyala, tapi Samuel sudah berbaring dan memakai selimut, sekarang kamar ini sudah di pasang AC. Sangat mudah bagi Samuel melakukan itu, hanya tinggal menekan nomer di ponselnya dan semua masalahnya teratasi.
Samuel berbaring membelakangi sisi tempat aku tidur. Aku juga tidak berani mengganggu nya. Aku bahkan tidak berani mematikan lampu. Aku perlahan naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuh ku. Seperti perintah Samuel, aku tidur menghadap ke atas karena Samuel tidak memperbolehkan aku memunggunginya saat tidur.
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit suasana benar-benar hening. Aku pun memutuskan untuk memejamkan mataku dan tidur.
***
Keesokan harinya, aku merasa perut ku kembali di timpa sesuatu yang terasa lumayan berat.
Aku membuka mataku perlahan, dan ternyata benar tangan Samuel yang berada di sana. Aku hanya tersenyum, dan perlahan mengangkat tangan Samuel itu dari perut ku agar aku bisa bangun dan turun dari tempat tidur.
Aku meninggalkan Samuel yang masih tertidur, aku melihat ke arah jam yang ada di dinding kamar. Jam menunjukkan pukul 06.15 menit. Aku ingat kalau semalam Samuel mengatakan ada pertemuan penting dan jam 07.00 pagi Riksa sudah harus menjemput nya.
Aku beralih ke sisi lain tempat tidur, aku berjalan mendekati Samuel dari arah sebelah kirinya. Perlahan aku menggoyangkan lengan Samuel.
Tapi sepertinya semua usaha ku itu percuma. Aku mendekatkan wajahku sedikit berniat bicara di dekat telinganya, karena kalau aku berteriak aku takut akan mengagetkan ayah dan ibu, juga tetangga yang rumahnya tepat di sebelah kamar ku.
"Mas, bangun sudah jam enam lewat!" ucap ku tepat di depan telinga Samuel.
Dan dia masih tidak bereaksi. Aku sampai menggaruk kepala ku sendiri. Aku meraih ponsel ku dan menyetel alarm agar berbunyi.
"Agkh!" pekik Samuel sambil menutup telinga nya dengan bantal.
Aku tertawa tanpa suara melihat tingkah nya yang seperti itu.
"Mas, bangun sudah jam enam lewat. Kamu bilang ada meeting penting!" ucap ku lagi sambil berusaha menarik bantal yang dia pakai untuk menutupi telinganya dari suara alarm di ponsel ku.
__ADS_1
"Naira! hentikan!" pekik ya lagi lalu memposisikan dirinya duduk sambil mengacak-acak rambut nya. Sepertinya dia terlihat kesal.
Aku langsung mematikan alarm yang berbunyi dari ponsel ku dan meletakkan ponsel itu dia atas meja lagi.
"Maaf mas, tapi tadi aku sudah berusaha membangunkan mu dengan cara lain. Tapi kamu tidak bangun-bangun!" jelas ku dengan suara pelan.
"Cara lain apa?" tanya nya dengan tatapan tajam dan suara ketus.
"Menggoyangkan lengan mu dan bicara di depan telinga mu!" jawab ku cepat.
"Ck ... siapa juga yang akan bangun dengan cara seperti itu!" omelnya lalu berjalan menuju pintu kamar.
"Siapkan pakaian kantor, jangan hitam putih. Lalu antarkan handuk ke kamar mandi sepuluh menit lagi!" perintahnya lalu keluar dari dalam kamar.
Aku mengerjap lagi, tapi juga terkekeh. Aku senang karena dia sudah tidak merajuk. Tanpa menunggu lagi, aku langsung mengambil handuk bersih dari dalam lemari. Lalu menyiapkan pakaian kantor, warna abu-abu aku pilih, aku rasa dia akan tampan sekali saat memakai nya.
Aku meletakkan pakaian kantor itu di atas tempat tidur yang telah aku bereskan. Lalu membawa handuk keluar dari dalam kamar. Saat aku keluar aku melihat ibu sedang sibuk menyiapkan makanan di dapur.
"Pagi Bu!" sapa ku pada ibu dan langsung duduk di kursi di dekatnya.
"Pagi Nai, itu nak Samuel lagi mandi. Ibu takut dia gak nyaman deh Nai karena kamar mandinya diluar begini, dia ngeluh gak?" tanya ibu yang sepertinya sangat memperdulikan kenyamanan Samuel.
Aku langsung menggelengkan kepalaku cepat.
"Sukur deh kalau gitu, ini ibu buat nasi goreng. Ibu langsung berangkat ya ke sekolah bareng Ibras. Kamu gak kemana-mana kan?" tanya ibu dan aku kembali menggelengkan kepalaku.
"Ya sudah, ibu titip ayah ya!" seru ibu.
"Siap Bu!" jawab ku sambil menunjukkan sikap hormat seperti saat siswa hormat pada bendera yang sedang di kibarkan.
"Ibu kira kamu mau geleng-geleng lagi!" ucap ibu sambil terkekeh.
__ADS_1
***
Bersambung...