Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
311


__ADS_3

Begitu mendengar apa yang terjadi pada istrinya, Samuel langsung meninggalkan semua pekerjaan nya dan langsung bergegas keluar dari dalam ruangannya menuju ke arah lift khususnya.


Karena sangat terburu-buru dia tidak sengaja menabrak Ema yang kebetulan akan menuju ke ruang kerja Samuel.


Brukk


"Maaf Sam, aku tidak... !"


Tapi Samuel tidak menghiraukan permintaan maaf dari Ema dan langsung masuk ke dalam pintu lift yang sudah terbuka.


Ema terlihat mengepalkan tangannya kesal karena Samuel malah terus mengacuhkan dirinya.


Samuel langsung menghubungi pak Urip yang memang sedang menunggu di mobilnya. Setelah pak Urip tiba di depan perusahaan, Samuel langsung bergegas masuk ke dalam mobil.


"Pak Urip, cepat ke jalan dekat tol. Naira dalam masalah!" seru Samuel.


Begitu mendengar perintah dari Samuel dan mendengar kalau Naira dalam masalah, pak Urip langsung memacu laju mobilnya dengan sangat cepat meninggalkan kantor dan langsung menuju ke jalan dekat tol.


'Naira, tunggu aku sebentar sayang, tunggu sebentar lagi!' batin Samuel begitu cemas.


Sementara itu, para preman tadi sudah membuat Budi pingsan dan babak belur. Bibi Merry bahkan juga sudah menerima pukulan di pipi kanannya karena berusaha mencegah para preman itu mendekati Naira.


Keributan sudah terjadi, Naira berteriak meminta tolong, tapi jalanan begitu sepi. Naira terus menghindar ketika salah seorang preman yang memakai ikat kepala itu berusaha mendekatinya.


"Tolong... tolong...!" teriak Naira.


"Ha ha ha berteriak lah cantik, tidak akan ada yang menolong mu!" kekeh pria itu dengan pandangan mata yang semakin membuat Naira ketakutan. Karena dia melihat Naira seperti seekor serigala yang sedang kelaparan.


Saat Naira berusaha berlari, dia terjatuh. Pria itu langsung bergegas menghampiri Naira dan saat akan menyentuh tangan Naira tiba-tiba.


"Naira!" teriak seseorang yang keluar dari dalam mobilnya dengan cepat.


Naira dan juga preman yang akan menangkapnya tadi menoleh ke arah sumber suara.


'Teddy!' batin Naira.


Teddy dan beberapa dua orang yang bersamanya langsung menghampiri Naira, dan ketika para preman itu menghadang Teddy dan anak buahnya langsung menghajar mereka semua. Para preman dan juga Teddy serta dua asisten nya terlibat perkelahian yang cukup keras dan ekstrim. Karena mereka bahkan menggunakan kayu dan batu yang mereka jumpai di tempat itu.


Bibi Merry yang sudah mengalami luka di wajahnya segera berusaha bangun, berdiri dan bergegas menghampiri Naira yang masih terduduk di aspal.


"Nyonya muda, nyonya muda tidak apa-apa?" tanya bibi Merry.

__ADS_1


Naira yang sudah berderai air mata langsung memeluk bibi Merry. Tangan dan kakinya sudah gemetaran, dia tidak tahu bagaimana kalau sampai para preman itu berhasil menangkap nya.


Para preman itu babak belur, tapi Teddy dan dua asisten nya juga tak kalah babak belur. Sampai akhirnya para preman itu memilih pergi ketika salah seorang dari mereka sudah pingsan dan tak sadarkan diri.


Teddy yang juga sudah babak belur dan beberapa luka di wajah dan badannya segera menghampiri Naira yang masih terduduk dan belum bisa bangun. Dia sangat syok.


"Naira, kamu tidak apa-apa?" tanya Teddy.


Naira bahkan tidak bisa mengeluarkan suara dari mulutnya, dia terlalu syok.


"Akh... aduh perut ku, Akh!" pekik Naira sambil memegangi perutnya.


Bibi Merry langsung panik.


"Tuan, tuan tolong bawa nyonya muda ku ke rumah sakit. Tolong tuan!" seru bibi Merry pada Teddy.


Dengan cepat Teddy langsung menggendong Naira dan membawanya masuk ke dalam mobil Teddy.


"Kalian tolong bantu supir itu!" seru Teddy pada asisten nya untuk membantu Budi yang sudah tidak sadarkan diri.


Teddy lalu mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju ke rumah sakit terdekat karena Naira terus menangis dan merintih kesakitan sambil terus memegangi perutnya.


Bibi Merry juga sampai ikut menangis sambil memegang erat tangan Naira yang terus menggenggam nya dengan erat seperti sedang menahan sakit yang luar biasa.


"Tunggu, ini supir ku. Kalian mau bawa dia kemana?" tanya Samuel cepat.


"Tuan, tadi ada beberapa preman menyerang supir tuan ini juga dua orang wanita, untung kami dan bos kami lewat...!"


"Dimana dua wanita yang bersama dengannya?" tanya Samuel menyela ucapan salah seorang pria yang juga sudah banyak luka di badannya.


"Bos kamu membawanya ke rumah sakit, wanita yang muda menangis dan merintih kesakitan sambil memegangi perutnya!" jawab pria itu.


Samuel langsung mengusap kepalanya gusar.


"Ya Tuhan Naira!" seru Samuel.


Samuel dan pak Urip lalu segera kembali ke mobil dan meminta tolong pada dua orang itu untuk mengurus Budi.


Sambil mencari rumah sakit terdekat, Samuel terus berusaha menghubungi Naira.


"Halo tuan...!" seru bibi Merry yang terdengar sambil terisak.

__ADS_1


"Bibi Merry kalian dimana? bagaimana Naira?" tanya Samuel dengan cepat.


"Tuan, nyonya muda tuan... dia pingsan saat kami akan ke rumah sakit. Sekarang ada di ruang UGD tuan!" jawab bibi Merry dengan suara yang bergetar.


"Di rumah sakit mana Bi?" tanya Samuel cepat.


"RS. Soewondo tuan!" jawab bibi Merry.


Samuel langsung mematikan ponselnya.


"Pak Urip ke rumah sakit Soewondo, cepat pak Urip!" seru Samuel yang matanya sudah berkaca-kaca.


Samuel menyatukan kedua telapak tangannya dan terus berdoa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


'Ya Tuhan, tolong istri dan anak ku ya Tuhan. Aku mohon!' batin Samuel sambil terus berdoa.


Pak Urip melakukan mobilnya dengan sangat cepat. Hingga beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di rumah sakit Soewondo. Samuel langsung keluar dari mobil dan berlari ke arah pusat informasi.


"Suster, dimana ruang UGD?" tanya Samuel cepat.


"Di sebelah sana tuan, belok kiri lurus saja...!" ucap salah seorang wanita berpakaian suster.


Belum selesai suster itu memberitahukan pada Samuel. Samuel sudah langsung berlari ke arah yang di tunjukkan oleh suster itu.


Bibi Merry yang melihat Samuel berlari ke arahnya, langsung berdiri dan menghampiri Samuel.


"Tuan... nyonya masih di dalam!" ucap bibi Merry sambil terus menangis.


Samuel langsung ke arah pintu ruang UGD itu dan memejamkan matanya hingga membuat air mata yang sejak tadi sudah menggenang di pelupuk matanya tumpah.


"Maafkan aku sayang, aku terlambat datang. Maafkan aku!" lirih Samuel.


"Bibi, ini minumlah dulu!" ucap sebuah suara yang cukup familiar di telinga Samuel.


Samuel langsung berbalik dan langsung menghampiri Teddy yang sedang memberikan sebotol minuman pada bibi Merry.


"Kamu, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Samuel dengan nada ketus sambil mencengkeram kerah baju Teddy.


"Tuan, tunggu tuan. Tuan inilah yang menolong kami, dia yang membawa nyonya muda ke rumah sakit!" jelas bibi Merry membuat Samuel mengeraskan rahangnya tapi melepaskan tangannya dari kerah baju Teddy.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2