
Aku dan Riksa masih menunggu Samuel di ruangan nya, maksudnya di ruangan ku juga. Aku bolehkan menyebutnya seperti itu karena meja kerja ku ada disini.
Aku duduk di kursi ku dan Riksa menjelaskan tentang jadwal Samuel hari ini.
"Banyak sekali, yang terakhir saja jam sembilan malam nanti baru mulai, lalu kalian akan pulang jam berapa?" tanya ku pada Riksa.
Ternyata selama ini yang aku dengar dari ibu-ibu komplek itu benar, kalau nikah sama pengusaha sukses dan super sibuk pasti akan sering-sering di tinggal karena mereka akan selalu sibuk.
Riksa mengangkat bahu nya sekilas,
"Tergantung, kalau pembicaraan dengan klien berlangsung lancar tanpa kendala, biasanya sekitar satu atau dua jam saja meeting akan selesai, tapi kalau pembicaraan berlangsung alot maka bisa lebih lama dari itu!" jelas Riksa.
Aku mengangguk paham.
"Apa nanti aku juga harus ikut? itu sangat malam, akan aku katakan kalau aku ini rabun ayam, kalau lewat jam tujuh malam, pandangan mataku sedikit kabur!" ucap ku pada Riksa.
Aku tidak sedang berbohong hanya untuk menghindari pekerjaan, tapi apa yang aku katakan itu adalah kebenaran, aku memang rabun ayam.
Riksa berpikir sebentar.
"Benarkah Naira, memang ada ya rabun seperti itu?" tanya nya seperti nya tidak mendengar istilah itu.
"Iya benar, kalau siang hari aku bisa melihat dengan jelas, tapi kalau menjelang malam akan sedikit kabur gitu!" jelas ku.
Riksa terlihat meraih ponsel dari saku jasnya, seperti nya dia tertarik dengan apa yang aku katakan. Sepertinya dia sedang mencari tentang rabun ayam di internet. Sungguh seorang yang sangat logis.
"Naira mungkin yang kamu maksud rabun senja ya, karena tidak di temukan tentang rabun ayam?" tanya Riksa sambil menatap bingung ke arah ku.
Aku tidak menyangka Riksa benar-benar perduli masalah itu.
"Begitu ya, lalu apa yang kamu dapatkan tentang rabun senja?" tanya ku pada Riksa.
Aku juga cukup penasaran, apa yang di ada di internet tentang rabun senja.
__ADS_1
Riksa lalu kembali pada layar ponselnya.
"Rabun senja atau nyctalopia adalah gangguan mata yang menyebabkan penderitanya kesulitan melihat pada malam hari atau saat berada di tempat yang gelap. Rabun senja bukanlah penyakit, melainkan gejala yang disebabkan oleh penyakit tertentu. Rabun senja dapat disebabkan oleh kekurangan vitamin A atau penyakit lain, seperti katarak, rabun jauh, atau glaukoma." jelas Riksa panjang lebar.
Setelah membaca apa yang dia temukan di internet. Riksa terlihat menghela nafasnya lega.
"Untunglah ini tidak parah, kamu harus banyak minum vitamin A. Aku akan meminta Dina membelikan mu vitamin A di apotek!" ujar Riksa.
"Tidak usah Riksa, aku bisa beli sendiri nanti." ucap ku pada Riksa. Aku rasa kalau hanya hal seperti itu tidak perlu merepotkan Dina yang punya banyak sekali pekerjaan.
Riksa mengangguk paham.
"Baiklah!" ucap Riksa sambil melihat ke arah pintu.
"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan Nai, apa kamu benar-benar baik-baik saja?" tanya Riksa membuat ku tertegun.
Tapi tak ingin membuatnya cemas, aku mengangguk dengan cepat.
Ketika kami sedang mengobrol, ponsel Riksa berdering dan seperti nya itu telepon dari Samuel.
Riksa sedikit menjauh saat menerima panggilan telepon itu, setelah selesai baru dia kembali menghampiri ku.
"Nai, bos menunggu kita makan siang di restoran di bawah!" seru Riksa.
"Di bawah ada restoran?" tanya ku takjub bahwa di perusahaan ini punya restoran juga.
"Ada, dan tak kalah dengan masakan di hotel bintang lima, ayo!" ajak Riksa.
Aku langsung berdiri dan mengikuti Riksa keluar dari ruangan Samuel. Kami berjalan menuju lift, pintu lift terbuka aku dan Riksa masuk ke dalam lift kemudian Riksa menekan tombol dengan angka 5. Itu artinya restoran nya mungkin saja ada di sana.
Tapi ketika sampai di lantai 10 pintu lift terbuka, dan Dina yang berdiri di depan pintu.
"Hai Dina!" sapa ku pada Dina.
__ADS_1
"Hai nyonya bos, Riksa. Kalian mau kemana?" tanya Dina ramah pada kami berdua sambil masuk ke dalam lift.
Dina berdiri tepat di samping ku.
"Kami mau makan siang, kamu darimana?" tanya ku pada Dina setelah menjawab pertanyaan nya.
"Kalian tahu bos kenapa lagi sih, aku lelah sekali sejak tadi aku disuruh bolak-balik ke lantai dua dan sepuluh memastikan kalau jadwal pertemuan dan reservasi hotel juga restoran untuk tuan Rizaldi di batalkan, bagaimana mungkin bisa semudah itu!" kelihatan sekali kalau Dina mengalami kesulitan saat mengerjakan perintah Samuel.
Riksa hanya terdiam, tapi dia tidak hanya diam saja, dia lebih terlihat berpikir.
"Aku tidak tahu itu, tapi aku akan coba membantu mu!" sahut Riksa setelah beberapa saat.
Mata Dina berbinar, dia terlihat seperti sedang merasa lega karena sebuah beban berat telah lenyap dari bahunya.
"Benarkah, Riksa kamu memang rekan kerja yang terbaik!" ucap Riksa senang.
Aku hanya diam memperhatikan mereka, karena aku tidak mengerti kenapa Samuel bersikeras berusaha untuk membatalkan proyek kerjasama nya dengan tuan Rizaldi padahal sebelumnya Dina menjelaskan bahwa proyek kerjasama ini sangat penting.
Ting
Pintu lift terbuka, dan kami saat ini berada di lantai lima. Aku dan Riksa keluar dari dalam lift setelah sebelumnya menawarkan kepada Dina untuk mengajaknya bergabung dengan kami untuk makan siang di restoran. Tapi Dina menolak nya dengan halus, karena dia bilang dia benar-benar sedang dalam pekerjaan yang banyak, Dina sangat sibuk sekali.
Aku dan Riksa berjalan menuju ke arah restoran. Saat kaki masuk ke dalamnya, restoran ini memang terlihat tak kalah dengan restoran bintang lima. Riksa tidak perlu melihat sekeliling untuk menemukan Samuel, karena sepertinya dia sudah hafal betul dimana Samuel sedang menunggu nya.
Di sebuah meja dekat dinding kaca yang menyajikan pemandangan yang ada di luar gedung ini. Samuel terlihat sedang duduk di sebuah kursi yang bagus. Tapi aku cukup terkejut meskipun tidak sampai menghentikan langkah ku ketika melihat kalau di sana Samuel tidak sedang duduk sendiri. Seorang wanita bahkan sedang duduk cukup dekat dengannya dengan gestur tubuh yang terus di condong kan ke arah Samuel.
Riksa terus menoleh ke arah ku, seperti nya dia mencemaskan ku. Mungkin dia berfikir kalau mungkin saja aku akan merasa tidak enak atau bahkan sedih melihat hal itu. Tapi untuk mengusir semua dugaan Riksa itu, aku memilih untuk tetap tersenyum saat Riksa melihat ke arah ku. Riksa mengernyitkan dahi nya dan menghentikan langkahnya.
"Kalau kamu mau, kita bisa memberi alasan pada bos agar tidak perlu ke sana?" tanya Riksa yang jelas merasa khawatir padaku.
***
Bersambung...
__ADS_1