Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
12


__ADS_3

Ayah dan ibu terlihat begitu terbawa pada cerita yang di katakan oleh Samuel. Ibu bahkan nampak terus tersenyum padanya ketika dia terus mengarang bebas tentang bagaimana kami bertemu, bagaimana dirinya menyatakan perasaan nya padaku, padahal kan itu tidak pernah terjadi sama sekali. Yang ada dia selalu bicara kasar dan membuat ku spot jantung.


"Tapi saya merasa harus memberitahukan hal ini pada ayah dan ibu, karena ayah dan ibu saya juga sangat menyukai Naira. Apalagi keadaan kakek yang semakin lama..." dia menunduk kan kepalanya dan menjeda kalimat nya. Dia seperti nya sedang memancing simpati dari ayah dan juga ibu.


"Sabar ya nak Samuel, ibu berdoa agar kakek nak Samuel bisa sembuh dan juga sehat lagi seperti sediakala!" ucap ibu dengan lembut.


Samuel mengangkat kepalanya dan tersenyum pada ayah dan ibu ku.


"Jadi apakah lamaran ku ini? kalian menyetujui nya?" tanya Samuel kemudian.


Ayah terlihat masih berfikir, tapi ibuku langsung menggenggam tangan ayah dan melihat ke arahnya. Ayah lalu mengangguk paham dan tersenyum.


Ayah seolah mengerti apa yang di katakan oleh ibu dan ibu pun sebaliknya, hanya dengan saling memandang mereka bisa tahu apa yang ingin mereka sampaikan pada satu sama lain. Mereka sungguh saling mencintai dan mengerti, aku menoleh ke arah si lidah tajam.


'Huh, tidak mungkin dia bisa seperti ayah!' batin ku.


Padahal, aku ini sejak dulu selalu punya impian jika aku jatuh cinta dan menikah aku ingin pria itu sebaik ayah, yang sangat mencintai ibu dan juga kami. Lelaki yang bisa melindungi ku dan membuat ku merasa aman dan tenang saat bersamanya. Walaupun hanya pernikahan kontrak tapi kurasa aku tidak akan pernah mendapatkan ketenangan bersama si lidah tajam itu.


"Apakah kami bisa bicara dengan dengan Orang tua nak Samuel?" tanya ayah.


Samuel segera menoleh ke arah Riksa. Dan sekertaris pribadi nya itu seperti nya sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomer seseorang.


"Halo!" terdengar suara seorang wanita disana.


Panggilan itu panggilan video dan Riksa mengarahkan kameranya ke kami semua sebelum memberikan ponsel itu pada Samuel.


"Ibu, aku sedang berada di rumah Naira. Ayah dan ibu Naira ingin bicara pada ayah dan juga ibu!" seru Samuel langsung pada intinya.


'Dia bahkan bicara seperti itu pada ibunya, tanpa basa-basi sama sekali! mentang-mentang sudah bisa menghasilkan uang sendiri!' batin ku lagi.


Samuel meletakkan ponselnya di atas meja, menghadap ke arah ayah dan ibuku.

__ADS_1


"Selamat malam, bapak dan ibu..." ibunya Samuel menjeda kalimat nya.


"Saya Rama nyonya, dan ini istri saya Anisa!" ucap ayah ku memperkenalkan dirinya.


"Selamat malam, nyonya!" tambah ibu ku.


"Senang sekali bisa bicara pada kalian, saya Stella, ibu nya Samuel. Maaf karena dia melamar putri kalian dengan cara seperti ini dan dengan mendadak seperti ini. Apalagi mereka baru berhubungan selama empat bulan, tapi kakeknya Samuel sedang dalam kondisi yang tidak baik. Dan keinginan terbesarnya adalah bisa melihat pernikahan Samuel sebelum...!" ibu Samuel menjeda kalimatnya.


"Saya berharap kalian tidak tersinggung, karena dia melamar Naira juga tidak kami dampingi, kami masih berada di rumah sakit sekarang!" jelas Ibu Samuel.


"Kami mengerti nyonya.."


Namun sebelum ayah ku selesai bicara, ibu Samuel menyelanya.


"Tolong jangan panggil nyonya pak Rama, kita kan akan menjadi satu keluarga. Panggil saja seperti aku memanggil kalian!" seru nya lagi.


"Tapi kami ingin menyampaikan ini sebelum menyetujui lamaran nak Samuel. Kami bukan lah orang yang punya kedudukan seperti kalian, saya hanya seorang penjaga sekolah dan istri saya hanya seorang penjaga kantin di sekolah yang sama, dan Naira...!"


"Putri kami ini tidak mempunyai pendidikan yang tinggi, dia hanya lulusan SMA dan bekerja di sebuah toko buku yang tidak besar!" dan ayah kembali melihat ke layar ponsel yang ada di depannya.


Ibuku merangkul lengan ayah, dia sama cemasnya dengan ayah seperti nya.


"Kenapa bicara seperti itu pak Rama, saya dan keluarga tidak pernah membedakan orang menurut kasta dan status, atau semacamnya. Samuel mencintai Naira, dan Riksa mengatakan Naira adalah gadis yang baik. Jika mereka saling mencintai itu sudah cukup untuk saya pak Rama. Yang saya inginkan hanya gadis yang baik dan mencintai Samuel dengan tulus. Itu cukup. Jadi saya mohon jangan bicara seperti itu. Kita sama saja pak Rama, Bu Anisa." jelas Ibu Stella panjang lebar.


Dan apa yang dikatakan oleh ibu Stella itu mampu mengembangkan sebuah senyuman di bibir ibu ku. Aku bahkan ikut tersenyum, aku tidak tahu kenapa, tapi kurasa ibu nya Samuel ini sangat baik dan juga tulus.


"Baiklah kalau begitu. Saya dan istri saya menyetujui pernikahan ini!" ucap ayah.


"Terimakasih pak Rama, saya dan suami saya akan segera mengurus kepulangan kami agar bisa menghadiri pernikahan Samuel dan Naira, maaf pak Rama. Apa saya bisa bicara pada Naira?" tanya ibu Stella.


Samuel lalu melihat ke arah ayah, seolah meminta ijin padanya untuk mengambil ponsel yang ada di atas meja. Ayah mengangguk dan Samuel segera meraih ponsel nya dan memberikan nya padaku.

__ADS_1


"Ini, bicaralah pada ibu!" seru Samuel dengan suara lembut.


Aku meraih ponsel itu, aku terkesiap. Ibu Samuel sangat cantik, dia masih terlihat sangat muda, padahal anaknya sudah setua Samuel.


"Selamat malam nyo.. em ibu!" ucap ku gugup.


Ibu Stella hanya tersenyum, seperti nya dia sedang memperhatikan aku.


"Malam Naira, apakah beberapa bulan ini anak nakal itu selalu merepotkan mu dan menyusahkan mu?" tanya ibu Stella.


Aku tersenyum kikuk, bagaimana bisa seperti itu. Aku baru bertemu dengannya hari ini.


"Tidak Bu, dia tidak seperti itu!" jawab ku kikuk.


Dan saat ibu Stella akan bicara lagi, seorang perawat memanggilnya.


"Maaf Naira, seperti nya ibu harus pergi dulu. Nanti saat ini pulang ke Indonesia. Ibu akan bicara sangat lama padamu, kita akan begadang, ibu ingin mendengar banyak hal tentang mu!" seru nya terburu-buru.


"Iya!" jawab ku singkat.


"Berikan ponselnya pada Samuel nak!" seru ibu Stella dan aku segera melakukan nya.


"Iya Bu!" sahut Samuel.


"Baiklah Samuel, urus segalanya. Ibu sangat menyukai Naira dan keluarga nya!" ucap ibu Stella dan kami masih bisa mendengar nya.


Aku jadi merasa sangat bersalah, aku harus membohongi ayah dan ibuku, juga ibu Samuel yang begitu baik dan tulus itu.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2